Kamis, 12 Mei 2016

Profile Laksamana Pertama (TNI) Eden Gunawan

Cucu the great of grand master Ajengan Ama Haji Muhammad Satrip bin Haji Saram, Cipeucang, Banten
biodata lengkap di  : https://www.edengunawan.com/index.php/biodata/

IBC, Serang — Laksamana Pertama (TNI) Ir. Eden Gunawan, MM dilahirkan sebagai putra ke 5 dari 10 bersaudara dari keluarga besar Drs. H. M. Husein Sastraharja sebagai tokoh masyarakat di kalangan dunia pendidikan di Jawa Barat dan Banten. Beliau mencapai karier sebagai Perwira Tinggi TNI secara berjenjang dari posisi Letnan Dua Lulusan Akabri Laut Angkatan 1984 (Satu Angkatan dengan Kepala BNN Komjend. Budi Waseso).

Setelah ditugaskan di berbagai kapal Perang RI mulai dari kapal perang jenis Patrol Ship Killer (PSK) sampai dengan Destroyer,  penempatan di berbagai staf perencanaan logistik di Armada RI, Kepala Seksi Electronic Data Proccessing  Puskodal Mabes TNI AL, Badan Perbekalan Mabes TNI, Bais TNI, dan Paban I Perencanaan, Paban III Intelejen Maritim samlai dengan Paban IV Hububgan Luar Negeri Spamal dijalaninya selama 4 tahun dan terakhir dipercaya menjadi Kepala BIN di Maluku Utara.

Seiring dengan pengalamannya beliau mendapat penugasan di berbagai pekerjaan bukan saja militer seperti di operasi maupun latihan militer angkatan maupun gabungan, logistik, pengadaan barang dan jasa, telekomunikasi, dan intelijen serta penugasan Atase Laut  Pertahanan RI di Canberra Australia.

Namun juga selama penugasan beliau aktif dan terlibat dalam berbagai kerjasama internasional seperti Asean Reginal Forum (ARaF) dengan hampir seluruh negara Asean, Asia Australia, Amerika, Eropa dan negara negara penting di kawasan di dunia dalam China, Jepang, dan Amerika Serikat.

Penanganan masalah refugees, perbatasan Laut, sengketa perbatasan laut, smuggling, trafficking, pembajakan,  penyelundupan, trans nasinal crimes dan anti terorist dan pembajakan di laut,  sengketa perbatasan dan konflik laut China Selatan serta bagaimana membangun hubungan kerjasama AL dalam bidang intelijen untuk mencegah ATHG terhadapa negara kesatuan RI dengan berbagai cara dan strategi agar pemerintah pusat lebih mudah memutuskan dan menguntungkan negara secara politis.

Eden Gunawan
Eden Gunawan
Banyak pekerjaan yang tidak terpublikasi atas buah pikirannya dalam rangka memerankan dirinya dalam membantu pemerintah dan masyarakat di pusat maupun di daerah secara tidak langsung.

Hal seperti ini tidaklah mungkin dapat dilaksanakan jika tidak dibekali dan dilatarbelakangi oleh pendidikan yg lengkap dan berjenjang secara baik. Gelar S-1 diperoleh dari Sekolah Tinggi Teknologi  Angkatan Laut (STTAL) sebuah perguruan tinggi hasil kerjasama ITB dan TNI AL dibantu oleh USA dalam bentuk kurikulum yg prestisius Monterry dengan harapan ada loncatan teknologi persenjataan dan manajemen yang modern.

Sehingga pada jaman tahun 60an TNI AL sudah lebih dulu menguasai teknologi tingkat tinggi termasuk oleration research nya.  Eden memilih Teknik Manajemen Industri STTAL karena ke depan pada tataran midle manager pengetahuan ini menjadi vital bagi seorang Pamen dan Pati.

Selanjutnya semua jenjang pendidikan dilampaui dengan mulus seperti sekolah tertinggi di AL Seskoal, Sus Opsgab Overseas Joint Warfare di Asutralia, dan Lemhanas di China CDSS National Defence University. Komplitlah sudah persayaratan menjadi pejabat militer maupun pejabat publik di negera tercinta ini karena setelah Pendidikan Lemhanas tidak ada lagi pendidikan di atasnya.

Melengkapi pendidikan formal karier pejabat publik maka beliau juga menyempurnakan S2.di bidang Magister Manajemen. Secara pelan tapi pasti Pendidikan S3 UNIBRAW Bidang Kebijakan Publik juga sekarang sedang ditempuh agar mampu menyelesaikan permasalahan kehidupan masayarakat dengan lebih bijak dan manusiawi.

Eden tidak memberikan lebih banyak cerita lagi  karena  banyak sekali short course di beberapa negara dan  pengalaman di dalam dan di luar negeri yg tidak bisa disebutkan satu persatu. Dengan latar belakang pendidikan dan kemampuan pengalaman yang luas dan lengkap, pengalaman di berbagai lapangan pekerjaan baik sipil maupun militer cukup lama maka permasalahan permasalahan di Banten sangat mungkin masih bisa dibenahi.

