Senin, 04 Agustus 2014

Mengapa Daendles tidak membuat jalan Anyer-Panarukan lewat Pantura

Dalam menghadapi invasi inggris ke pulau jawa, gubernur jenderal Daendles mempersiapkan dengan membuat jalan dari Anyer sampai Panarukan dengan maksud agar akomodasi darat lebih mudah. Pembuatan jalan itu di mulai dari Barat pulau jawa yaitu Anyer, sebuah kecamatan di wilayah Serang, Banten, sampai dengan Panarukan di Banyuwangi /Jawa Timur dibuat tahun 1809 sampai tahun 1810 sepanjang 1000 km.

Adapun rute pembuatan jalan itu adalah anyer, cilegon, serang, tangerang, jakarta, bogor, puncak, cianjur, bandung, sumedang, kadipaten, cirebon, dst. Dalam sejarah sumedang ditulis bahwa Pangeran Kornel sempat menolak pembuatan jalan, hal itu diabadikan dengan tugu di cadas pangeran. Yang menjadi pertanyaan kenapa Daendles tidak membuat jalan lewat pantura yaitu dari jakarta, ke bekasi, karawang, subang, indramayu, cirebon ?, padahal secara geografis keadaan alamnya lebih mudah dibuat jalan karena tanahnya datar, tidak banyak belokan, dll. Daendles lebih memilih jalur selatan yang keadaan geografisnya lebih sulit, dimana banyak sekali tanjakan, dan belokan karena daerah pegunungan.

Daerah pantura terkenal dengan rawan kejahatannya dari bajing luncat sampai perampokan, hal ini yang dikhawatirkan Daendles, karena pembuatan jalan ini harus diselesaikan dalam waktu yang singkat, sementara gangguan keamanan wilayah pantura tidak akan dipadamkan dalam waktu yang singkat. Salah satu kelompok rampok yang terkenal adalah Golek Merah kelompok ini beraksi antara wilayah bekasi sampai cirebon, basisnya adalah karawang sampai subang, kelompok ini bukan hanya lihai dan sadis dalam melakukan aksinya, tetapi juga terkenal dengan kedigjayaan dan kesaktiannya, pernah salah satu orang dari kelompok ini tertangkap lalu dibunuh dengan cara kejam dengan cara dicincang, baik oleh aparat keamanan setempat ataupun masyarakat, kemudian apa yang terjadi ?, ternyata orang yang telah mati dengan cara dicincang itu dapat hidup kembali, aneh bin ajaib.

Berbagai jenis kejahatan yang tidak ada di wilayah lain tetapi wilayah ini ada, seperti istilah kesenian yang populer di willayah ini semacam tarian/jaipongan bernama BAJIDOR, yang dalam sebagian orang diartikan Barisan Jalma Doraka (Barisan Jalma Durhaka), sudah puluhan tahun atau mungkin ratusan tahun pihak belanda yang angkatan perangnya terkenal bisa memadamkan pemberontakan kaum Padri di Sumatra Barat, Aceh, ataupun Sultan Hasanudin di Makasar, tidak bisa menumpas kejahatan di wilayah ini. Hal ini yang membuat Daendles tidak membuat jalan melewati Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu daripada mendapat gangguan para bajingan ini, Daendels lebih suka memilih jalan yang tingkat kesulitannya lebih tinggi di daerah pegununungan yang bukan hanya banyak belokan, tanjakan, ataupun batu karang tetapi juga dengan biaya yang lebih besar.

Diawali dengan penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengas Dengklok, yang merupakan basis warga PS/Partisan Siliwangi, ketika negeri ini akan dilahirkan di bulan suci Ramadan hari jum'at tanggal 17 Agustus 1945, timbul pertanyaan kenapa harus diasingkan ke Rengas Denglok, sebuah daerah terpencil saat itu yang dikenal daerah gersang ?. Lebih jelas lagi ketika pecah perang kemerdekaan wilayah Bekasi Karawang Subang/Purwakarta merupakan medan pertempuran heroik yang terkenal. Bahkan banyak pejuang RI yang terdesak dari Jakarta seperti Lukas Kustaryo dari TNI, Haji Darip Klender, KH Nur Ali Kalimalang, dll bersembumyi di Purwakarta. Tidak salah lagi wiliyah ini merupakan basis perjuangan TNI, yang dibantu oleh masyarakat setempat. Walaupun Belanda dengan membonceng NICA yang terkenal dengan pasukan GURKA berhasil menghancurkan wilayah Bekasi sampai Karawang, tetapi mereka tidak berhasil menangkap para pejuang baik dari TNI ataupun sipil.

