Senin, 09 Maret 2015

Tugu Presiden Soekarno, 1951, Sumber Jaya, Lampung Barat

http://www.mahamerulambar.com/2010/12/tugu-ir-soekarno-sumber-jaya-lampung.html
Hari itu tanggal 14 Nopember 1952,Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno,melakukan peletakan batu pertama pendirian Tugu Peringatan yang sekarang terletak di Kelurahan Tugu Sari depan Koramil Kecamatan Sumberjaya, Tugu tersebut sebagai tanda diresmikannya keseluruhan wilayah Way Tenong dan Way Tebu menjadi wilayah yang Bernama SUMBERJAYA.Oleh Presiden Soekarno dinamakan Sumberjaya karena beliau menginginkan wilayah itu sebagai sumber kejayaan. 


Wilayah kecamatan Sumberjaya sebelumnya merupakan hutan belantara yang termasuk bagian dari wilayah Kerajaan/Marga Kenali (sekarang masuk wilayah kecamatan Belalau) kemudian datanglah penduduk baru yang berasal dari Marga Balik Bukit dan Sumatera Selatan,tetapi sekarang belum diketahui secara pasti kapan penduduk tersebut datang dan membuka wilayah hutan belantara tersebut.Penduduk dari Marga Balik Bukit membuka wilayah hutan Way Tebu yang sekarang menjadi Pekon Muarajaya I & Muarajaya II.Setelah wilayah-wilayah ini berkembang dengan pesat maka Pasirah Kenali dengan Upacara Adat meresmikan wilayah tersebut menjadi marga yang berdiri sendiri,yang berada di wilayah Way Tenong diberi nama Marga Way Tenong dan yang berada di Way Tebu diberi nama Way Tebu
Perkembangan berikutnya,Biro Rekontruksi Nasional BRN mengadakn penelitian di daerah tersebut apakah ada kemungkinan utk menempatkan penduduk baru yang berasal dari Jawa.Atas dasar tersebut pada tahun 1950/1951 dengan ijin Residen Lampung waktu itu Mr.Gele Harun didatangkanlah penduduk baru dari Jawa Barat ( Tasik Malaya,Garut,Ciamis,Kerawang dan sekitarnya).Rombongan transmigrasi dibagi dua : 1 Partisan Siliwangi dibawah pimpinan Raden Ama Puradireja,dengan membuka hutan di wilayah Way Tenong dan Way Tebu yang sekarang menjadi Pekon Sukajaya,Purajaya,Purawiwitan,Simpangsari dan Puralaksana.Rombongan ini berasal dari kabupaten Tasik Malaya dibawah pimpinan Bandaniji Suja'i Kanta Atmaja dan Tanu Wijaya dan membuka hutan yang sekarang menjadi pekon Tribudisyukur dan Sukapura

 Untuk menghindari persengketaan wilayah Way Tebu dan wilayah Way tenong yang semula merupakan wilayah kekuasaan Bukit Kemuning maka diresmikanlah keseluruhan wilayah Way Tebu dan wilayah Way tenong tersebut menjadi wilayah yang berdiri sendiri di beri nama Sumberjaya oleh Presiden RI Ir Soekarno pada tanggal 14 Nopember 1952 ( Sumber Info : Arsip kecamatan Sumber Jaya Lampung Barat, Foto-foto #DutaSuhanda, @MahameruFMLiwa)

https://purawiwitan.wordpress.com/2012/07/15/legenda-dan-sejarah-pekon-2/
Legenda dan Sejarah Pekon Purawiwitan

Pekon purawiwitan mulai berdiri secara administratif pada tanggal 23 september 1953 yang semula sebagai pemukiman baru yang berasal dari kabupaten karawang Jawa Barat yakni berupa transmigrasi Biro Rekonstruksi Nasional (BRN). Adapun Transmigrasi tersebut datang di daerah pemukiman baru ini yaitu pada tahun 1952, yang terdiri dari satu rombongan yang dipimpin oleh Ama Raden Puradireja Guru Organisasi PS/Partisan Siliwangi dari Sagala Herang Subang Jawa Barat yang terdiri dari 715 KK..

Dimana diantara jumlah tersebut diatas 340 KK adalah yang menjadi penghuni Pekon Pura Jaya sekarang ini, sedangkan 375 KK adalah yang menjadi penghuni Pekon Purawiwitan yang waktu itu terdiri dari 1500 jiwa. Saat berdirinya Pekon Purawiwitan pada tahun 1953 yang mempunyai Pemerintahan Pekon tersendiri pada waktu itu yang menjadi Kepala Desa adalah Sdr. AHIM. Nama Purawiwitan diberikan oleh Raden Ama Puradireja yang berasal dari kata PURA artinya Gerbang , WIWITAN artinya Memulai /Pertama. Saat awal berdiri Purawiwitan memiliki 3 Kapunduhan yang saat ini artinya Kepemangkuan dan beberapa orang RT yaitu Kapunduhan Tanjung Reja, Cipta Daya dan Cipta Negara .

 