Tidak ada kata terlambat kita masih punya harapan kedepan yang lebih baik. Dengan mengucap Innamal ‘amalu binniat. Semua kembali ke niat. Mulai dari diri kita mulai dari yang kecil mulai dan mulai saat ini beliau mengajak kepada seluruh relawan rakyat banten yang terdiri dari semua tokoh masyarakat tokoh agama dan tokoh adat dan seluruh pemuda pemudi mahasiswa pelajar bertekad menjadikan Banten lebih baik. [*]

Kamis, 10 Maret 2016

KSAL Lantik 6 Jenderal

Beliau adalah anak Drs Husein Sastra, tokoh pendiri organisasi PS/Partisan Siliwangi, dan cucu Ama Muhammad Satrip bin H Saram, Cipeucang, Banten, seorang sesepuh PS yang menyebarkan ribuan murid  PS ke pelosok Banten, Lampung, Jawa Barat adalah Laksamana Ir Eden Gunawan MM

Jakarta, 26 September 2014,---Sebanyak enam Perwira Tinggi TNI AL melaksanakan pelaporan kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi dari sebelumnya dihadapan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Marsetio dalam upacara kenaikan pangkat, yang dilaksanakan di Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal), Selasa (26/9).


Keenam Perwira Tinggi tersebut masing-masing: Asisten Logistik (Aslog) Kasal Laksamana Muda TNI Ir. Harry Pratomo, Kepala Dinas Materiel Angkatan Laut (Kadismatal) Laksamana Pertama TNI Toto Prihatono, Kepala Dinas Perawatan Personel Angkatan Laut (Kadiswatpersal) Laksamana Pertama TNI Teguh Widodo, M.Si (Han), Kepala Pusat Pembinaan Mental (Kapusbintal) TNI Laksamana Pertama TNI Muchammad Ricard, S.H., Bandep Lingstrareg Setjen Wantannas Laksamana Pertama TNI Eko Purwanto, serta Kabinda Maluku Utara Laksamana Pertama TNI Ir. Eden Gunawan.


Pada kesempatan yang sama, juga dilaksanakan serah terima jabatan (sertijab) Kepala Dinas Kesehatan Angkatan Laut (Kadiskesal) dari Laksamana Pertama TNI Dr. Bambang Renaldi, Sp. M. kepada Laksamana Pertama TNI Dr. Syarief Hidayat, Sp. Kk. Pejabat baru Kadiskesal Laksamana Pertama TNI Dr. Syarief Hidayat, Sp. Kk. sebelumnya menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Angkatan Laut (Karumkital) dr. Ramelan Surabaya, sedangkan pejabat lama Kadiskesal Laksamana Pertama TNI Dr. Bambang Renaldi, Sp. M. selanjutnya menjadi Staf Khusus Kasal.


Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio dalam amanatnya mengatakan, bahwa kenaikan pangkat dan jabatan baru merupakan penghargaan sekaligus tanggung jawab yang semakin berat. “Hal ini mengisyaratkan bahwa pangkat dan jabatan yang disandang harus setara dengan kualitas serta integritas yang dimiliki untuk diimplementasikan dalam penugasan di lapangan,” tegasnya.

Dikatakan Kasal, bahwa Perwira TNI Angkatan Laut yang telah menerima anugerah berupa kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi diberikan atas prestasi, dedikasi dan loyalitas yang telah ditunjukkan selama ini. “Kenaikan pangkat perwira tinggi, sangat terkait erat dengan promosi jabatan yang sedang disandangnya, sekaligus merupakan bagian dari pelaksanaan sistem pembinaan personel yang diorientasikan untuk menunjang kepentingan organisasi,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut Kasal juga menjelaskan tentang penganugerahan bintang kehormatan The Legion of Merit kepada dirinya dari pemerintah Amerika Serikat sebagai bentuk apresiasi yang tinggi atas kerja sama Angkatan Laut kedua negara. “Kita semua patut berbangga karena usaha dan kerja keras kita telah membuahkan hasil yang baik berupa penghargaan dari pemerintah negara adi daya. Penghargaan The Legion of Merit hanya diberikan kepada pejabat militer yang telah berjasa khususnya dapat meningkatkan hubungan kerja sama secara khusus di kawasan dan secara umum antar negara,” kata Kasal.


Untuk itu, kata Kasal, hasil yang telah dicapai perlu kita pelihara bahkan ditingkatkan melalui program pelatihan yang intensif secara individu maupun satuan. “Peningkatan profesionalime setiap personel untuk dapat bekerja lebih baik dan dapat berinteraksi dengan negara lain kerja sama antar negara kawasan ke depan makin banyak frekuensinya dan tidak mungkin dihindari,” ujar Kasal.


Kasal menyampaikan bahwa perlunya peningkatan profesionalisme setiap personel agar dapat bekerja lebih baik dan berinteraksi dengan negara lain, karena kerja sama antar negara kawasan ke depan makin banyak frekuensinya dan tidak mungkin dihindari. Oleh karenanya, kata Kasal, setiap personel TNI Angkatan Laut, khususnya para perwira harus terus meningkatkan kapasitas pribadi masing-masing termasuk kemampuan berbahasa asing.