Berbicara tentang TNI yang berjuang di wilayah Pasundan ketika kancah perang revolusi sudah bisa dipastikan Divisi Siliwangi-lah nama pasukan itu, sebutlah seperti para tokoh seperti Jendral Didi Kartasasmita yang pada saat long march pangkatnya lebih tinggi daripada Jendral Nasution ataupun Jendral Sudirman, Brigjen Sadikin yang pensiun dini tahun 1950-an beliau yang menumpas pemberontakan PKI Madiun, bahkan dalam buku biografi Presiden Soeharto, Brigjen Sadikin-lah yang menyelamatkan Soeharto ketika ditangkap oleh pasukan TNI karena disangka terlibat pemberontakan Madiun. Tokoh lain dari Divisi Siliwangi adalah Jendral Mursid yang merupakan Wakasad dan diplomat Philipina ketika jaman Soekarno, Jendral Darsono mantan Pamgdam Wirabuana, dan banyak lagi yang tidak bisa ditulis satu persatu. Dan perlu diketahui semua tokoh Siliwangi yang kami sebut tadi adalah warga tulen paguron PS/Partisan Siliwangi. Diluar dari TNI banyak juga laskar rakyat seperti hisbullah, PS/Partisan Siliwangi yang pada saat itu masih bernama PS/Penjtak Silat yang pada akhirnya laskar PS ini direkrut oleh Divisi Siliwangi bukan hanya dalam medan pertempuran tetapi juga diikutsertakan long march ke Jogyakarta.

Dalam menghadang pasukan GURKA yang merupakan tulang punggung kekuatan NICA/ Belanda, di wilayah Pantura ada sekelompok orang membuat moral pasukan NICA jatuh, mereka bukan hanya berani di medan tempur tetapi juga memiliki keterampilan perang melebihi militer, padahal mereka tidak pernah mendapat didikan militer, uniknya dari kelompok ini adalah banyak diantara mereka yang merupakan kelompok Golek Merah yang sering membuat keonaran di masyarakat, sebelumnya berbagai macam kejahatan telah mereka lakukan dari perjudian, pelacuran, pembunuhan, perampokan, dsb. Ada kejadian yang menunjukkan bahwa mereka itu sebelumnya jauh dari pendidikan agama yaitu, suatu saat mereka itu diperintah membaca solawat, kemudian apa yang terjadi ?, mereka bukannya membaca solawat seperti diperintah agama dengan membaca “Allahumma shalii ala..........” tetapi mereka membaca solawat, solawat.......dst, sudah dapat dipastikan banyak juga diantara mereka yang tidak bisa melakukan shalat, bahkan ketika bulan suci ramadan banyak diantara mereka yang tidak melakukan puasa.

Tetapi fakta di lapangan menyebutkan bahwa para bajingan yang sering membuat onar di masyarakat dan jauh dari pendidikan agama itulah yang banyak berperan menghadang tentara Sekutu, NICA yang diboncengi Belanda, mereka berjuang tanpa pamrih, keterampilan berperang mereka melebihi pasukan militer khusus, padahal mereka tidak pernah mendapat pendidikan militer. Disamping itu background moral mereka sebelumnya dikenal kurang baik, dikhawatirkan akan membuat keonaran tidak berbekas sama sekali. Hal ini dibuktikan dengan direkrutnya kelompok ini oleh petinggi Divisi Siliwangi dalam beberapa medan pertempuran dan bahkan ikut long march ke Jogyakarta. Pertanyaannya kenapa bisa moral mereka yang dikenal sebelumnya tidak baik bisa berubah 180 derajat ?, jawabannya tidak ada yang tidak mungkin terjadi bagi Tuhan, jika Tuhan telah berkehendak semua bisa terjadi termasuk melunakan hati manusia yang lebih keras daripada cadas ataupun baja, membuat dingin hati yang lebih panas daripada api.

Itulah hijrah sebenarnya yang diajarkan oleh Nabi bukan hanya pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik tetapi hijrah daripada perbuatan yang tidak baik ke perbuatan yang lebih baik, itulah mereka anggota PS/Partisan Siliwangi telah melakukan hijrah secara fisik dan spiritual, hijrah fisik mereka telah melakukan dari jawa barat ke jogyakarta dengan melakukan long march karena ketaatan mereka kepada pemimpin negara, agama, hijrah spiritual dengan merubah perilaku tidak baik ke perilaku yang lebih baik.

Sejarah menulis hijrah yang dilakukan warga PS/Partisan Siliwangi ada beberapa kali, diantaranya setelah perang kemerdekaan selesai, mereka yang berjumlah kurang lebih 20 ribu orang, bertrasmigrasi ke lampung dengan membuka hutan belantara atas restu Presiden Soekarno dibantu BRN (Badan Rekonstruksi Nasional) pimpinan Jendral Didi Kartasasmita tahun 1950, mereka menjadi petani kopi, lada, karet, nelayan dll di lampung. Seperti diketahui Lampung adalah salah satu sentral kopi/lada/karet di Indonesia, sebagian besar dari mereka itu dimiliki warga paguron PS/Partisan Siliwangi, artinya secara ekonomi penghasilan mereka melebihi dari kecukupan, hal ini dibuktikan dengan mahalnya harga tanah di Lampung Barat yang merupakan basis warga PS/Partisan Siliwangi (80% warga lampung barat adalah warga paguron PS/Partisan Siliwangi), selain itu data statistik menyebut bahwa peredaran uang paling besar dan cepat di propinsii lampung ada di kab Lampung Barat yang merupakan basis warga paguron PS/ Partisan Siliwangi.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah warga paguron PS/Partisan Siliwangi telah melakukan hijrah 3 jenis :