Rabu, 25 Februari 2015

Manakib Ama Muhammad Satrip, Cipeucang, Banten

The Great of Grand Master, gelar itulah yang paling cocok diberikan kepada Ama Muhammad Satrip, Cipeucang, Banten. Karena dari tangan beliau telah banyak lahir bukan hanya pelatih, tetapi para ketua pelatih, PS menyebar dari bumi banten, jakarta, bekasi, bogor, sukabumi, cianjur, bandung, lampung, dan beberapa daerah lainnya. Anggota-nya pun mencapai ribuan, sebut saja di daerah bogor saja, anggota PS dari cilendek sampai parung, gunung batu, ciampea, leuwi liang, jumlahnya mencapai ribuan pada tahun 1960-an.
 Ama Satrip, begitulah nama panggilannya yang terkenal, beliau dilahirkan dari ibu Hj Rasmi dan ayahnya Haji Saram, mengenal PS sekitar tahun 1930-an dari pendiri PS 1922, tidak lama setelah mempelajari ajaran PS, beliau sudah dipercaya menjadi seorang pelatih, tidak lama berselang beliau-pun dipercaya menjadi ketua pelatih, murid muridnya bukan hanya sekitar cipeucang, banten, tetapi mencapai ujung kulon, dan daerah banten lainnya. Ada kemungkinan Ama Satrip berkenalan dengan pendiri PS, saat beliau berttugas sebagai guru sekolah di ujung kulon, seperti diketahui pendiri PS pernah melakukan perjalanan dan tinggal lama di ujung kulon, sampai saat ini-pun peninggalan perjalanan pendiri PS masih ada. Salah satu kenangan yang tersimpan di dalam hati ibu Satrip (almahurmah) adalah ketika  pemerintahan jepang (tahun 1942-1945), ibu Satrip, Ama Satrip, Pendiri PS dan beberapa rombongan lainnya melakukan perjalanan ke ujung kulon, diantaranya ada seorang jepang  yang telah mengikuti ajaran PS bernama Kurokawa. Tidak diketahui dari kapan warga negara jepang ini mengikuti Pendiri PS, tapi yang pasti Kurokawa ini seorang yang patuh kepada Pendiri PS. Perjalanan bukan hanya via darat tetapi melalui laut yang ombaknya terkenal, begitu yang diucapkan Ibu Satrip (almarhumah).
 Perjalanan berikutnya yang diikuti oleh Ibu Satrip ke ujung kulon, ketika tahun 1960-an, saat itu Ama Satrip, Pendiri PS,  Brigjen R Darsono, dan rombongan lainnya, naik kapal motor dari Labuan, setelah sampai di ujung kulon, Pendiri PS diberikan tunggangan kuda oleh warga PS, tetapi beliau menolak, dan mempersilahkan Brigjen Darsono, untuk menaiki kuda itu, akhirnya Pendiri PS berjalan kaki mendampingi Brigjen Darsono ke lokasi tinggal warga PS di sekitar Taman Jaya, Ujung Kulon.
 Ama Satrip, mengawali kariernya sebagai seorang guru sekolah, berbagai tempat telah dilakoninya saat sebelum kemerdekaan, diantaranya ujung kulon, dan daerah banten lainnya. Beliau juga  pernah tinggal di Paseban, Jakarta Pusat, pernah juga aktif di  PNI bersama Ir Soekarno, saat merintis kemerdekaan. Setelah merdeka, beliau kembali ke banten, menjalankan profesinya sebagai guru. Jabatan terakhir yang disandangnya adalah “Penilik Sekolah”, suatu jabatan yang sangat tinggi, apalagi pada saat itu, beliau wafat sekitar tahun 1966 di Cipeucang, Banten, dan sampai saat ini pun nama beliau sangat dikenal oleh masyarakat sebagai “Bapak Penilik”, Ama Satrip dimakamkan di  atas bukit di desa Kadu Ketug, Cipeucang, Banten. Adapun jarak makam dengan rumah Ama Satrip sekitar 3 KM, dengan kondisi menanjak, saat itu kondisi jalan tidak terlalu bagus,  masih beralas tanah, bisa dibayangkan bagaimana beratnya medan ke lokasi pemakaman, tetapi Tuhan YME berkehendak lain, pada saat Ama Satrip wafat, banyak sekali yang datang, saksi mata menyebutkan seperti lautan manusia yang tidak terhingga, untuk menghantarkan ke pemakaman, sampai akhirnya keranda Ama Satrip tidak digotong ke atas bukit, tetapi hanya digeser secara estafet dari tangan ke tangan, hingga keranda itu sampai di lokasi pemakaman kadu ketug yang jaraknya kurang lebih 3 KM dari rumah, SUBHANNALAH......
 Adalah adik Ama Satrip yang juga berperan dalam menyebarkan PS di tanah banten, yaitu Ama Haji  Muhammad Sapik, beliau dikenal juga sebagai jaro, lurah. Karena profesi beliau sebagai lurah saat itu, tidak diketahui banyak cerita tentang Ama Muhammad Sapik, karena beliau wafat lebih dahulu, Ama Haji Muhammmad Sapik, dimakamkan bersebelahan dengan Ama Muhammad Satrip, di Kadu Ketug, Cipeucang, Banten.
 Pengalaman Bapak H Abbas Heriz (alm), ketika beliau masih muda sekitar tahun 1960-an, saat itu terjadi banyak pemberontakan seperti DI/TII, PRRI, PERMESTA, dll. Aparat pemerintah melakukan penjagaan ketat di setiap di tempat tempat fasilitas umum, seperti terminal, pelabuhan, dan lain lain, dengan memeriksa/merazia berbagai senjata tajam/api. Bapak Abbas Heriz yang saat itu menginap di rumah Ama Satrip, di Cipeucang, Banten, hendak melakukan perjalanan ke Lampung menemui Pendiri PS, bersama Ama Satrip, Ama Hasan. Bapak Abbas Heriz yang waktu itu masih muda diserahi tugas membawa tas/ransel yang berisi keris, golok, tombak, dan berbagai benda pusaka lainnya. Ketika sampai di pelabuhan merak beliau sempat ragu karena adanya penjagaan ketat dari aparat, semua tas yang melewati diperiksa yang kedapatan membawa senjata tajam, api dikenakan langsung ditangkap. Ketika itu Pa Abbas yang berdiri di belakang Ama Satrip, sementara Ama Hasan Basri di belakang Pa Abbas (Pa Abbas diapit oleh Ama Satrip dan Ama Hasan), sempat diam (ngarandeg, bahasa sunda), karena ragu, akhirnya di belakang Ama Hasan Basri menepuk pundak Pa Abbas Heriz, dengan berkata “lajengken juragan” (teruskan juragan), kejadian aneh-pun muncul saat itu tas yang berisi keris, golok, tombak, yang terlihat menonjol keluar sama sekali tidak diperiksa, kaget bercampur haru Pa Abbas saat itu, akhirnya tas/ransel yang berisi golok, tombak, keris sama sekali tidak diperiksa aparat, hal yang samapun terjadi ketika tiba di pelabuhan lampung. Salah satu ucapan yang terkenal dari Ama Satrip adalah "Hirup Katungkul Ku Upah, Paeh Teu Nyaho Diwayah", artinya manusia dalam setiap langkahnya selalu mengharapkan imbalan/upah, untuk pekerjaan yang berbau ekonomi/usaha memang wajar, seperti dagang, bekerja, dll, tetapi untuk ibadah harus dilakukan secara iklas, sodaqoh jika dilakukan mengharap upah/imbalan pujian tidak baik, solat berharap mendapat upah agar disebut soleh tidak baik, dst, padahal manusia setiap saat diintai oleh maut, artinya kematian akan datang kapan saja tanpa mengenal waktu. Bayangkan jika pada saat ajal menjelang, amal yang dilakukan penuh harapan ingin diberi upah pujian apa jadinya ?
Ama Muhammad Satrip, Tjipeucang, Banten, 1962

Silsilah Raja Raja Tatar Sunda

Silsilah Leluhur Prabu Siliwangi

Silsilah Raja Raja Pajajaran

Silsilah Raja Sumedang Larang

Silsilah Pangeran Santri

Hubungan Pangeran Santri & Ratu Pucuk Umum

Silsilah Raja Raja Talaga

Silsilah Raja Raja Banten

Selasa, 17 Februari 2015

Siapakah Prabu Mundisari, Rd Ranggamantri, Parunggangsa, Pucuk Umum ?


Sebelum membahas topik di atas, ada sumber sejarah tanah pasundan yaitu naskah Bujangga Manik yang tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris. Bujangga Manik adalah seorang rohaniawan yang melakukan perjalanan rohani/spiritual/ziarah ke tempat tempat sakral/keramat /kabuyutan di tanah jawa dan bali, beliau hidup di penghujung masa kerajaan Pajajaran, dan Majapahit, artinya pada saat itu kedua kerajaan ini masih berdiri, hal itu dibuktikan dengan tempat tempat yang dikunjungi menunjukkan eksistensi kedua kerajaan itu. Kerajaan Majapahit runtuh tahun 1400 Saka atau tahun 1478 Masehi, sedangkan Pajajaran runtuh tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka atau tanggal 8 Mei 1579 M. Artinya Bujangga Manik melakukan perjalanan sebelum tahun 1478 M, tidak diketahui pasti tahun berapa perjalanan itu dilakukan, perkiraan 5 atau 10 tahun sebelum majapahit runtuh sekitar 1470-an.

Naskah Bujangga Manik berbentuk puisi-prosa yang terdiri atas 1641 baris, diperkirakan ditulis pada abad ke-15. Naskah Bujangga Manik ditemukan oleh Andrew James, seorang pedagang asal Newport. Naskah ini lalu diserahkan kepada Perpustakaan Bodleian, Oxford pada 1627 oleh saudagar tersebut. Baru tahun 1968 (341 tahun semenjak diterima oleh perpustakaan di Oxford), naskah ini diteliti oleh seorang peminat naskah kuno dari Belanda, yakni Jacobus Noorduyn. Noorduyn-lah yang kemudian selama berpuluh-puluh tahun meneliti naskah ini, yang kemudian dibuatlah artikel berjudul Bujangga Manik Journeys through Java: Topographical Data from an Old Sundanese Source? Akan tetapi, Noorduyn wafat sebelum sempat mengumumkan penelitiannya yang menyeluruh atas naskah Bujangga Manik ini. pekerjaannya yang terputus ini lalu diteruskan oleh seorang sahabatnya yang juga peminat budaya dan sastra Indonesia yang juga berkebangsaan Belanda, bernama A. Teeuw. Teeuw melengkapi kajian-kajian Noorduyn atas naskah Bujangga Manik (termasuk dua naskah lainnya: Putra-purta Rama dan Rawana dan Perjalanan Sri Ajnyana). Dari sini lahirlah buku berjudul Three Old Sundanese Poem (2006) yang diterjemahkan oleh Hawe Setiawan dengan judul Tiga Pesona Sunda Kuna (2008). Noorduyn dan A. Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung mungkin juga disusun pada masa Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran masih eksis dan ketika Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511, di mana Malaka telah menguasai jalur perniagaan sejak 1440.