Kamis, 25 Februari 2016

Perkutut Menurut Tinjauan Ilmiah

Tinjauan Umum
Burung Perkutut (Geopelia striata) atau biasa disebut dengan Merbuk adalah sejenis burung yang memiliki suara kicau yang indah dan ukuran tubuh yang kecil. Burung yang berasal dari familia Columbidae ini sering dipelihara dan merupakan salah satu jagoan burung lomba.
Burung Perkutut masih memiliki hubungan kerabat dekat dengan Puter, Tekukur, dan Merpati. Hibrida (persilangan) burung Tekukur dan Perkutut dikenal dalam dunia burung hias sebagai “sinom” (bahasa Jawa) dan memiliki pola suara yang memiliki ciri khas.
Habitat
Burung perkutut di jumpai di dataran rendah hingga ketinggian 900 m, menyukai di tepian hutan, ladang, sawah. Tersebar di pulau Sumatera dan pulau Jawa dan Bali.
Burung ini hidup secara berkelompok di daratan rendah atau tinggi dengan daerah rerumputan yang luas seperti sawah atau ladang dengan ketinggian sekitar 900 m dpl.
Ciri-ciri
Burung Perkutut Memiliki ukuran tubuh yang termasuk kecil dengan panjang tubuh sekitar 22 cm.Memiliki bentuk kepala yang kecil dan bulat yang berwarna abu-abu. Memiliki Paruh yang runcing dan panjang yang berwarna biru keabu-abuan. Memiliki bentuk mata yang bulat dengan iris berwarna abu-abu kebiru-biruan. Memiliki leher yang agak panjang dan ditumbuhi bulu yang halus. Bulu disekitar dada dan leher membentuk pola garis melintang berwarna hitam dan putih. Badan tertutupi bulu yang berwarna kecokelatan. Terdapat garis melintang pada bulu sayap yang berwarna cokelat tua. Memiliki bulu ekor yang agak panjang dengan warna cokelat. Setiap kaki burung perkutut terdiri dari 4 jari dimana 1 jari ada di belakang sedangkan 3 jari lainnya ada di depan. Jadi jumlah keseluruhan jari dari burung ini adalah 8 jari.
Sifat
Burung ini termasuk jinak sehingga manusia bisa mendekatinya dengan mudah. Namun jika burung merasa terancam maka burung ini akan terbang ke pohon yang tidak jauh dari tempat asalnya.
Burung perkutut memiliki banyak kerabat dekat seperti punai dan peragam yang bisa ditemukan di seluruh dunia. Namun untuk burung jenis perkutut penyebarannya hanya sebatas Australia hingga Semenanjung Malaya.
Karena jenis perkutut di Indonesia sangat banyak maka para para ahli burung hanya membedakan jenis perkutut menurut daerah asalanya seperti Perkutut Jawa, Perkutut Sumatera, Perkutut Nusa Tenggara, dan Perkutut Bali.
Untuk burung perkutut yang ada di pulau Jawa masih bisa dibedakan lagi menurut daerah asalnya misalnya Perkutut Mataram, Perkutut Tuban, Perkutut Madura, Perkutut Pajajaran, dan Perkutut Majapahit. Burung perkutut yang berasal dari jawa dikenal sebagai jenis burung yang memiliki suara kicau yang berkualitas.
Burung perkutut terbagi menjadi tujuh sub-jenis yang dibedakan melalui daerah asal dan memiliki ukuran tubuh yang hampir sama, namun memiliki variasi warna bulu yang tidak sama. Namun untuk orang awam biasanya hanya membedakan 2 jenis saja yaitu burung Perkutut Lokal dan perkutut Bangkok.
Sembilan sub-jenis dari burung perkutut adalah :
1. Geopelia Striata yaitu Perkutut belang asli yang terdiri dari burung perkutut lokal dan burung perkutut bangkok yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Sub-jenis burung perkutut ini berasal dari Jawa, Lombok, Bali dan Sumatera.
2. Geopelia Striata Maungeus, yaitu Perkutut belang atau biasa disebut dengan nama Perkutut Sumba. Sub-jenis burung perkutut ini berasal dari Sumba, Pulau Timor dan Sumbawa.
3. Geopelia Striata Audacis, yaitu Perkutut belang yang berasal dari Tanimbar dan Kepulauan Kei.
4. Geopelia Striata Papua, yaitu Perkutut belang yang berasal dari Papua Nugini dan Papua.
5. Geopelia Striata Placida, yaitu Perkutut belang yang berasal dari Australia Utara dan papua.
6. Geopelia Striata Tranquila, yaitu Perkutut belang yang berasal dari Australia Tengah.
7. Geopelia Striata Clelaudi, yaitu Perkutut belang yang berasal dari Australia Barat.
8. Perkutut Hawaii
Di Hawaii ternyata banyak terdapat burung perkutut yang hidup bebas berkeliaran di hutan dan bahkan di kota-kota dekat dengan penduduk, seperti burung gereja saja yang ada di kota-kota di Indonesia. Perkutut Hawaii ini disebut sebagai Zebra Dove dan aslinya berasal dari tanah Jawa juga yang dibawa oleh orang-orang Jawa yang pergi ke Hawaii.
9. Perkutut Bangkok
Dikenal di masyarakat kita kalau perkutut Bangkok bersuara besar dan ngebass. Sementara perkutut yang biasa ditangkap dari hutan disebut perkutut lokal bersuara kecil. Hal ini hanya salah kaprah saja, salah tetapi dianggap benar, karena perkutut Bangkok pun asalnya juga dari tanah Jawa yang sudah dikembangbiakkan dan diambil keturunannya yang bersuara besar dan banyak yang di ekspor ke Indonesia lagi. Dan saat ini hampir seluruh penghuni kandang ternak di Indonesia adalah keturunan dari perkutut yang didatangkan dari Bangkok. Trend terakhir 2008-2009 kembali perkutut dari Bangkok dan Thailand Selatan yang bersuara besar dan berujung panjang banyak didatangkan ke Indonesia sebagai indukan. Kerabat Dekat PerkututKerabat terdekat perkutut ada dua jenis yaitu bangsa Geopelia Humeralis atau perkutut raksasa karena memang ukuran badannya sangat besar hampir dua kali lipat dibanding ukuran badan perkutut biasa. Berasal dari Australia bagian Utara. Dikenal juga sebagai Barred Ground Dove dikalangan internasional.Kerabat berikutnya banyak dipelihara di Indonesia yaitu Geopelia Cuneata atau lebih dikenal dengan nama Diamond Dove. Ukuran tubuhnya hanya setengah dari ukuran tubuh perkutut biasa. Dan di Indonesia banyak dipakai sebagai induk asuh untuk meloloh piyik perkutut untuk mempercepat proses produksi piyik perkutut.
Semua jenis perkutut di atas umumnya disebut sebagai perkutut lokal, sedangkan yang dimaksud perkutut Bangkok (Thailand) adalah perkutut belang (G.S. Striata) yang juga berasal dari Indonesia tepatnya di Pulau Jawa. Dan sudah mulai diternakkan di Thailand sejak 50 tahun yang lalu. Secara fisik perkutut lokal dan bangkok hampir sama. Secara fisik hanya dapat dibedakan oleh orang yang sudah biasa melihatnya, yaitu dengan melihat matanya di mana mata perkutut lokal mempunyai lingkaran mata warna putih lebih besar daripada mata perkutut bangkok.
Cara yang paling mudah adalah dengan mendengarkan suaranya. Perkutut lokal mempunyai suara yang ringan dan datar serta tempo iramanya cepat, sedangkan suara perkutut bangkok lebih besar (nge-bass).
Perkutut lokal terutama yang merupakan tangkapan dari alam, makin hari makin berkurang peminatnya selain oleh karena mutu suaranya yang kurang baik juga disebabkan bakalan (anak/remaja) perkutut lokal untuk menjadi rajin manggung memerlukan waktu antara 2 hingga 4 tahun, sedangkan perkutut bangkok usia 7 bulan sudah bocor jika perawatan, makanan dan keturunannya cukup baik.
Makanan
Burung perkutut sangat membutuhkan makanan yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi, vitamin dan mineral untuk proses pertumbuhan, reproduksi dan menjaga kualitas suara kicauannya. Makanan alami burung perkutut adalah biji-bijian yang seperti jewawut, millet, gabah kecil dan lain-lain.
Burung perkutut sebaiknya mendapatkan pakan yang mengandung mineral tinggi karena biasanya burung ini dipelihara dalam sangkar yang kecil sehingga tidak akan mendapatkan tambahan mineral dari tanah.
Burung perkutut yang kekurangan mineral pertumbuhan tubuhnya tidak akan berjalan dengan lancar dan akan mengalami kesulitan dalam hal reproduksi.
Di alam bebas burung perkutut biasanya memakan kerikil atau batu kecil untuk membantu menjaga kesehatan saluran pencernaannya. Anda bisa mengakali hal ini dengan cara menaruh potongan-potongan batu bata seukuran genggaman tangan di dasar sangkarnya.
Sebelum anda menaruh potongan batu bata tersebut sebaiknya batu bata dicuci dengan air bersih terlebih dahulu lalu direbus dan disangrai untuk menghindari adanya kemungkinan bakteri yang masih menempel pada batu bata.
Burung perkutut memiliki nama latin Geopelia Striata yang secara harfiah berarti merpati lurik. Di dunia internasional lebih dikenal dengan nama Zebra Dove atau Barred Ground Dove karena warna bulunya bergaris-garis mirip kuda zebra. Sementara di Malaysia dan Singapore dikenal dengan nama burung Ketitir atau Merbok. Dan di Thailand dikenal dengan nama burung Jawa atau Nokkhao Chewa, karena memang berasal dari tanah Jawa. Dan burung perkutut ini termasuk dalam kelas burung bangsa Columbidae atau bangsa merpati-merpatian dimana di kelas ini termasuk didalamnya adalah burung merpati, puter, derkuku/tekukur dan sebangsanya.
Seperti yang kita ketahui bahwa ciri - ciri dari jenis burung merpati-merpatian adalah sbb:
- Hidup berpasangan dan bertelur dua.
- Mempunyai tembolok (pemakan biji-bijian).
- Mempunyai alat yang dapat menutup hidung, sehingga tidak perlu mengangkat kepalanya pada saat    minum.
- Burung jantan bertubuh dan bersuara lebih besar serta menyanyi / berbunyi (bukan berkicau) untuk memikat betina.
    Suara nyanyian yang dihasilkan berasal dari selaput suara (syrinx) yang terletak pada bagian belakang tenggorokan yang berhubungan dengan paru-paru, yang tampak mengembung pada saat berbunyi.