  1. Hijrah dari tempat asal mereka di Jawa Barat ke Jogyakarta ketika pecah perang kemerdekaan, long march, kemudian hijrah ke lampung setelah perang kemerdekaan sampat saat ini.
  2. Hijrah dari ekonomi/penghasilan yang biasa/kurang baik ke ekonomi/penghasilan yang lebih baik karena kopi dari warga paguron PS/Partisan Siliwangi banyak diekspor ke luar negeri, disamping harga lada yang tinggi, juga karet.
  3. Hijrah dari perilaku yang kurang baik ke perilaku yang lebih baik hal ini dibuktikan dengan berubahnya perilaku warga paguron PS/Partisan Siliwangi dari yang tidak mengenal agama menjadi lebih religius dalam beragama.
  4. Tiga Point di atas tidak mungkin terlaksana tanpa adanya kepatuhan, ketaatan kepada pemimpin mereka, artinya setiap warga PS Paguron bermaksud tawakal kepada Allah dan patuh kepada Guru/Pemimpin yang tidak keluar dari martabat keguruannya.

Jumat, 14 Maret 2014

Partisan Siliwangi Karawang Dukung Tono Bahtiar

Karawang.PilarRepublik. Disela sela acara penutupan Latsar Pejuang Siliwangi Kabupaten Karawang yang dilaksanakan hari ini (12 oktober 2013) H.Tono Bahtiar, SP, MM mengatakan bahwa tidak ada penggiringan anggota Pejuang Siliwangi untuk memilih salahsatu partai atau perorangan yang akan maju di Pemilu 2014 nanti, akan tetapi pasti akan memilih calon yang berasal dari Pejuang Siliwangi, “karena ada beberapa kader PS yang juga maju di Pemilu dari PDIP, Golkar, Nasdem dan lain lainnya,  tetapi untuk calon DPR RI, Pejuang Siliwangi Kabupaten Karawang harus mendukung kadernya atau pimpinannya, sesuai dengan pesan dari Guru Pejuang Siliwangi yaitu Bu Edeh (Dra. Edeh Laswarawati Poeradiredja. Red), karena di PS mengenal istilah keguruan. Setiap kader PS disumpah untuk satu kata” Jelas Tono Bahtiar, yang juga Ketua DPRD Kabupaten Karawang dan kini dicalonkan PDIP untuk menjadi salahsatu Caleg DPR RI.


Kamis, 24/04/2014 14:27 WIB

Ini 18 Caleg PDIP Asal Jabar yang Lolos ke Senayan

Erna Mardiana - detikNews
 Bandung - PDIP Jabar berhasil mengirim sebanyak 18 wakilnya untuk duduk di DPR RI atau naik 20 persen dibandingkan periode 2009-2014 yang hanya 15 kursi. Mayoritas kursi diisi muka-muka baru, seperti Nico Siahaan dan Jalaluddin Rakhmat.

Muka baru lainnya adalah Yadi Mulyadi dari Dapil 2, Diah Pitaloka dari Dapil 3, Adrian Napitupulu dan Indra Simatupang dari Dapil 5, Riska Mariska dari Dapil 6, Tono Bachtiar dari Dapil 7, Ono Surono dari Dapil 8, dan Dony Ukon dari Dapil 11.

Sementara muka lama anggota dewan yang terpilih lagi adalah Ribka Ciptaning, Rieke Diah Pitaloka, Maruara Sirait, TB Hasanudin, Puti Guntur Soekarno, Ketut Sustiawan, Syukur Nababan, dan Yoseph Umar Hadi.

"Seharusnya kita bisa 21 kursi di DPR RI, namun dengan peraturan penghitungan saat ini, suara yang terbuang hampir 1 juta," ujar Sekretaris PDIP Jabar Gatot Tjahyono, Kamis (24/4/2014).


Kamis, 13 Maret 2014

Guru Besar Partisan Siliwangi Dukung Zainal Abidin

Rabu, 23 Januari 2013 23:00 WIB
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID -  Dewan Pimpinan Pusat Pejuang Siliwangi Indonesia (DPP PSI) melalui Guru Besar Edeh Puradireja menyatakan mendukung bulat Zainal Abidin,  maju dalam pemilihan bupati Lampung Utara mendatang.

"PSI mendukung dan siap memenangkan pak Zainal  sebagai  Bupati Lampung Utara pada pilbup September mendatang. Pak Zainal  sebagai Ketua Dewan Penasehat DPC PSI Lampung Utara telah banyak berbuat bagi PSI di Lampung Utara," ujar  Ketua DPC PSI Kabupaten Lampung Utara  Joni   kepada tribun Rabu (23/1/2014) .

Menurut Joni dukungan guru besar PSI disampaikan langsung saat jajaran pengurus dan penasehat DPC dan PAC PSI se-Lampung Utara menyambangi kediaman anak Pendiri Perguruan PSI Raden Ama Puradiredja, di Subang, Jawa Barat, Rabu (23/1/2014). 

Dalam Silaturahmi tersebut kata dia, Ketua Dewan Penasehat PSI yang juga Bupati Lampung utara didampingi  Sekdakab Rifki Wirawan, Kadis PU Hamartoni, Kepala Bappeda Efendi dan Kadis Kelautan Perikanan Kadarsyah.