Naskah Bujangga Manik menceritakan seorang petapa, rohaniawan yang memilih hidup sebagai petualang untuk memuaskan batin spiritualnya, padahal ia merupakan seorang tohaan (pangeran) istana Pakuan. Tokoh utamanya bernama Bujangga Manik, dan di beberapa halaman berubah menjadi Ameng Layaran. Ada sekitar 450 nama tempat yang ia singgahi, termasuk di antaranya 90 nama gunung dan 50 nama sungai terbentang dari Sunda bagian barat (Pakuan) sampai Pulau Bali dimana sebagian nama-nama geografis tersebut masih dikenal hingga kini. Selain berfungsi sastrawi yang indah, Bujangga Manik bisa dikatakan sebagai ensiklopedi geografi Jawa?di mana tedapat ulasan berbagai segi kehidupan, baik dari budaya, agama, geografi, bahasa, arsitektur. Menurut A. Teeuw, kritikus sastra asal Belanda tersebut, naskah Bujangga Manik, sama seperti naskah-naskah Sunda kuno lainnya, bersifat otentik, tidak disalin, dan hanya satu-satunya di dunia (codex uniqus). Sayang, hingga kini naskah ini masih tersimpan di perpustakaan di Inggris.

Dalam naskah Bujangga Manik tertulis :

Sacu(n)duk aing ka Wakul,

sadatang ka Pacelengan,

ngalalar aing ka Bubat,

cu(n)duk aing ka Mangu(n)tur,

ka buruan Majapahit,

ngalalar ka Dar/ma Anyar, /15r/

na Karang Kajramanaan,

ti kidulna Karang Jaka.

(Setiba di Wakul,

sampai di Pacelengan,

aku berjalan melewati Bubat,

dan tiba di Maguntur,

alun-alun Majapahit,

pergi melewati Darma Anyar,

dan Karang Kajramanaan,

sebelah selatan Karang Jaka.)



Bait di atas menunjukkan beberapa nama tempat di Majapahit, diantaranya Maguntur, Bubat, dan alun alun Majapahit, artinya pada saat itu kerajaan Majapahit masih eksis keberadaannya. Kemudian mohon perhatikan bait lain dari Naskah Bujangga Manik :

Ku ngaing geus kaideran,

lurah-lirih Majapahit,

palataran alas Demak.

Sanepi ka Jati Sari,

datang aing ka Pamalang.

(Aku berkelana

melewati wilayah-wilayah berbeda di Majapahit,

dan daerah dataran Demak.

Setiba di Jati Sari,

aku datang ke Pamalang.)

bait di atas menunjukkan daerah Demak, sebelumnya Demak dikenal dengan nama desa Glagahwangi, setelah Raden Fatah membangun pesantren dan mesjid, menjadi daerah yang banyak dikunjungi dan berubah menjadi Demak, artinya Bujangga Manik pada saat berkunjung ke jawa tengah saat itu Majapahit masih berdiri dan kerajaan Demak sudah dikenal tetapi masih merupakan perdikan kerajaan Majapahit.

Kemudian mohon perhatikan bait dari naskah Bujangga Manik berikutnya :

Itu ta bukit Caremay,

tanggeran na Pada Beunghar,

ti kidul alas Kuningan,

ti barat na Walangg Suji,

inya na lurah Talaga.

(Itu Gunung Ceremay,

pertanda/pilarnya Pada Beunghar,

di selatan wilayah Kuningan,

ke baratnya Walang Suji,

di situlah wilayah Talaga.)

alas di atas bermakna wilayah, sedangkan lurah berarti lembah/jurang yang dangkal, artinya membandingkan 2 daerah antara alas dan lurah., berarti Walungsuji sebagai ibukota dari wilayahnya adalah Talaga. Ini adalah sebagai bukti keberadaan kerajaan Talaga di wilayah Majalengka.

Dalam sejarah sumedang ditulis bahwa raja sumedang larang, Prabu Tajimalela berputra Prabu Gajah Agung berputra Istri Rajamantri menikah dengan Prabu Siliwangi/Pamanah Rasa/Jayadewata, sedangkan anak Prabu Gajah Agung yang lain yaitu sunan guling dan keturunannya kelak melanjutkan kerajaan sumedang larang, yang menikah dengan pangeran santri.

Dari pernikahan Prabu Siliwangi dengan Istri Rajamantri melahirkan seorang putra bernama Prabu Munding Sari Ageung/Munding Surya/ Mundilaya. Prabu Munding Sari Ageung kelak menikah dengan Ratu Mayang Karuna anak dari Resi Garasiang yang seharusnya menjadi raja Talaga tetapi karena lebih tertarik dengan kerohanian/agama beliau memberikan tahta raja kepada adiknya yaitu Prabu Darma Suci 2.

Menurut sejarawan Tatang M. Amirin kelahiran Maja Kaler, Majalengka, sekarang dosen tetap di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prabu Munding Surya (Sari) Ageung, setelah menikah dengan Dewi Mayang Karuna, diberi kekuasan wilayah Kerajaan Maja, mencakup Garasiang (ini terletak di utara Talaga). Jadi, dapat dikatakan bahwa Prabu Munding Surya (Sari) Ageung dapat diduga merupakan raja pertama Kerajaan Maja (tahunnya belum bisa dipastikan). Ketika membicarakan daerah Maja (salah satu kecamatan di Kabupaten Majalengka sekarang) yang akan, atau pernah diketahui, dari lacakan Kerajaan Talaga, hanya ada dua. Pertama: dulu merupakan kadaleman di bawah Kerajaan Talaga yang dipimpin oleh Dalem Lumaju Agung dan para penerusnya. Kadaleman adalah bagian dari erajaan Talaga(sebenarnya sudah tidak ada) yang dipimpin oleh para putra Raja. Kedua, Maja merupakan cikal bakal Kabupaten Majalengka (5 Januari 1819 Kabupaten Maja berdiri) dan sekaligus otanyamenjadi ibu kota Kabupaten (suka salah dianggap ibu kotanya di Sindangkasihihat peta Kabupaten Maja). Tidak pernah ada yang mengiraetidaknya tidak pernah disebut dalam abad Talaga–bahwa Maja itu dahulunya merupakan sebuah Kerajaan (di bawah Galuh-Pajajaran) juga, seperti halnya Talaga. Hanya sedikit literatur yang menulis tentang Prabu Munding Sari Ageung, ada juga yang mengkaitkan dengan kisah Mundilaya Dikusumah.

Dari perkawinannya dengan Dewi Mayangkaruna itu itu Prabu Munding Surya (Sari) Ageung memperoleh putra, Raden Rangga Mantri kemudian diberi wilayah untuk dipimpin dengan gelar atau julukan Raden Parung Gangsa. Parung gangsa dapat diartikan sebagai lembah perunggu bahan pembuat gamelan. Daerah di sekitar Maja yang bernuansa arung gangsaitu diduga Anggrawati (anggara = Selasa, sesajinyaperunggu atau kuningan, wati atau vati = tempat). Raden Rangga Mantri kemudian menikah dengan Dewi Wulansari atau Dewi Sunyalarang yang kemudian menjadi raja dengan gelar atau Ratu Parung, Ratu Kerajaan Talaga yang meneruskan tahta ayahnya Sunan Parung. Oleh karena perkawinan tersebut, maka Kerajaan Maja digabungkan dengan Kerajaan Talaga.

Kontradiksi

Versi Cirebon,

Sekitar tahun 1525-1529 di Cirebon ada pesta besar, dalam pesta itu itu ada arak arakan/karnaval yang melibatkan pasukan Cirebon dan Demak, pawai, arak arakan itu tidak terasa sudah jauh melewati Cirebon dan mulai memasuki wilayah Talaga, di depan arak arakan itu terdiri dari pasukan Demak, sedangkan Cirebon di belakang, ketika memasuki wilayah Talaga, pasukan Demak itu ditanya oleh pasukan Talaga dalam bahasa sunda ada apa maksud kedatangannya ke Talaga dalam pasukan besar, karena tidak mengerti terjadilah salah paham sehingga terjadi peperangan besar, pasukan Cirebon/Demak yang dalam jumlah besar dan persenjataan lengkap berhasil mendesak pasukan Talaga, kemudia para prajurit Talaga itu melaporkan kejadian ini kepada senapati dan putra mahkota Aria Kikis (Wanaperi) yang merupakan putra Raden Ranggamantri/ParungGangsa/Pucuk Umum dengan Ratu Parung. Senapati Aria Kikis mengamuk dan banyak mengorbankan prajurit Cirebon, prajurit Talaga bangkit moral-nya, membantu Senapati Aria Kikis, berhasil mendesak mundur pasukan Cirebon keluar wilayah Talaga.