 perkutut tangguh trah pajajaran warna bulu semu kuning, langka

Keunikan burung perkutut  adalah
1. Kotoran perkutut tidak bau, dan cepat kering
2. Ketika makan perkutut tidak rakus, sebagai gambaran makanan yang diisi dalam tempat pakan, tidak akan habis dalam waktu seminggu bahkan lebih
3. Bangkai perkutut tidak bau
4. Walaupun kepala perkutut luka parah sampai terlihat tulangnya perkutut tidak mati (patak warak)
5. Dalam satu ombyokan atau dalam jumlah banyak dalam satu kandang jarang ada yg bertengkar...esensi nya perkutut memiliki jiwa sosial yang tinggi
6. Mempunyai umur yang panjang, secara umum banyak sekali ditemukan umurnya sampai 40 tahun, bahkan ada juga sampai 100 tahun

Legenda Perkutut dan Para Raja



Berdasarkan fakta sulit dipungkiri bahwa perkutut telah  dijadikan klangenan raja raja terdahulu, bahkan pahlawan nasional Pangeran Diponegoro sangat menggemari burung ini. Banyak filosofi yang bisa kita pelajari dari perkutut, salah satunya ialah perkutut dalam satu ombyokan (sangkar yang berisi banyak perkutut) jarang sekali ada pertengkaran, artinya sebagai manusia kita juga harus saling menghargai terhadap sesama umat manusia, filosofi yang lainnya adalah perkutut makannya tidak rakus, sebagai gambaran dalam satu pakan, makanannya tidak akan habis dalam satu minggu, bahkan bisa lebih, perkutut dikenal hewan yang sangat tahan menahan haus, dan lapar, artinya manusia-pun harus bisa menjaga makannya tidak rakus, jangan karena punya uang banyak segala makanan dibeli, dan dimakan, yang berujung kepada banyaknya penyakit, sebagaian besar penyakit karena kesalahan manusia sendiri karena pola makan yang salah.