Rombongan diterima langsung  Ibu Edeh Alit Poeradiredja Guru Besar Perguruan PSI dan saudara tua nya Ibu Edeh Ageng Poeradiredja. (romi-rinando)

Kesbangpol Lampura: ZA Ungguli Abdi

Laporan Reporter Tribun Lampung Anung Bayuardi
Jumat, 20 September 2013 17:33 WIB

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID-Berdasarkan data yang masuk di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Lampung Utara, Jumat (20/9/2013) pukul 16.45 WIB.

Pasangan Zainal Abidin-Ansyori Djausal (ZA) memperolehan suara sebanyak 60.972 suara atau 45,02 persen. Sedangkan pasangan  Agung bersama Paryadi (Abdi) memperoleh 58.468 suara atau 43,17 persen.

Posisi ketiga tetap ditempati Yusrizal dan Yoyot Sukarno dengan perolehan suara sebanyak 13.162 suara atau 9,72 persen.

Pasangan Kesuma Dewangsa dan Supeno masih bertahan di posisi buncit dengan perolehan suara sebanyak 2.820 atau 2,08 persen.

Jumlah tersebut berdasarkan suara yang masuk, yakni 441.981 suara. (anung bayuardi)



Mukhlis Basri Unggul Pilkada Lampung Barat

Lampung Barat (ANTARA LAMPUNG) - Pasangan nomor urut 1, Mukhlis Basri-Makmur Azhari, dari hasil hitung cepat lembaga survei, Rakata Institute, dan Kesbangpolinmas Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, meraih sekitar 89,22 persen suara pada pemungutan suara pilkada setempat, Kamis.

Pasangan nomor urut 2, Khotop Jallaludin-Erwin Suhendra hanya meraih 10,78 persen suara, jauh di bawah perolehan suara Mukhlis yang juga Bupati "incumbent" saat ini.

Sebelumnya, calon "incumbent" Bupati Lambar, Mukhlis Basri, memberikan hak suara pada pemilu kepala daerah (pilkada) setempat, di Pekon (Desa) Purawiwitan, Kecamatan Kebuntebu, Lampung Barat, Kamis pagi.

"Calon Bupati Mukhlis Basri memilih di TPS 5 Purawiwitan, dan calon Wakil Bupati Makmur Azhari memberikan hak suara di TPS 6 Kelurahan Waymengaku, Kecamatan Balikbukit," kata Kasubbag Teknis dan Humas Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lambar, Arfiatin.

Mukhlis Basri-Makmur Azhari ialah pasangan calon bupati dan wakil bupati Lambar nomor urut 1,  sedangkan pasangan nomor urut 2 ialah Khotop Jalaludin-Erwin Suhendra.

"Calon Wakil Bupati nomor urut 2, Erwin Suhendra, memberikan hak suara di TPS 3, Pekon Kenali, Kecamatan Belalau," ujar Arfiatin pula.

Sedangkan calon Bupati nomor urut 2, Khotop Jalaludin, tidak memberikan hak suara, sehubungan alamat atau tempat tinggalnya di Kota Bandarlampung.

Pilkada di Lampung Barat yang akan memilih pemimpin daerah itu periode 2012-2017 diikuti dua pasangan calon, yakni Mukhlis Basri-Makmur Azhari, dan Khotop Jalaludin-Erwin Suhendra.

KPU setempat menyebutkan jumlah pemilih dalam pilkada daerah ini mencapai 296.367 orang tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT).

Kedua pasangan bersaing untuk memimpin daerah yang memiliki motto "Beguai Jejama Sai Betik" tersebut.

Pasangan nomor urut 1, Mukhlis Basri-Makmur Azhari mempunyai visi terwujudnya Lampung Barat yang sejahtera dan berdaya saing, berlandaskan iman dan taqwa.

Mereka diusung sejumlah partai besar, seperti PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Gerindra.

Sementara pasangan nomur urut 2, Khotop Jalaludin-Erwin Suhendra memiliki visi terwujudnya masyarakat Lampung Barat yang sejahtera dan bermartabat, berbasis pada kearifan lokal.

Mereka diusung lima partai yang memiliki enam kursi di DPRD Lampung Barat, yakni PKNU, Partai Pelopor, Partai Indonesia Sejahtera (PIS), Partai Perhimpunan Indonesia Baru, dan Partai Bintang Reformasi.

Pada Kamis ini, secara serentak dilaksanakan pemungutan suara pilkada pada tiga kabupaten di Provinsi Lampung, yaitu Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Tulangbawang.


http://lampungreview.com/mukhlis-basri-kukuhkan-kepengurusan-dpd-siliwangi-pesisir-barat/
Mukhlis Basri Kukuhkan Kepengurusan DPD Siliwangi Pesisir Barat
Pelaksana tugas  Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pejuang Siliwangi Indonesia (PSI) Provinsi Lampung, Mukhlis Basri, mengukuhkan kepengurusan DPC PSI Kabupaten Pesisir Barat masa bakti 2013-2018, Kamis (28/11).

Pengukuhan  dilakukan di halaman Rumah Makan Prambanan, Kecamatan Ngambur, Pesisir Barat, tersebut selain di hadiri oleh seratusan pengurus DPC Siliwangi dan sekitar  seribu undangan juga di hadiri langsung oleh Pj Bupati Pesisir Barat Kherlani, ketua DPRD Lambar Dadang Sumpena,  Kajari Rachmad Triono, Kapolres AKBP Eko Widianto, dan Dandim letkol Inf Sugiyono serta sesepuh pejuang siliwangi.