Pasukan Cirebon melaporkan kepada Sunan Gunungjati/Syekh Syarief Hidayatullah, beliau datang menemui Senapati Aria Kikis berikut pasukannya, seketika itu Aria Kikis takluk dengan pasukannya , serta menyatakan masuk Islam, sedangkan ayahnya Prabu Pucuk Umum menolak, melarikan diri ke gunung Ciremai.

Versi Talaga,

Peperangan itu terjadi akibat pasukan Demak dan Cirebon meminta pajak yang sangat besar kepada rakyat Talaga, merasa ditindas rakyat melapor kepada Senapati Aria Kikis, kemudian Senapati Aria Kikis melakukan penelusuran ke bawah apakah benar laporan ini, setelah fakta yang dikumpulkan lengkap Senapati Aria Kikis mengajukan protes kepada Cirebon, pihak cirebon tidak menerima, akhirnya terjadilah perang, Senapati Aria Kikis mengobarkan perang suci, Talaga yang jumlah pasukan dan perlatan perangnya lebih bisa mengusir keluar pasukan Cirebon keluar dari Talaga, tidak terhitung korban di pihak Cirebon, Sunan Gunung Jati mendengar konflik ini dan mendatangi Senapati Aria Kikis di Talaga. Senapati Aria Kikis meminta maaf kepada Kanjeng Sunan Gunung Jati atas kesalahan ini, dan Sunan gunung Jati-pun saat itu berfatwa bahwa peperangan ini sudah menjadi kehendak Allah, dan bukan perang agama, ini akibat salah paham saja. Konsekwensinya terjadi kesepakatan Perjanjian Keraton Ciburang, salah satunya adalah Senapati Aria Kikis harus mundur sebagai raja Talaga, dan harus mengasingkan diri (berkhalwat) ke hutan, kelak kemudian hari beliau dikenal dengan nama Adipati Wanaperih (Wana=hutan, perih=sakit, prihatin), artinya senapati yang melakoni hidup prihatin di hutan. Deklarasi Kesepakatan Keraton Ciburang ini, terjadi sekitar tahun 1550 M, artinya saat itu Raden Rangga Mantri/Pucuk Umum sudah tidak menjabat sebagai raja lagi (meninggal), mulai saat itu kerajaan Talaga di bawah pengawasan Cirebon.

Pembahasan

Dalam sejarah versi Cirebon ada beberapa hal yang tidak sesuai fakta, diantaranya pada tahun 1525-1530 M, raja Talaga yaitu Raden Ranggamantri/Pucuk Umum menolak masuk islam dan melarikan diri ke gunung Ciremai, padahal faktanya beliau beserta istrinya Ratu Parung/Sunyalarang sudah masuk Islam, hal ini dibuktikan dengan keberadaan makam beliau di dekat situ Sangiang kecamatan Talaga, Majalengka menjadi tempat penziarahan umat Islam, mustahil jika beliau belum menjadi seorang muslim. Bahkan gelar Pucuk Umum itu diberikan oleh sinuhun Kanjeng Sunan Gunung Jati, saat beliau masuk islam tahun 1525-1530 M, Pucuk Umum (Makmun menyebut tadinya Pucuk Umun–bahasa Sunda kuno, diganti jadi Pucuk Umum, karena umum artinya seluruh umat Islam. Ini salah etimologi, karena ummat (bahasa Arab, tunggal) jamaknya (plural) bukan umum tapi umam, artinya beliau menjadi pimpinan atau imam di Talaga. Masuk islamnya Raden Rangga Mantri, kemungkinan besar disebabkan karena mereka adalah sama sama cucu dari Prabu Siliwangi, Sunan Gunung Jati cucu Prabu Siliwangi dari dari Subang Larang, sedangkan Raden Rangga Mantri adalah cucu Prabu Siliwangi dari Prabu Munding Sari Ageung/Mundinglaya

         Pintu Gerbang Makam Sunan Parunggangsa/Ranggamantri/Pucuk Umum


                                     Pintu masuk ke makam Rd Parunggangsa/Rd Ranggamantri


Makam Sunan Parung Gangsa/Rangga Mantri/Pucuk Umum



Tentang Pucuk Umum

Banyak cerita menyebutkan bahwa Prabu Pucuk Umum adalah raja yang menolak masuk Islam, ada yang menyebut melarikan diri ke gunung ciremai, ada yang menyebut raja Talaga itu melarikan diri ke Banten, karena tidak mau masuk islam, dan ada yang menyebut juga menolak agama islam di Banten, serta melarikan diri ke Baduy.

Pucuk Umum merupakan gelar/pangkat yang diberikan kepada penguasa di tatar sunda, ada beberapa daerah yang mempunyai nama ini, diantaranya :

  1. Pucuk Umum di Talaga, adalah anak dari Prabu Mundingsari Ageung cucu Prabu Siliwangi/Jayadewata, dikenal juga dengan Raden Ranggamantri/Parunggangsa, mendapat gelar Pucuk Umum dari Susuhunan Jati (Syekh Syarief Hidayatullah), beliau menikah dengan Ratu Sunyalarang (Ratu Parung) yang merupakan pewaris tahta kerajaan Talaga. Adalah Ratu Simbarkencana, pewaris tahta Talaga yang menikah dengan Raden Kusumalaya anak dari Prabu Ningrat Kencana/Dewa Niskala dari Galuh, Raden Kusumalaya ini adalah adik dari Prabu Siliwangi/Jayadewata. Pernikahan Ratu Simbarkencana dan Raden Kusumalaya, mempunyai anak Sunan Corendra/Sunan Parung, Sunan Corendra mempunyai istri 2, 1. Mayangsari anak Prabu Langlangbuana, Kuningan, menurunkan Ratu Sunyalarang (Ratu Parung), Talaga, 2. Ratu Sintawati/Ratu Patuakan anak Sunan Patuakan, raja Sumedang Larang, mempunyai anak bernama Satyasih atau dikenal sebagai Ratu Inten Dewata, kelak menikah dengan Pangeran Santri. Pernikahan Sunan Corendra dengan Mayangsari mempunyai anak bernama Ratu Sunyalarang (Ratu Parung), yang nikah dengan Raden Ranggamantri, sedangkan Sunan Corendra setelah menikah dengan Ratu Sintawati, kelak tinggal di Sumedang Larang meneruskan tahta mertua-nya, wafat di Sumedang Larang. Kekuasaan di Talaga diberikan kepada anaknya Ratu Sunyalarang (Ratu Parung, mengambil nama dari ayahnya). Karena menikah dengan Ratu Sunyalarang, Raden Ranggamantri mempunyai gelar Sunan Parunggangsa(Sunan Parung, sama dengan mertuanya), kelak diberi gelar Pucuk Umum oleh Susuhunan Jati (Syekh Syarief Hidayatullah), beliau dipercaya menyebarkan syiar islam di wilayah Talaga. Baik Susuhunan Jati, ataupun Raden Ranggamantri adalah sama sama cucu Prabu Siliwangi, Raden Ranggamantri adalah anak Prabu Mundingsari Ageung, cucu Prabu Siliwangi dari istrinya bernama Istri Rajamantri (Padwawati) anak dari Prabu Gajah Agung, Sumedang Larang. Sedangkan Sunan Gunungjati anak Lara Santang cucu Prabu Siliwangi dan Subang Larang.
  2. Pucuk Umum di Sumedang Larang, adalah anak Sunan Corendra, Talaga dan Ratu Sintawati, Sumedang Larang, bernama Setyasih yang kelak menikah dengan Pangeran Santri, Ratu Setyasih ini mempunyai gelar Ratu Pucuk Umum juga, berarti antara Ratu Talaga dan Ratu Sumedang Larang adalah saudara seayah, berdasarkan fakta ini Raden Ranggamantri/Parunggangsa yang juga mempunyai gelar Pucuk Umum juga tidak diragukan lagi adalah islam.
  3. Pucuk Umum, Banten, Prabu Siliwangi dari istri Kentring Manik, mempunyai anak Prabu Surawisesa penerus raja Pajajaran, Adipati Suranggana, penguasa Banten Girang, dan Adipati Surosowan, penguasa Banten pesisir. Baik adipati Suranggana ataupun sang Surosowan, sama sama mempunyai gelar Pucuk Umum. Dalam sejarah yang ditulis sejarawan Prof Yoseph Iskandar bersumber naskah Wangsakerta, disebutkan bahwa Adipati Suranggana/Pucuk Umum, Banten Girang adalah murid Syekh Ali Rahmatullah (Sunan Ampel), ketika itu Sunan Ampel dalam perjalanan dari Campa ke Jawa Timur, singgah di Banten, kedatangan beliau diterima dengan hormat oleh penguasa Banten, pesisir Sang Surosowan dan Banten Girang, sang Suranggana. Dari fakta ini sang Suranggana/Pucuk Umum Banten, Girang, adalah orang banten pertama yang memeluk agama islam, dari adipati Suranggana ini mempunyai anak dikenal dengan nama Ki Mas Jong dan Agus Ju, merupakan makam yang sering diziarahi umat islam di Banten, Girang, makam di Banten Girang, tokoh yang membantu Sultan Maulana Hasanudin menyebarkan agama islam di tatat Banten, dan makam kedua tokoh ini adalah salah satu makam yang sering diziarahi umat islam. Artinya Sang Suranggana adalah masih terhitung kakek dari Sultan Maulana Hasanudin juga sudah memeluk agama islam jauh sebelum kedatangan Sunan Gunung Jati, sebab Sang Suranggana adalah saudara seayah dengan Pangeran Cakrabuana dan Subang Larang, yang merupakan Ua dan Ibu dari Susuhunan Jati. Kemudian dari Sang Surosowan mempunyai anak beranama Aria Surajaya, dan Nyai Kawung Anten, kelak Nyai Kawung Anten menikah dengan Sunan Gunung Jati dan melahirkan putra Maulana Hasanuddin, Sultan Banten I, berarti pernikahan antara Sunan Gunung Jati dan Nyai Kawung Anten adalah pernikahan sama sama cucu Prabu Siliwangi/Sri Baduga Maharaja/Jayadewata yang bukan hanya menyatukan keturunan Subang Larang dan Nyai Kentring Manik, tetapi juga menyatukan keturunan Prabu Wastukencana, lewat anaknya Prabu Niskala Dewa, Galuh (ayah Prabu Siliwangi), dan Prabu Susuk Tunggal, Sunda (ayah Kentring Manik), secara gen/darah Sultan Maulana Hasanudin adalah pewaris Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, dan Prabu Wastu Kencana.
Keturunan Raden Ranggamantri dan Ratu Sunyalarang