Ada cerita yang melegenda dalam masyarakat Jawa perihal burung perkutut. Burung ini menurut ceritanya, merupakan jelmaan seorang pangeran yang pada zaman Kerajaan Majapahit dikenal dengan legenda Joko Mangu. Bermula dari hal itu maka kemudian berkembang dalam tradisi masyarakat Jawa bahwa Burung Perkutut menjadi sakral keberadaannya. Bagi Priyayi Jawa, burung menjadi salah satu dari sapta brata yang harus dimiliki. Oleh karenanya masyarakat Jawa khususnya para laki-laki banyak yang memelihara burung atau kukilo khususnya burung perkutut.
Banyak pertimbangan mengapa masyarakat Jawa khususnya kaum lelakinya memelihara burung perkutut. Diantara berbagai pertimbangan tersebut yakni sekedar prestise hingga nguri-nguri ajaran adiluhung nenek moyang. Leluhur orang Jawa dulu sering memberi wejangan bahwa manuk (burung) terdiri dari unsur kata ma (manjing) dan nya (nyawa) yang artinya urip atau hidup. Wejangan itu kemudian diterjemahkan dengan “aja mung ngoceh, nanging manggungo utawa yen ngomong kudu sing mentes” artinya kalau berbicara harus yang berisi.
Selama ini terdapat dua macam kategori orang yang gemar akan burung perkutut, yakni karena anggung (suara) dan karena cirimati (ciri baku) atau katuranggan. Orang yang menyukai burung perkutut karena anggung atau suaranya kebanyakan akan diikutsertakan dalam lomba atau sekedar hanya untuk klangenan. Sementara yang suka burung perkutut karena cirimati atau katuranggan biasanya memiliki kepercayaan bahwa dengan memelihara burung perkutut akan bisa mendatangkan rezeki atau keberuntungan.
Konon kepercayaan masyarakat Jawa akan katuranggan, angsar atau tangguh burung perkutut dipengaruhi oleh legenda Joko Mangu. Diceritakan dalam legenda tersebut bahwa saat zaman Kerajaan Majapahit dulu ada burung perkutut yang merupakan jelmaan Pangeran dari Pajajaran yang bernama Joko Mangu. Burung tersebut lepas dari Pajajaran dan terbang ke arah timur hingga ke Majapahit. Selanjutnya Burung Perkutut dengan nama Joko Mangu itu lepas lagi dari Majapahit dan terbang ke arah pesisir. Artinya pulung atau keberuntungan Majapahit lepas dan akhirnya menuju ke arah pesisir hingga munculah Kerajaan Demak. Dari pesisir akhirnya Joko Mangu terbang lagi dan menuju ke selatan dan ditemukan oleh Ki Ageng Paker dari Ngayogyakarta.
Dalam memelihara burung perkutut yang perlu dipersiapkan adalah diri pribadi orang itu sendiri. Artinya, kepercayaan akan katuranggan, pulung atau angsar dan tangguh harus tetap ditempatkan pada posisi yang semestinya. Kepercayaan akan Tuhan menjadi mutlak, melebihi kepercayaan pada siapa dan apapun. Mengenai pulung atau wahyu, akan datang dengan sendirinya, jika seseorang itu telah benar-benar tertata. Dalam dunia pewayangan selalu pulung sing nggoleki uwong, dudu uwong sing nggoleki pulung atau isi sing nggolek wadhah, dudu wadhah sing nggoleki isi.
Perkutut Tangguh
1. Pajajaran meliputi Jawa Barat warna ungu dari bulu badan, kaki, sampai genta dan kelopak mata
2. Majapahit terutama Malang dan Jember warna dari bulu badan hijau bambu, sampai kaki, genta dan kelopak mata
3' Demak Jawa Tengah bagian Utara warna kaki kemerah merahan samapi genta dan kelopak mata
4. Pajang Jawa Tengah antara g Lawu sampai g Merapi warna kaki blawuk sampai genta dan kelopak mata
5. Mataram Jawa Tengah pesisir Selatan KLaten sampai Cilacap warna kakinya keputih putihansanpai ke genta, kelopak mata dan paruhnya yang pendek
6. Sedayu Jawa Timur bagian utara Tuban Bojonegoro warna kakinya putih agak kelabu sampai genta dan kelopak mata
7. Bali meliputi wilayah Bali warna biru dari bulu badan sampai genta dan kelopak mata

video
video perkutut putih dengan suara triple (ketk 3 kali)

Senin, 09 November 2015

Sadikin, Proklamator Tentara Nasional Indonesia


Sadikin, Proklamator Tentara Nasional Indonesia
Oleh: HENDRI F. ISNAENI

SEJARAH resmi mencatat bahwa Tentara Nasional Indonesia terbentuk pada 5 Oktober 1945 –diperingati sebagai hari ulangtahun TNI. Namun, ternyata proklamasi tentara Indonesia telah dilakukan sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Sehari sebelumnya, 16 Agustus 1945, Sadikin, seorang bintara Heiho (pembantu prajurit Jepang) bagian artileri udara, mendapat kabar bahwa Jepang telah melakukan kapitulasi atau penyerahan terhadap Sekutu. Dia bersama teman-temannya meminta tentara Jepang untuk tetap di kantor. Dia mengambil-alih pimpinan upacara pengibaran bendera merah putih.