Dalam sambutannya, ketua DPD Siliwangi Mukhlis Basri meminta kepengurusan yang telah di kukuhkan untuk bisa memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah, melalui ide dan gagasan yang bisa di sumbangkan kepada pemerintah daerah.

“Jika pendahulu kita itu berjuang mengorbankan nyawa, sekarang kita tinggal meneruskan perjuangan itu dengan ide cemerlang untuk ambil bagian dalam membangun daerah, ” ujar Mukhlis.

Mukhlis juga mengajak para simpatisan dan pejuang siliwangi untuk  menumbuh kembangkan semangat gotong royong di tengah-tengah masyarakat.

“Warga PS berasal dari semua golongan, suku dan bermacam-macam sudut pandang politik, itu harus di jadikan sebagai kekuatan untuk membangun semangat kebersamaan,” ujar dia.

Sementara, Ketua DPC Pejuang Siliwangi Pesisir Barat Oking Ganda Miharja Kartadilaga mengatakan dengan dikukuhkannya kepengurusan di kabupaten itu, pihaknya berharap adanya dukungan dari semua komponen masyarakat sehingga keberadaan organisasi tersebut juga memiliki kontribusi dalam membangun kabupaten yang baru di bentuk sekitar satu tahun itu.



Selasa, 22 Oktober 2013

Kartu PS dengan tanda tangan Pendiri PS

Kartu PS di bawah ini adalah milik almarhum Bapak saya, dan ditandatangani langsung oleh Pendiri PS Ama Rd Puradiredja, 28 Januari 1965 di Sagalaherang.


Selasa, 15 Oktober 2013

Apakah betul pendiri Majapahit dari sunda ?

Berita atau artikel yang ditulis dalam http://bataviase.co.id/node/150855, tertanggal 30 Maret 2010 menuturkan bahwa Keturunan Sunda juga menjadi raja di Majapahit.

Berikut adalah petikan artikel tersebut  :
" ........ Sebagian mereka tinggal bersama keluarga raja Majapahit dan keluarga-keluarga keturunan Sunda yang tinggal di Majapahit semenjak masa Sri Kertarajasa -Raden Wijaya atau Jaka Sesuruh yang berasal dari Kerajaan Sunda- merintis berdirinya Kerajaan Majapahit ........"

Point inti dari petikan artikel tersebut adalah Raden Wijaya atau Jaka Sesuruh yang berasal dari Kerajaan Sunda, hal ini jelas-jelas SALAH BESAR dan dibuat-buat. Penulis artikel tersebut sepertinya menggunakan referensi Kidung Sundayana, tetapi tidak memperhatikan prasasti-prasasti jaman Majapahit maupun apa yang tertulis di dalam kakawin Negarakertagama.

Kakawin Negarakertagama pupuh XLVI/2 dijelaskan : " ... . Narasingha(murti) menurunkan Dyah Lembu Tal, sang perwira yuda, dicandikan di Mireng dengan arca Budha". Selanjutnya dalam Pupuh XLVII/1 dijelaskan : " Dyah Lembu Tal itulah bapa Baginda Nata (Wijaya), dalam hidup atut runtut sepakat sehati .....". Dari uraian kedua pupuh tersebut dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa Sanggramawijaya atau yang akrab disebut Raden Wijaya adalah putera Dyah Lembu Tal, sedangkan Dyah Lembu Tal adalah putera Narasinghamurti dari Singosari (Tumapel), yang saat ini berada di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Fakta lain adalah apa yang tertulis dalam Prasasti Kudadu bertarikh 1294 M yang menyebutkan bahwa Negara baru Majapahit dianggap sebagai lanjutan kerajaan Singasari yang telah runtuh pada tahun 1292, sebagai bukti kesetiaan pendirinya kepada para raja leluhur di Singasari. Selanjutnya, Sanggramawijaya sendiri mengakui bahwa ia adalah keturunan Singasari, putera Dyah Lembu Tal, cucu Narasinghamurti dan menantu raja Kertanegara.

Dengan demikian apa yang tertulis dalam artikel bataviase.co.id tersebut di atas adalah salah besar dan sama sekali tidak berdasar fakta-fakta sejarah yang ada.