Pernikahan Raden Ranggamantri dan Ratu Sunyalarang (Ratu Parung), mempunyai 5 orang anak, mereka itu adalah :
  1. Prabu Haurkuning, mempunyai kekuasaan di Talaga yang selang kemudian di pindah ke Ciamis, kelak keturunan dia banyak yang menjabat sebagai Bupati di Ciamis.
  2. Sunan Wanaperih/Aria Kikis, memegang tampuk kekuasaan di walangsuji, disebut Wanaperih karena sesuai kesepakatan keraton Ciburang, beliau harus mengasingkan diri/khalwat di hutan, Wana = hutan, Perih = prihatin, kelak keturunan bukan hanya menjadi Pemimpin/Bupati di Subang, Purwakarta, Karawang, Cianjur, Sukabumi, Bogor, tetapi sebagai pendakwah/penyebar islam yang handal di wilayah wilayah itu, bahkan sampai batavia/jakarta.
  3. Dalem Lumaju Agung di kawasan Maja.
  4. Dalem Panuntun di Majalengka
  5. Dalem Panaekan dulunya dari Walangsuji kemudian berpindah-pindah menuju Riung Gunung, sukamenak, nunuk Cibodas dan Kulu






Sunan Wanaperih/Pangeran Salingsingan/Raden Aria Kikis

Adalah anak kedua dari Raden Ranggamantri/Parunggangsa/Pucuk Umum dengan Ratu Sunyalarang, beliau memegang tampuk kekuasaan di walangsuji, selain seorang pendakwah yang handal, beliau terkenal ketika konflik Talaga dengan Cirebon/Demak, ketika itu beliau dengan pasukan kecil dan persenjataan minim banyak menghancurkan pasukan Cirebon/Demak dan berhasil memukul mundur pasukan Cirebon/Demak. Berikut kutipan Senapati Aria Salingsingan/Aria Kikis dari wipedia :



Hubungan Demak dan Cirebon[sunting sumber]

Diawali dangan ikut campurnya Demak untuk menarik upeti dari Talaga melalui Cirebon, sedangkan kondisi rakyat Kerajaan Talaga yang sangat memerlukan perhatian pemerintah (lagi susah), akhirnya permintaan Cirebon dan Demak untuk menarik upeti dari Talaga "ditolak". Selanjutnya, dengan tiba-tiba saja pasukan Cirebon yang dibantu Demak menyerang Talaga. Dengan demikian terjadilah peperangan hebat antara Pasukan Talaga yang dipimpin langsung oleh Senopati Aria Kikis melawan pasukan penyerobot dari Cirebon dan Demak. Di medan laga sekalipun prajurit-prajurit Kerajaan Talaga yang dibantu ketat oleh puragabaya serta pendekar-pendekar dari padepokan-padepokan dan pesantren-pesantren Islam itu jumlah pasukan dan senjatanya lebih kecil dibanding jumlah serta kekuatan para aggresor, akan tetapi pasukan Talaga dengan penuh semangat dan patriotisme tetap mengadakan perlawanan. Dengan teriakan dan gaung Allahu Akbar, serentak pasukan Talaga dengan kecepatan dan kesigapan yang luar biasa menerjang lawannya dan terus menerus mengkikis habis para aggressor yang datang menyerang tanpa kesopanan dan tatakrama itu. Syukurlah bahwa akhirnya kekuatan para penyerobot itu dapat dilumpuhkan dan semua pasukan Cirebon dan Demak dapat diusir keluar dari wilayah Kerajaan Talaga.



Kesepakatan Keraton Ciburang

Karena peristiwa itu Kanjeng Sinuhun Susuhunan Cirebon, Syarif Hidayatullah serta merta datang ke Talaga dan disambut secara khidmat dan hormat oleh Pangeran Satyapati Arya Kikis, Senapati Kerajaan Talaga, Sang Sunan Wanaperih; tidak urung dengan mendapatkan penghormatan besar dari para prajurit, puragabaya, para pendekar dan rakyat kerajaan Talaga serta Galuh Singacala. Sesuai dengan kesepakatan pada musyawarah di Keraton Ciburang yang diselenggarakan oleh para Raja dari Galuh beberapa waktu yang silam, yang menyatakan bila Kanjeng Waliyullah sendiri mengucapkan titahnya, mereka semua akan tumut kepada Kanjeng Sinuhun Cirebon, Syarif Hidayatullah. Ternyata kesepakatan di Keraton Ciburang itu dengan takdir Allah terkabul juga. Pada saat itulah Kanjeng Sinuwun Sunan Gunung Jati Cirebon bersabda; Bahwa peperangan itu sungguh ditakdirkan Allah; tetapi bukan merupakan perang agama, Terjadinya perang Talaga hanya karena tindakan keliru pasukan Cirebon dan Demak. Dalam riwayat lain berkata : “Perang dengan telaga berawal dari masalah sepele, yaitu perselisihan antara Demang Talaga dan Tumenggung ( Caruban ) Kertanegara akibat salah paham. Mereka berkelahi dan Demang Talaga terbunuh dalam perkelahian itu. Kematian Demang Talaga ternyata telah membuat marah Yang Dipertuan Talaga, Prabu Pucuk Umun, dan putera mahkota, Sunan Wanaperih (Pangeran Salingsingan / Raden Aria kikis) . Kabarnya, mereka dihasut oleh Rsi Bungsu, yang menuduh peristiwa tewasnya Demang talaga itu didalangi oleh yang Dipertuan Caruban. Lalu, pasukan Talaga disiapkan untuk menyerbu wilayah Caruban.”. Kemudian Sinuwun Cirebon mendamaikannya dan Sinuwun Syarif Hidayatullah mengijinkan kepada Pangeran Aria Kikis untuk beruzlah dan berkholwat (riyadhah dan mujahadah) di kampungnya yaitu di Leuweung Wana yang selanjutnya disebut Wanaperih, dengan hasrat untuk mendalami hakekat ajaran Agama Islam sedangkan kerajaan Talaga tetap berdiri secara mandiri, adapun kepemimpinannya diayomi oleh Kanjeng Waliyullah, Sunan Gunung Djati.