“Pada upacara apel Sadikin berpidato bahwa Indonesia sudah merdeka dan Peta/Heiho jadi Tentara Nasional,” kata Jenderal Besar Abdul Haris Nasution dalam Bisikan Nurani Seorang Jenderal.

Di buku lain, Jenderal Tanpa Pasukan, Politisi Tanpa Partai, Nasution bahkan menyatakan “Sadikin memproklamirkan Indonesia jauh lebih pagi daripada Bung Karno yang saat itu masih ragu-ragu.”

Sadikin lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 11 April 1916. Dia menjadi sersan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) dari 1939 sampai Jepang menduduki Indonesia. Dia kemudian bergabung dengan bagian artileri udara Heiho serta bertugas di Jakarta, Surabaya, dan Semarang.

Menurut Purbo S. Suwondo dalam PETA: Tentara Sukarela Pembela Tanah Air, dalam pidato proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sukarno menghindari pembentukan tentara nasional. Salah satu alasannya karena Jepang dan Inggris (Sekutu) masih memiliki persenjataan lengkap.

Baru pada 23 Agustus 1945, Sukarno mengumumkan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dia mengundang bekas anggota Peta, Heiho, dan para pemuda untuk memasuki BKR sambil menunggu terbentuknya tentara nasional, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pada 5 Oktober 1945. TKR berubah menjadi Tentara Republik Indonesia pada Januari 1946 dan Tentara Nasional Indonesia pada 3 Juni 1947.

Proklamasi tentara oleh Sadikin dijejaki oleh Inspektur I Moehammad Jasin, komandan Polisi Istimewa, yang memproklamasikan Polisi Republik Indonesia di halaman markas Polisi Istimewa, Jalan Coen Boelevard, Surabaya –kini Jalan Polisi Istimewa– pada 21 Agustus 1945.

Karier Sadikin terbilang cemerlang. Di masa revolusi, dia berturut-turut menjadi komandan Resimen 6 Cikampek, Brigade 4 Divisi Siliwangi di Tasikmalaya, Brigade 2 Divisi Siliwangi yang hijrah dan berkedudukan di Surakarta, dan kemudian komandan daerah militer Madiun setelah memadamkan peristiwa PKI Madiun. Puncaknya, dia menjabat panglima Divisi Siliwangi (1949-1951) dan panglima Tanjungpura (1951-1956). Setelah itu, dia menjadi inspektur jenderal teritorial dan perlawanan rakyat di markas besar AD.

Di masa pensiun, Sadikin menjadi presiden direktur PT Bank Internasional Indonesia di Jakarta dan ketua BPC (Badan Pembina Citra) Siliwangi, Jakarta. Dia tutup usia di Jakarta pada 1 Maret 1986.

diambil dari
http://www.mosco.or.id/sadikin-proklamator-tentara-nasional-indonesia/

Sumber: Historia

Senin, 09 Maret 2015

Tugu Presiden Soekarno, 1951, Sumber Jaya, Lampung Barat

http://www.mahamerulambar.com/2010/12/tugu-ir-soekarno-sumber-jaya-lampung.html
Hari itu tanggal 14 Nopember 1952,Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno,melakukan peletakan batu pertama pendirian Tugu Peringatan yang sekarang terletak di Kelurahan Tugu Sari depan Koramil Kecamatan Sumberjaya, Tugu tersebut sebagai tanda diresmikannya keseluruhan wilayah Way Tenong dan Way Tebu menjadi wilayah yang Bernama SUMBERJAYA.Oleh Presiden Soekarno dinamakan Sumberjaya karena beliau menginginkan wilayah itu sebagai sumber kejayaan. 


Wilayah kecamatan Sumberjaya sebelumnya merupakan hutan belantara yang termasuk bagian dari wilayah Kerajaan/Marga Kenali (sekarang masuk wilayah kecamatan Belalau) kemudian datanglah penduduk baru yang berasal dari Marga Balik Bukit dan Sumatera Selatan,tetapi sekarang belum diketahui secara pasti kapan penduduk tersebut datang dan membuka wilayah hutan belantara tersebut.Penduduk dari Marga Balik Bukit membuka wilayah hutan Way Tebu yang sekarang menjadi Pekon Muarajaya I & Muarajaya II.Setelah wilayah-wilayah ini berkembang dengan pesat maka Pasirah Kenali dengan Upacara Adat meresmikan wilayah tersebut menjadi marga yang berdiri sendiri,yang berada di wilayah Way Tenong diberi nama Marga Way Tenong dan yang berada di Way Tebu diberi nama Way Tebu
Perkembangan berikutnya,Biro Rekontruksi Nasional BRN mengadakn penelitian di daerah tersebut apakah ada kemungkinan utk menempatkan penduduk baru yang berasal dari Jawa.Atas dasar tersebut pada tahun 1950/1951 dengan ijin Residen Lampung waktu itu Mr.Gele Harun didatangkanlah penduduk baru dari Jawa Barat ( Tasik Malaya,Garut,Ciamis,Kerawang dan sekitarnya).Rombongan transmigrasi dibagi dua : 1 Partisan Siliwangi dibawah pimpinan Raden Ama Puradireja,dengan membuka hutan di wilayah Way Tenong dan Way Tebu yang sekarang menjadi Pekon Sukajaya,Purajaya,Purawiwitan,Simpangsari dan Puralaksana.Rombongan ini berasal dari kabupaten Tasik Malaya dibawah pimpinan Bandaniji Suja'i Kanta Atmaja dan Tanu Wijaya dan membuka hutan yang sekarang menjadi pekon Tribudisyukur dan Sukapura