bahasan di atas :
Sayang sekali tulisan negarakertagama di atas tidak menulis bahasa aslinya (jawa kuno), artinya dengan hanya menulis terjemah bisa merubah arti. Berita tentang R Wijaya dari sunda pertama kali diketemukan dalam naskah carita parahiyangan yang dibuat kira kira tahun 1580-an setelah pajajaran runtuh, naskah ini diketemukan di daerah galuh, orang yang pertama kali meneliti adalah K.F. Hole (1881), CM. Pleyte, R.M.Ng. Purbacaraka (1921), H. ten Dam (1957), J. Noorduyn (1962, 1965), W.J. van der Meulen (1966). Raden Wijaya adalah anak dari Prabu Jayadarma dari kerajaan sunda, sedangkan ibunya adalah Dyah Lembu Tal anak dari Mahisa Campaka/Narasinghamurti anak dari Mahisa Wongateleng anak dari Ken Arok. Berarti dari garis ibu R Wijaya adalah keturunan ke 4 dari Ken Arok. Sedangkan ayahnya adalah Rakryan Jayadarma, putra Prabu Guru Darmasiksa raja Kerajaan Sunda-Galuh yang memerintah tahun 1175-1297, Rakryan Jayadarma menjadi putra mahkota yang berkedudukan di Pakuan. Akan tetapi ia meninggal dunia karena diracun oleh musuh. Sepeninggal suaminya, Dyah Lembu Tal membawa Raden Wijaya pergi dari Pakuan. Keduanya kemudian menetap di Singhasari, negeri kelahiran Dyah Lembu Tal. Dalam Naskah Carita Parahiyangan ada 2 keturunan raja sunda yang menjadi raja di jateng/jatim, yaitu Sanjaya di Mataram Hindu, dan R Wijaya di Majapahit. Kembali ke naskah dalam Nagarakrtagama (atau lebih tepatnya disebut kakawin Desa Warnnana) wirama (pupuh) 46 bait kedua, tertulis"...lawan sri nara singha murttyaweka ri dyah lebu tal susrama, sang wireng laga sang dhinarmma ri mireng boddha pratista pageh" (...dengan sri Nara Singamurti ayah Dyah Lembu Tal yang terpuji, pemberani dalam pertempuran diabadikan di mireng dalam wujud arca Budha). dalam wirama (pupuh) 47 bait pertama, termaktub "dyah lembu tal sira maputra ri sang narendra" (Dyah Lembu Tal berputra baginda raja/Kertarajasa)
dalam wirama (pupuh) 46 itu tidak disebutkan apakah Dyah Lembu Tal seorang laki-laki atau perempuan. kata-kata "sang wireng laga..." (sang pemberani dalam pertempuran...) jika dicermati bukanlah merujuk pada sosok Dyah Lembu Tal tetapi pada sosok Sri Nara Singamurti, ayah dari Lembu Tal. sedangkan dalam wirama (pupuh) 47 hanya disebutkan bahwa Dyah Lembu Tal berputra Kertarajasa. jadi Nagarakrtagama tidak menjelaskan Dyah Lembu Tal itu seorang laki-laki atau seorang perempuan.
mengapa Prapanca tidak memberi uraian yang lugas soal Dyah Lembu Tal? Dalam (wirama) pupuh 46 dan 47, Prapanca memang ingin bercerita soal garis darah prabu kertarajasa (raden Wijaya). garis darah raja-raja. prabu pertama Wilwatikta itu/Kertarajasa (raja) merupakan keturunan nara Singamurti (raja/bersama dengan Wisnuwardana). jadi seolah Dyah lembu tal dilewati saja karena ia bukan raja penguasa.
jika semisal memang Dyah Lembu Tal adalah perempuan, mengapa Prapanca tidak menyebutkan siapa ayah Raden Wijaya? analisisnya jika mengacu pada Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara bahwa ayahnya adalah Rakeyan Jayadarma dari Sunda, maka tidak mungkin Prapanca akan menyebut sesuatu tentangnya. mungkin sekali "Sunda" adalah sesuatu yang sensitif mengingat Prapanca juga tidak menyebut peristiwa Pasunda Bubat sama sekali. jadi nama Rakeyan Jayadarma (sebagai orang Sunda) tak mungkin dimasukkan Prapanca dalam kakawin puja-pujinya itu.
Secara umum memang tafsiran atas "sang wireng laga" itu selalu mengacu pada Lembu Tal, tetapi hal ini bukan tafsir final. bukan sebuah fakta yang validitasnya telah teruji benar. banyak tafsir soal isi dalam kakawin desa warnnana yang masih perlu diberdebatkan lagi. permasalahannya kita sering membaca kakawin desa warnnana dalam bentuk sudah terjemahan, semestinya kita membaca masih dalam bentuk bahasa aslinya atau setidaknya telah diubah dalam bahasa Jawa kawi. kembali ke permasalahan awal, memang betul bahwa raden Wijaya itu keturunan Arok-dedes. ia memang justru darah murni Arok Dedes, bukan seperti penguasa-penguasa Singosari terdahulu yang didominasi konflik keturunan Tunggul Ametung-dedes dengan Arok-Umang tetapi bahwa Wijaya keturunan Arok hal itu tidak bisa menjadi bukti untuk mengambil kesimpulan bahwa Dyah Lembu Tal adalah Laki-laki karena dihubungkan dengan garis darah laki-laki yang dianut di Jawa. prasasti Balawi bukanlah rujukan valid untuk membuktikan bahwa Lembu Tal adalah laki-laki. prasasti itu keluar demi legitimasi kekuasaan dan tentunya telah disesuaikan kepentingan, sama halnya misalnya Balitung membuat prasasti Mantyasih yang menyebut pangkal penguasaan tanah Jawa (tengah) pada sosok Sanjaya. itu juga demi legitimasi. kenapa Wijaya (jika menganut tafsir bahwa ia keturunan Sunda )tidak menyebut sama sekali bahwa ia keturunan Sunda, hal ini juga bisa dianalisa bahwa jelas ia tak mungkin menyebut ia putra rakryan jayadara dari Sunda padahal ia mendirikan kerajaan di Jawa Timur. Wijaya jelas ingin menunjukkan bahwa ia pewaris sah negeri Singosari yang telah runtuh. untuk itulah ia menyebut Arok sebagai pangkal garis darahnya. sangat riskan ia menyebutkan sesuatu yang "berbau" Sunda kala itu karena mungkin sekali beberapa bawahannya akan "mempertanyakan" kekuasaannya atas tanah jawa (bagian timur). hal ini bisa dicontohkan (jika menarik waktu jauh ke belakang lagi)pada kasus Airlangga, menantu Darmawangsa, yang ikut terkena dampak "pralaya". kala Airlangga selamat dan mendirikan kerajaan Kahuripan, ia juga menarik garis pangkal pada "trah" Darmawangsa yang masih keturunan Mpu Sendok itu (lihat pada nama abiseka Airlangga saat diangkat jadi raja "Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa"). Airlangga tidak mungkin akan menyebutkan bahwa ia putra dari wangsa Marwadewa dari Bali. Hal itu juga demi legitimasi kekuasaan. jadi penyebutan nama raja (pendahulu)sebagai pangkal dari kekuasaan seorang raja itu selalu disesuaikan dengan kepentingan, dimana sang raja itu mendirikan kerajaannya.