Kejadian di atas terjadi sekitar tahun 1550 M, ketika semua rakyat Kerajaan Talaga sudah memeluk agama islam.

Sampai saat ini penulis belum mengetahui siapa nama istri Sunan Wanaperih, tetapi dari berbagai sumber beliau mempunyai anak sbb :

  1. Dalem Cageur
  2. Dalem Kulanata
  3. Apun Surawijaya atau Sunan Kidul
  4. Ratu Radeya menikah dengan Arya Sarngsingan
  5. Ratu Putri menikah dengan Sayid Faqih Ibrahim lebih dikenenal Sunan Cipager
  6. Dalem Wangsa Goparana, berpindah ke Sagalaherang, beliau dan keturunannya penyebarankan agama islam di wilayah Sumedang, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Cianjur, Bogor, sampai Batavia/Jakarta. Salah seorang anaknya bernama Rd Dalem Aria Wiratanudatar (Dalem Cikundul) adalah disamping seorang juru dakwah/penyebar agama islam, beliau juga adalah pendiri Cianjur yang terbebas dari dari kekuasaan Mataram, Sumedang Larang, dan VOC/Belanda. Dalem Cikundul, diangkat oleh para pemimpin Cianjur, Sukabumi, Bogor, sebagai Raja Gagang, artinya beliau penerus kerajaan Pajajaran di wilayah tengah. Keturunannya banyak menjadi ulama besar diantaranya adalah Syekh Yusuf, (Baing Yusuf) di Kaum, Purwakarta, yang merupakan guru ulama penulis kitab terkenal di mancanegara/mendunia yaitu Syekh Nawawi, Albantani, makam Baqi, Mekkah. Ulama lain yang masih keturunannya adalah KH Abdullah Bin Nuh, ulama Cianjur ini juga selain tokoh kemerdekaan, juga terkenal di mancanegara, raja Yordania, pernah bertandang ke rumahnya di Bogor, untuk meminta do'a khusus. Ketika wafat beberapa dubes negara Islam banyak datang untuk bertaziah.

Sunan Waparerih wafat sekitar tahun 1590 M, dan dimakamkan di desa Kagok, Kecamatan Banjaran, Majalengka

makam Sunan Wanaperi/Aria Salingsingam/Aria Kikis, Desa Kagok, Kec Banjaran, Majalengka


pintu masuk ke makam Sunan Wanaperih

ribuan peziarah pada saat haul Sunan Wanaperih

haul  Sunan Wanaperih bukan hanya dihadiri dari pulau jawa tapi dari luar juwa









bersambung......

Senin, 22 September 2014

Situs Megalitik di Lampung Barat



http://lampung.tribunnews.com/2012/09/30/wisata-sejarah-gratis-di-situs-megalitik-kebun-tebu
batu sebesar ini asli bendiri tanpa ada sentuhan teknologi

Wisata Sejarah Gratis di Situs Megalitik Kebun Tebu
Lampung Barat tak hanya punya panorama alam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang menyimpan dua air terjun ternama di dalamnya. Atau Pantai Tanjung Setia yang eksotik untuk bermain surfing. Di perbatasan Lambar dengan Bukit Kemuning (Lampung Utara), ada wisata situs megalitik Batu Brak, Kebun Tebu.
Butuh waktu sekitar 15 menit dari Simpang Gadis, Kecamatan Sumber Jaya menuju lokasi situs di Jalan Lebuay, Pekon Purajaya, Kecamatan Kebun Tebu. Dari Liwa, Tribun menempuh perjalanan sekitar dua jam menggunakan kendaraan roda dua. Yang menarik di sini, tidak ada pungutan sama sekali saat memasuki dan menjelajahi lokasi yang banyak menyimpan aneka batuan jaman Megalitik itu.
Sapran, pria paruh baya yang menjaga rumah informasi lokasi situs menuturkan, wisata ini sengaja digratiskan oleh pemerintah sebagai ruang belajar sejarah. Syaratnya hanya menjaga dan tidak merusak bebatuan yang ada di dalamnya.
"Ada batu menhir (tegak), dolmen (meja), datar dan jenis lainnya di dalam situs megalitikum Batu Brak yang memiliki luas lahan 3,5 hektar ini," ceritanya kepada Tribun Lampung, Minggu (30/9).
Berdasarkan catatan sejarah, ungkap dia, situs ini pertama kali ditemukan oleh BRN tahun 1951. Penelitian awal dilakukan Profesor Ares Sukendar pada 1980 lalu. Di lokasi situs yang awalnya merupakan perkebunan kopi penduduk lokal, sambung dia, terdapat 40 buah batu menhir, 38 batu dolmen, dua batu datar, dan beberapa batu kelompok.
Dituturkannya, proses pemugaran sudah dilakukan dua kali. Tahun 1984 dan 1989 lalu. Dalam pemugaran dilakukan reposisi dan rekonstruksi batuan ke posisi semula. Karena saat ditemukan, posisi bebatuan tidak beraturan lantaran gejala alam seperti gempa bumi, tanah longsor, dan faktor usia.
"Selain pelajar maupun umum, mahasiswa maupun peneliti asing juga banyak yang melakukan riset ke sini," terangnya

 
 
Menurut dinas kepurbakalaan, situs Batu prasejarah itu diketemukan pada tahun 1951, oleh BRN (Biro Rekonstruksi Nasional), sebuah badan yg mengatur transmigrasi dari Jawa barat ke Lampung, dipimpin oleh Letjen (purn) Didi Kartasasmita, beliau adalah anggota PS 1922, sedangkan penemuan batu prasejarah itu diketemukan oleh pendiri PS 1922