 Untuk menghindari persengketaan wilayah Way Tebu dan wilayah Way tenong yang semula merupakan wilayah kekuasaan Bukit Kemuning maka diresmikanlah keseluruhan wilayah Way Tebu dan wilayah Way tenong tersebut menjadi wilayah yang berdiri sendiri di beri nama Sumberjaya oleh Presiden RI Ir Soekarno pada tanggal 14 Nopember 1952 ( Sumber Info : Arsip kecamatan Sumber Jaya Lampung Barat, Foto-foto #DutaSuhanda, @MahameruFMLiwa)

https://purawiwitan.wordpress.com/2012/07/15/legenda-dan-sejarah-pekon-2/
Legenda dan Sejarah Pekon Purawiwitan

Pekon purawiwitan mulai berdiri secara administratif pada tanggal 23 september 1953 yang semula sebagai pemukiman baru yang berasal dari kabupaten karawang Jawa Barat yakni berupa transmigrasi Biro Rekonstruksi Nasional (BRN). Adapun Transmigrasi tersebut datang di daerah pemukiman baru ini yaitu pada tahun 1952, yang terdiri dari satu rombongan yang dipimpin oleh Ama Raden Puradireja Guru Organisasi PS/Partisan Siliwangi dari Sagala Herang Subang Jawa Barat yang terdiri dari 715 KK..

Dimana diantara jumlah tersebut diatas 340 KK adalah yang menjadi penghuni Pekon Pura Jaya sekarang ini, sedangkan 375 KK adalah yang menjadi penghuni Pekon Purawiwitan yang waktu itu terdiri dari 1500 jiwa. Saat berdirinya Pekon Purawiwitan pada tahun 1953 yang mempunyai Pemerintahan Pekon tersendiri pada waktu itu yang menjadi Kepala Desa adalah Sdr. AHIM. Nama Purawiwitan diberikan oleh Raden Ama Puradireja yang berasal dari kata PURA artinya Gerbang , WIWITAN artinya Memulai /Pertama. Saat awal berdiri Purawiwitan memiliki 3 Kapunduhan yang saat ini artinya Kepemangkuan dan beberapa orang RT yaitu Kapunduhan Tanjung Reja, Cipta Daya dan Cipta Negara .

 