Jumat, 26 April 2013

Siapakah Haji pertama di tanah Jawa ?

Kapan pertama kali masuknya Islam ke Tatar Sunda? Sampai kini belum diketahui secara pasti, karena belum ditemukan bukti-bukti yang cukup kuat tentang hal itu. Namun, dari segi geografis dapat ditelusuri bahwa Tatar Sunda berada pada lintasan pelayaran niaga internasional pada kurun waktu abad ke-15 sampai abad ke-17 Masehi. Ditinjau dari letak geografis, boleh jadi pantai utara Tatar Sunda adalah daerah yang lebih dahulu mendapat sentuhan agama Islam daripada Jawa Tengah dan Jawa Timur serta wilayah Indonesia bagian timur lainnya.
Dari aspek geografis inilah dapat dipahami bahwa dalam tahap awal pembawa dan penyebar agama Islam di Nusantara pada masa-masa permulaan adalah golongan pedagang yang pada awalnya menjadikan faktor ekonomi perdagangan sebagai pendorong utama untuk berkunjung ke kepulauan Nusantara. Hal itu bersamaan waktunya dengan masa perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional antara negeri-negeri di bagian Asia Barat Daya, Asia Tenggara, dan Asia Timur. Kedatangan para pedagang muslim ke Nusantara dalam jaringan pelayaran internasional telah berlangsung sebelum zaman Kerajaan Samudera Pasai dan Malaka –yang kemudian menjadi pusat kerajaan Islam yang mempunyai hubungan ekonomi perdagangan dengan daerah-daerah lain di Nusantara– memungkinkan tersebarnya ajaran Islam ke seluruh wilayah kepulauan Nusantara.