Rabu, 10 September 2014

KISAH MAHABARATA DAN ISLAM


KISAH MAHABARATA DAN ISLAM


Kisah Mahabarata sangat populer di Indonesia, jauh sebelum Islam masuk hal ini dibuktikan dengan beberapa peninggalan berupa arca, candi, dan beberapa naskah kuno yang menunjukkan adanya kisah itu. Pada zaman penyebaran agama Islam-pun kisah mahabarata ini menjadi alat penyebar agama Islam/dakwah dengan mengambil lakon dalam wayang, baik wayang kulit ataupun wayang golek.
Tidak disangsikan lagi kisah mahabarata ini berasal dari negeri India ditulis oleh Begawan Byasa diperkirakan tahun 5000 SM-3500 SM, kisah mahabarata ini menyebar seiring dengan berdirinya kerajaan kerajaan di Indonesia.
Kerajaan pertama yang berdiri di Indonesia adalah Salakanegara di ujung barat pulau jawa tepatnya di Pulosari sekitar kab Pandeglang, Banten. Sisa sisa peninggalan sampai sekarang masih ada berbentuk arca, pundek berundak, dll. Kerajaan ini diperkirakan berdiri 0-120 M yang dipimpin oleh Aki Tirem, saat itu wilayah ini sering diganggu sekelompok bajak laut,. Sekitar tahun 125 M datang sekelompok orang dari Palawa, India Selatan, mereka bertujuan melakukan kerjasama perdagangan. Adapun pemimpinnya kelak dikenal dengan nama Dewawarman. Mereka inilah yang berjasa memadamkan gangguan para bajak laut, kemudian putri Aki Tirem yang bernama Nyai Pohaci dinikahkan dengan Dewawarman, dan juga Dewawarman dinobatkan jadi raja penerus Salakanegara sekitar tahun 130 M. Dari tangan Dewawarman-lah kerajaan Salakanegara menjadi besar, dan kelak keturunannya menjadi pendiri kerajaan kerajaan di Indonesia seperti Tarumanegara, Galuh, Mataram Hindu, dsb.
Pada saat Dewawarman berkuasa dapat dipastikan terjadi percampuran budaya, kesenian lokal dengan pendatang, salah satunya adalah kisah mahabarata, bukan mustahil Dewawarman ini pula yang pertama mengenalkan kisah mahabarata kepada penduduk lokal, dan karena keturunannya menjadi pendiri kerajaan kerajaan di Indonesia, kisah mahabarata ini pula dibawa ke wilayah kerajaannya seperti Tarumanegara, Galuh, Mataram Kuno, Kalingga, Majapahit, Pajajaran.
Kisah mahabarata mengisahkan pandawa lima yang menjadi yatim dari kecil karena sang ayah bernama Pandu meninggal. Pandu adalah pewaris tahta kerajaan Hastina oleh karena itu putra-nya lah yang berhak meneruskan kerajaannya. Pandu mempunyai kakak bernama Destarata yang seharusnya menjadi raja, hanya karena buta semenjak lahir, tahta kerajaan diberikan kepada Pandu. Destarata mempunyai anak 100 orang kelak dipanggil Kurawa, sedangkan para putra Pandu dipanggil Pandawa. Berbagai penderitaan yang dialami pandawa sejak kecil, yang pada dasarnya pihak pandawa masih banyak mengalah, sampai akhirnya pecah perang Baratayuda di kurusetra.
Yang menarik dalam kisah mahabarata adalah banyaknya tokoh, dan kisah yang hampir sama dengan Islam, padahal kisah mahabarata ini sudah lahir jauh sebelum Islam lahir di Mekah al Mukarammah, artinya ada 2 kemungkinan, 1. jika kisah mahabarata ini merupakan kisah fiktif yang ditulis resi Byasa, berarti kisah mahabarata ini merupakan ramalan yang akan terjadi di masa datang, 2. jika kisah mahabarata yang ditulis resi Byasa ini betul betul terjadi/real, berarti pengulangan peristiwa masa sebelumnya yang membedakan adalah waktu, tokoh, dan tempat kejadian saja.
 
Kesamaan Tokoh
 
A. Pandawa terdiri dari 5 orang tokoh :
  1. Yudistira, merupakan anak sulung dari Pandu, mempunyai watak lemah lembut, jujur, tidak pernah bohong walaupun kejujurannya itu sering dipakai musuh untuk mencelakai dirinya.
  2. Bima, anak Pandu no 2, mempunyai perawakan tinggi besar, kuat, jago bermain gulat, disamping senjata utamanya adalah gada, berani dan tegas.
  3. Arjuna, anak Pandu no 3, mempunyai wajah tampan, mahir dalam memainkan panah, dan tidak disangsikan seorang yang panglima perang tangguh, bahkan dalam beberapa peperangan arjuna-lah sang penentu kemenangan dalam peperangan termasuk perang baratayuda, maka tepatlah jika disebut sang satria penentu kemenangan.
  4. Nakula dan Sadewa adalah anak Pandu yang no 4+5, merupakan kembar jarang terdengar dalam peperangan, walaupun sering juga terlibat dalam peperangan, keahlian utamanya adalah mengerti bahasa binatang, dapat berkomunikasi dengan binatang, sehingga dapat mengurus hewan ternak dengan baik, dan akan menghasilkan keuntungan yang sangat baik sehingga menjadikan devisa banyak, disamping pandai dalam dunia pengobatan.
Dalam Islam ada 4 tokoh sahabat Nabi yang paling utama :
  1. Khalifah Abu Bakar Sidiq, beliau diberikan gelar “SIDIQ” oleh Rasullah SAW karena jujur, tidak pernah bohong, dan membenarkan semua tindakan Nabi ketika orang orang ragu dengan Nabi, contohnya ketika peristiwa Isra Miraj, beliau-lah yang pertama mempercayai perkataan Nabi, sehingga Nabi memberi gelar “SIDIQ” (terpercaya/membenarkan), disamping beliau juga mempunyai sifat lemah lembut, jika dibandingkan dengan Pandawa, Khalifah Abu Bakar Siddiq hampir sama dengan Yudistira.
  2. Khalifah Umar Ibnu Khatab, Al Faruk, beliau khalifah kedua yang memimpin Islam setelah Nabi Muhammad saw wafat, nabi memberi gelar Al Faruk, artinya sebagai pembeda, pembatas, antara kebenaran dan kesalahan, perawakannya tinggi besar, sehingga dalam riwayat dikisahkan jika sedang berjalan dengan sahabat yang lain terlihat badannya yang paling berbeda, yaitu tinggi besar, wataknya tegas, berani, badannya kuat, bahkan dalam beberapa riwayat beliau adalah juara gulat dalam beberapa festival gulat sebelum masuk Islam, salah satu peristiwa yang menarik dalam diri Khalifah Umar bin Khatab adalah ketika pertama kali masuk Islam adalah, beliau tidak merahasiakan keislamannya, seperti sahabat lain untuk menghindari tindakan amoral para penentang Nabi, tapi Umar bin Khatab justru mengumumkan di khalayak ramai, dengan berteriak, tidak ada satupun yang berani dengan beliau, jika dibandingkan dengan Pandawa Umar bin Khatab hampir sama dengan Bima, dalam perawakan, dan sifat sifatnya.
  3. Khalifah Usman Bin Affan, beliau khalifah ketiga yang memimpin Islam setelah Nabi Muhammad saw wafat, mempunyai keahlian dalam berdagang, sehingga karena ahlinya dalam berdagang itu beliau mempunyai harta paling banyak diantara sahabat nabi yang lain, dan tentu saja beliau juga seorang yang paling dermawan, walaupun beliau jarang terlibat dalam peperangan tetapi beliau banyak menyumbang dengan harta yang tidak terhingga, dalam pandawa nakula-sadewa jarang diceritakan dalam peperangan tetapi dengan keahlian mengerti bahasa hewan, sehingga ternak dapat dapat menjadikan komoditi atau harta kekayaan.
  4. Khalifah Ali Bin Abi Thalib, tidak salah lagi beliaulah panglima perang terkenal, keahliannya dalam berperang sangat disegani musuh, dan dalam beberapa peperangan beliau-lah kunci kemenangan umat Islam, salah satu contoh ketika pada peristiwa perang Khaibar, dimana ketika semua panglima perang tidak ada yang sanggup menembus benteng Khaibar, Khalifah Ali Bin Abi Thalib-lah yang bukan hanya bisa menghancurkan benteng khaibar, tetapi dapat memberikan kemenagan umtuk Islam, padahal saat itu beliau sedang sakit mata . Dalam Pandawa, Arjuna-lah sang panglima perang yang tangguh, dan arjuna juga sang penentu kemenangan Pandawa.
B. Abimanyu, adalah putra Arjuna dari istrinya yang bernama Subadra, yang masih saudara sepupu dari ibunya Arjuna yang bernama Dewi Kunti, disamping Subadra juga adalah adik dari Sri Kresna. Abimanyu hampir sama dengan ayahnya Arjuna yang ahli dalam peperangan, bahkan dalam perang Baratayuda memberikan andil yang sangat besar, ketika itu setelah menghancurkan kekuatan kurawa, Abimanyu terjebak dalam kepungan musuh, Abimanyu dibunuh dengan keji oleh Pandawa dengan dikeroyok beramai ramai, padahal saat itu tidak bersenjata, padahal dalam peraturan perang baratayuda tidak dibernarkan membunuh musuh yang tidak sedang bersenjata. Dalam tarikh Islam, pernah terjadi peristiwa Padang Karbala, ketika itu anak Khalifah Ali Bin Thalib, bernama Syaidina Husein yang juga cucu Nabi Muhammad saw, meninggal dengan cara keji dalam peperangan di Karbala, beliau dibunuh dengan cara dikeroyok, dan mendapat siksaan yang tidak pantas dari musuhnya, peristiwa ini hampir mirip dengan Abimanyu di perang baratayuda.
 