Rabu, 25 Februari 2015

Manakib Ama Muhammad Satrip, Cipeucang, Banten

The Great of Grand Master, gelar itulah yang paling cocok diberikan kepada Ama Muhammad Satrip, Cipeucang, Banten. Karena dari tangan beliau telah banyak lahir bukan hanya pelatih, tetapi para ketua pelatih, PS menyebar dari bumi banten, jakarta, bekasi, bogor, sukabumi, cianjur, bandung, lampung, dan beberapa daerah lainnya. Anggota-nya pun mencapai ribuan, sebut saja di daerah bogor saja, anggota PS dari cilendek sampai parung, gunung batu, ciampea, leuwi liang, jumlahnya mencapai ribuan pada tahun 1960-an.
 Ama Satrip, begitulah nama panggilannya yang terkenal, beliau dilahirkan dari ibu Hj Rasmi dan ayahnya Haji Saram, mengenal PS sekitar tahun 1930-an dari pendiri PS 1922, tidak lama setelah mempelajari ajaran PS, beliau sudah dipercaya menjadi seorang pelatih, tidak lama berselang beliau-pun dipercaya menjadi ketua pelatih, murid muridnya bukan hanya sekitar cipeucang, banten, tetapi mencapai ujung kulon, dan daerah banten lainnya. Ada kemungkinan Ama Satrip berkenalan dengan pendiri PS, saat beliau berttugas sebagai guru sekolah di ujung kulon, seperti diketahui pendiri PS pernah melakukan perjalanan dan tinggal lama di ujung kulon, sampai saat ini-pun peninggalan perjalanan pendiri PS masih ada. Salah satu kenangan yang tersimpan di dalam hati ibu Satrip (almahurmah) adalah ketika  pemerintahan jepang (tahun 1942-1945), ibu Satrip, Ama Satrip, Pendiri PS dan beberapa rombongan lainnya melakukan perjalanan ke ujung kulon, diantaranya ada seorang jepang  yang telah mengikuti ajaran PS bernama Kurokawa. Tidak diketahui dari kapan warga negara jepang ini mengikuti Pendiri PS, tapi yang pasti Kurokawa ini seorang yang patuh kepada Pendiri PS. Perjalanan bukan hanya via darat tetapi melalui laut yang ombaknya terkenal, begitu yang diucapkan Ibu Satrip (almarhumah).
 Perjalanan berikutnya yang diikuti oleh Ibu Satrip ke ujung kulon, ketika tahun 1960-an, saat itu Ama Satrip, Pendiri PS,  Brigjen R Darsono, dan rombongan lainnya, naik kapal motor dari Labuan, setelah sampai di ujung kulon, Pendiri PS diberikan tunggangan kuda oleh warga PS, tetapi beliau menolak, dan mempersilahkan Brigjen Darsono, untuk menaiki kuda itu, akhirnya Pendiri PS berjalan kaki mendampingi Brigjen Darsono ke lokasi tinggal warga PS di sekitar Taman Jaya, Ujung Kulon.
 Ama Satrip, mengawali kariernya sebagai seorang guru sekolah, berbagai tempat telah dilakoninya saat sebelum kemerdekaan, diantaranya ujung kulon, dan daerah banten lainnya. Beliau juga  pernah tinggal di Paseban, Jakarta Pusat, pernah juga aktif di  PNI bersama Ir Soekarno, saat merintis kemerdekaan. Setelah merdeka, beliau kembali ke banten, menjalankan profesinya sebagai guru. Jabatan terakhir yang disandangnya adalah “Penilik Sekolah”, suatu jabatan yang sangat tinggi, apalagi pada saat itu, beliau wafat sekitar tahun 1966 di Cipeucang, Banten, dan sampai saat ini pun nama beliau sangat dikenal oleh masyarakat sebagai “Bapak Penilik”, Ama Satrip dimakamkan di  atas bukit di desa Kadu Ketug, Cipeucang, Banten. Adapun jarak makam dengan rumah Ama Satrip sekitar 3 KM, dengan kondisi menanjak, saat itu kondisi jalan tidak terlalu bagus,  masih beralas tanah, bisa dibayangkan bagaimana beratnya medan ke lokasi pemakaman, tetapi Tuhan YME berkehendak lain, pada saat Ama Satrip wafat, banyak sekali yang datang, saksi mata menyebutkan seperti lautan manusia yang tidak terhingga, untuk menghantarkan ke pemakaman, sampai akhirnya keranda Ama Satrip tidak digotong ke atas bukit, tetapi hanya digeser secara estafet dari tangan ke tangan, hingga keranda itu sampai di lokasi pemakaman kadu ketug yang jaraknya kurang lebih 3 KM dari rumah, SUBHANNALAH......
 Adalah adik Ama Satrip yang juga berperan dalam menyebarkan PS di tanah banten, yaitu Ama Haji  Muhammad Sapik, beliau dikenal juga sebagai jaro, lurah. Karena profesi beliau sebagai lurah saat itu, tidak diketahui banyak cerita tentang Ama Muhammad Sapik, karena beliau wafat lebih dahulu, Ama Haji Muhammmad Sapik, dimakamkan bersebelahan dengan Ama Muhammad Satrip, di Kadu Ketug, Cipeucang, Banten.
 Pengalaman Bapak H Abbas Heriz (alm), ketika beliau masih muda sekitar tahun 1960-an, saat itu terjadi banyak pemberontakan seperti DI/TII, PRRI, PERMESTA, dll. Aparat pemerintah melakukan penjagaan ketat di setiap di tempat tempat fasilitas umum, seperti terminal, pelabuhan, dan lain lain, dengan memeriksa/merazia berbagai senjata tajam/api. Bapak Abbas Heriz yang saat itu menginap di rumah Ama Satrip, di Cipeucang, Banten, hendak melakukan perjalanan ke Lampung menemui Pendiri PS, bersama Ama Satrip, Ama Hasan. Bapak Abbas Heriz yang waktu itu masih muda diserahi tugas membawa tas/ransel yang berisi keris, golok, tombak, dan berbagai benda pusaka lainnya. Ketika sampai di pelabuhan merak beliau sempat ragu karena adanya penjagaan ketat dari aparat, semua tas yang melewati diperiksa yang kedapatan membawa senjata tajam, api dikenakan langsung ditangkap. Ketika itu Pa Abbas yang berdiri di belakang Ama Satrip, sementara Ama Hasan Basri di belakang Pa Abbas (Pa Abbas diapit oleh Ama Satrip dan Ama Hasan), sempat diam (ngarandeg, bahasa sunda), karena ragu, akhirnya di belakang Ama Hasan Basri menepuk pundak Pa Abbas Heriz, dengan berkata “lajengken juragan” (teruskan juragan), kejadian aneh-pun muncul saat itu tas yang berisi keris, golok, tombak, yang terlihat menonjol keluar sama sekali tidak diperiksa, kaget bercampur haru Pa Abbas saat itu, akhirnya tas/ransel yang berisi golok, tombak, keris sama sekali tidak diperiksa aparat, hal yang samapun terjadi ketika tiba di pelabuhan lampung. Salah satu ucapan yang terkenal dari Ama Satrip adalah "Hirup Katungkul Ku Upah, Paeh Teu Nyaho Diwayah", artinya manusia dalam setiap langkahnya selalu mengharapkan imbalan/upah, untuk pekerjaan yang berbau ekonomi/usaha memang wajar, seperti dagang, bekerja, dll, tetapi untuk ibadah harus dilakukan secara iklas, sodaqoh jika dilakukan mengharap upah/imbalan pujian tidak baik, solat berharap mendapat upah agar disebut soleh tidak baik, dst, padahal manusia setiap saat diintai oleh maut, artinya kematian akan datang kapan saja tanpa mengenal waktu. Bayangkan jika pada saat ajal menjelang, amal yang dilakukan penuh harapan ingin diberi upah pujian apa jadinya ?
Ama Muhammad Satrip, Tjipeucang, Banten, 1962

Salah satu cucunya adalah Laksmana TNI Ir. Eden Gunawan, yang menjabat kepala BIN di Maluku, Laskmana TNI Ir Eden Gunawan adalah anak dari Drs Husein Sastra (alm dosen IKIP Bandung, Unpak Bogor) , salah satu tokoh yang ikut mendirikan organisasi PS di Bandung, berdasarkan akta notaris Koswara.