Di Tatar Sunda, seperti diceriterakan dalam naskah Carita Parahiyangan, bahwa seorang pemeluk agama Islam yang pertama kali di tanah Sunda adalah Bratalegawa putera kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora yang merupakan adik kandung dari Prabu Lianggabuana (buyut Prabu Siliwangi, jayadewata, pamanah rasa) yang gugur di perang bubat, Sang Bunisora  menjadi Raja penganti sementara kerajaan Galuh/Sunda, karena sang putra mahkota yang masih kecil uasia 9 tahun bernama wastukencana, kelak disamping memimpin kerajaan galuh/sunda ke dalam kemakmuran seperti prasasti galuh juga diberi usia panjang sampai 120 tahun. Wastukencana dididik oleh Bunisora dengan bermacam ilmu pemerintahan, agama bahkan Prabu Wastukencana ini sering menggembara menuntut ilmu sampai ke lampung, salah satu istrinyapun berasal dari lampung yg kelak menguasai kerajaan sunda/pakuan yaiitu susuk tunggal, Jadi hubungan Bratalegawa dan Wastukencana ini adalah saudara sepupu, berarti Bratalegawa adalah kakek sepupu dari Prabu Siliwangi, dimana Prabu Siliwnagi juga merupakakan kakek Sunan Gunung Jati, Bratalegawa memilih hidupnya sebagai saudagar besar; biasa berlayar ke Sumatera, Cina, India, Srilangka, Iran, sampai ke negeri Arab. Ia menikah dengan seorang muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad.  Kemudian menunaikan ibadah haji dan mendapat julukan Haji Baharudin. Sebagai orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaannya, ia pun dikenal dengan sebutan Haji Purwa.
Setelah menunaikan ibadah haji, Haji Purwa beserta istrinya kembali ke kerajaan Galuh pada tahun 1337 Masehi. Di Galuh ia menemui adiknya, Ratu Banawati, untuk bersilaturahmi sekaligus mengajaknya masuk Islam. Tetapi upayanya itu tidak berhasil. Dari Galuh, Haji Purwa pergi ke Cirebon Girang untuk mengajak kakaknya, Giridewata atau Ki Gedeng Kasmaya yang menjadi penguasa kerajaan Cirebon Girang, menjadi pemeluk Islam. Namun, kakaknya pun menolak. Ketidakberhasilan tersebut tidak menyebabkan keretakan hubungan kekeluargaan, Haji Purwa tetap memberi bantuan untuk kelancaran pemerintahan saudara-saudaranya. Haji Purwa kemudian menetap di Cirebon (Caruban) Girang yang pada waktu itu berada di bawah kekuasaan Galuh.
Bila kedatangan Haji Purwa di tanah Sunda dijadikan titik tolak masuknya agama Islam ke Tatar Sunda pada pertengahan abad ke-14, hal ini mengandung arti bahwa pertama, agama Islam yang pertama kali masuk ke Tatar Sunda berasal dari Makkah yang dibawa oleh Bratalegawa seorang pedagang, dan kedua, pada tahap awal kedatangannya, agama ini tidak hanya menyentuh daerah pesisir utara Jawa Barat, namun diperkenalkan juga di daerah pedalaman. Akan tetapi, agama itu tidak segera menyebar secara luas di masyarakat. Hal ini disebabkan tokoh penyebarnya belum banyak dan pengaruh sunda wiwitan dari Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda Padjadjaran terhadap masyarakat setempat masih kuat.
Sementara itu di Karawang terdapat sebuah pesantren di bawah pimpinan Syekh Quro sebagai penyebar dan guru agama Islam pertama di daerah Karawang. Syekh Quro nama aslinya adalah Syekh Hasanuddin putra Syekh Yusuf Sidik, seorang ulama yang datang dari negeri Campa (daerah Vietnam sekarang). Ia datang di Pulau Jawa –sebagai utusan, pada abad ke-14 sezaman dengan kedatangan Syekh Datuk Kahpi atau Syekh Nurjati yang kelak menikah dengan cucu Bratalegawa (haji Purwa) bernama Hadijah, menumpang kapal yang dipimpin Laksamana Cheng Ho dalam perjalanannya menuju Majapahit. Dalam pelayarannya itu, armada Cheng Ho tiba di Pura Karawang. Syekh Hasanuddin beserta para pengiringnya turun di Karawang dan bertempat tinggal di sana. Di Karawang ia menikah dengan Ratna Sondari, puteri Ki Gedeng Karawang, dan membuka pesantren yang diberi nama pondok Quro yang khusus mengajarkan al-Qur’an, karena itulah Syekh Hasanuddin kemudian dikenal dengan nama Syekh Quro. Syekh Quro bermukim di Karawang sampai wafat dan dimakamkan di Desa Pulo Kalapa, Kecamatan Wadas, Karawang.
Sumber lain yang menunjukkan datangnya Islam pertama kali di Jawa Barat adalah naskah Carita Purwaka Caruban Nagari yang ditulis oleh Pangeran Arya Cirebon, 1720 (Lihat: Atja, 1986). Naskah ini antara lain menyebutkan adanya tokoh yang bernama Syekh Nurjati yang disebut pula Syekh Datuk Kahpi, Syekh Idofi, atau Syekh Nuruljati, seorang ulama yang berasal dari Arab (Persi), selain menikah dengan cucu Haji Purwa (Bratalegawa) juga merupakan guru dari anak anak Prabu Siliwangi yaitu Pangeran Cakrabuana dan Nyi Rara Santang (ibunda Sunan Gunung Jati). Jadi bisa disimpulkan Syekh Nurjati menyebarkan agama islam jauh sebelum era walisongo, sedangkan Bratalegawa yang juga kakek mertua Syekh Nurjati lebih jauh lagi (lebih dahulu) menjadi Haji sebelum kedatangan Syekh Nurjati, itulah sebabnya Bratalegawa mendapat gelar Haji Purwa atau Haji pertama dari tanah jawa. Syekh Nurjati datang sebagai utusan Raja Parsi bersama 12 orang pengikutnya sekitar abad ke-14, pada masa Ki Gedeng Jumajanjati. Atas izin dan kebaikan penguasa pelabuhan itu, Syekh Nurjati kemudian menetap dan bermukim di Pasambangan, di bukit Amparan Jati dekat Pelabuhan Muarajati, kurang lebih lima kilometer sebelah utara Kota Cirebon sekarang. Ia kemudian menjadi guru agama Islam dan mendirikan pesantren yang tumbuh menjadi sebuah pesantren yang cukup ramai. Pesantren di Muara Jati lebih berkembang lagi ketika datangnya Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, dari Mesir .
Dalam tahap awal, sebagaimana yang dilakukan Bratalegawa, penyebaran agama Islam rupanya baru berlangsung secara terbatas di lingkungan tempat tinggal para tokoh agama tersebut. Boleh jadi, kegiatan mereka dalam menyebarkan agama Islam pada tahap awal adalah mengenalkan agama Islam kepada sejumlah penduduk. Seiring dengan terbentuknya pesantren-pesantren sebagai tempat pembentukan kader ulama, yaitu para guru agama yang mendidik beberapa orang santri di pesantren atau paguron masing-masing, maka syiar Islam mulai berkembang pesat, cahaya Islam mulai tersebar di Tatar Sunda.