C. Perang Baratayuda, adalah perang saudara antara pihak kurawa dan pandawa di lapangan kurusetra, saudara disini termasuk sangat dekat karena mereka adalah saudara sepupu, setelah sebelumnya Pandawa mendapat penderitaan yang sangat banyak dari kurawa. Pada perang Baratayuda ini pihak kurawa mempunyai kekuatan perang yang jauh lebih besar dan banyak dibanding pandawa, kekuatan laskar perang dan persenjataan kurawa kurang lebih 2-3 kali lebih banyak dibanding pandawa. Tetapi Pandawa yang jumlahnya lebih sedikit dapat memenangkan peperangan. Peristiwa ini mengingatkan kita kepada perang Badar, dimana pada saat itu terjadi perang saudara yang hampir sama dengan baratayuda, ayah dengan anak, kakak dengan adik, disamping itu kekuatan Islam yang jauh lebih sedikit dibanding musuh, dimana pasukan islam hanya berjumlah kurang lebih 300 orang, sedangkan musuh sekitar 900-1000 orang, kekuatan musuh 3 kali lebih banyak dengan peralatan perang yang lebih canggih tentunya, tetapi pasukan Islam dapat memenangkan peperangan ini, hampir sama seperti peristiwa perang Baratayuda.
Dalam perjalanan PS, ada kejadian yang hampir sama dengan kisah pandawa, tatkala pandawa ditawari untuk memilih daerah daerah di kerajaan Hastina yang sudah makmur dan pihak pandawa akan menjadi penguasa di daerah tersebut, asal jangan jadi raja di Hastina, pandawa menolak diberikan wilayah wilayah yang sudah makmur tapi pandawa lebih memilih hutan belantara yang terkenal dengan keangkeran dan dipenuhi binatang buas,  pandawa bukan hanya bisa menaklukan siluman beserta binatang buasnya tapi pandawa berhasil membangun hutan itu menjadi istana, dan daerah yang makmur melebihi wilayah di hastina dan wilyah itu kelak bernama Amarta/Indraprasta. Dalam perjalanan waktu, PS setelah ikut mempertahankan wilayah NKRI dengan berperang dengan pihak NICA/Belanda, sekitar tahun 1950-an, pendiri PS mendapat anugrah bintang gerilya yang diberikan langsung oleh presiden RI saat itu Ir Soekarno, dan Ir Soekarno menawarkan jabatan sebagai bupati Cianjur kepada pendiri PS. Pendiri PS menolak jabatan bupati Cianjur, beliau lebih suka memilih transmigrasi dengan sekitar 20 ribu warga PS ke hutan belantara lampung barat, subhannalah.... mulia sekali hati beliau ini, padahal  saat itu lampung barat masih dipenuhi binatang buas dan angker, menurut warga lampung asli, wilayah yang ditempati warga PS sekarang, sebelumnya tidak pernah ada orang yang berani melewati apalagi ditempati. Sekarang harga tanah di lampung barat sudah mahal hampir sama dengan di pulau jawa diakibatkan, tanahnya terkenal dengan produksi kopi yang diekspor ke luar negeri, disamping lada, dan sebagian besar pemilik tanah kopi itu adalah warga PS, mungkinkah PS sedang menjalai  salah satu lakon pandawa ?, wallahu alam
 

Senin, 04 Agustus 2014

Mengapa Daendles tidak membuat jalan Anyer-Panarukan lewat Pantura

Dalam menghadapi invasi inggris ke pulau jawa, gubernur jenderal Daendles mempersiapkan dengan membuat jalan dari Anyer sampai Panarukan dengan maksud agar akomodasi darat lebih mudah. Pembuatan jalan itu di mulai dari Barat pulau jawa yaitu Anyer, sebuah kecamatan di wilayah Serang, Banten, sampai dengan Panarukan di Banyuwangi /Jawa Timur dibuat tahun 1809 sampai tahun 1810 sepanjang 1000 km.

Adapun rute pembuatan jalan itu adalah anyer, cilegon, serang, tangerang, jakarta, bogor, puncak, cianjur, bandung, sumedang, kadipaten, cirebon, dst. Dalam sejarah sumedang ditulis bahwa Pangeran Kornel sempat menolak pembuatan jalan, hal itu diabadikan dengan tugu di cadas pangeran. Yang menjadi pertanyaan kenapa Daendles tidak membuat jalan lewat pantura yaitu dari jakarta, ke bekasi, karawang, subang, indramayu, cirebon ?, padahal secara geografis keadaan alamnya lebih mudah dibuat jalan karena tanahnya datar, tidak banyak belokan, dll. Daendles lebih memilih jalur selatan yang keadaan geografisnya lebih sulit, dimana banyak sekali tanjakan, dan belokan karena daerah pegunungan.

Daerah pantura terkenal dengan rawan kejahatannya dari bajing luncat sampai perampokan, hal ini yang dikhawatirkan Daendles, karena pembuatan jalan ini harus diselesaikan dalam waktu yang singkat, sementara gangguan keamanan wilayah pantura tidak akan dipadamkan dalam waktu yang singkat. Salah satu kelompok rampok yang terkenal adalah Golek Merah kelompok ini beraksi antara wilayah bekasi sampai cirebon, basisnya adalah karawang sampai subang, kelompok ini bukan hanya lihai dan sadis dalam melakukan aksinya, tetapi juga terkenal dengan kedigjayaan dan kesaktiannya, pernah salah satu orang dari kelompok ini tertangkap lalu dibunuh dengan cara kejam dengan cara dicincang, baik oleh aparat keamanan setempat ataupun masyarakat, kemudian apa yang terjadi ?, ternyata orang yang telah mati dengan cara dicincang itu dapat hidup kembali, aneh bin ajaib.

Berbagai jenis kejahatan yang tidak ada di wilayah lain tetapi wilayah ini ada, seperti istilah kesenian yang populer di willayah ini semacam tarian/jaipongan bernama BAJIDOR, yang dalam sebagian orang diartikan Barisan Jalma Doraka (Barisan Jalma Durhaka), sudah puluhan tahun atau mungkin ratusan tahun pihak belanda yang angkatan perangnya terkenal bisa memadamkan pemberontakan kaum Padri di Sumatra Barat, Aceh, ataupun Sultan Hasanudin di Makasar, tidak bisa menumpas kejahatan di wilayah ini. Hal ini yang membuat Daendles tidak membuat jalan melewati Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu daripada mendapat gangguan para bajingan ini, Daendels lebih suka memilih jalan yang tingkat kesulitannya lebih tinggi di daerah pegununungan yang bukan hanya banyak belokan, tanjakan, ataupun batu karang tetapi juga dengan biaya yang lebih besar.

Diawali dengan penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengas Dengklok, yang merupakan basis warga PS/Partisan Siliwangi, ketika negeri ini akan dilahirkan di bulan suci Ramadan hari jum'at tanggal 17 Agustus 1945, timbul pertanyaan kenapa harus diasingkan ke Rengas Denglok, sebuah daerah terpencil saat itu yang dikenal daerah gersang ?. Lebih jelas lagi ketika pecah perang kemerdekaan wilayah Bekasi Karawang Subang/Purwakarta merupakan medan pertempuran heroik yang terkenal. Bahkan banyak pejuang RI yang terdesak dari Jakarta seperti Lukas Kustaryo dari TNI, Haji Darip Klender, KH Nur Ali Kalimalang, dll bersembumyi di Purwakarta. Tidak salah lagi wiliyah ini merupakan basis perjuangan TNI, yang dibantu oleh masyarakat setempat. Walaupun Belanda dengan membonceng NICA yang terkenal dengan pasukan GURKA berhasil menghancurkan wilayah Bekasi sampai Karawang, tetapi mereka tidak berhasil menangkap para pejuang baik dari TNI ataupun sipil.

Berbicara tentang TNI yang berjuang di wilayah Pasundan ketika kancah perang revolusi sudah bisa dipastikan Divisi Siliwangi-lah nama pasukan itu, sebutlah seperti para tokoh seperti Jendral Didi Kartasasmita yang pada saat long march pangkatnya lebih tinggi daripada Jendral Nasution ataupun Jendral Sudirman, Brigjen Sadikin yang pensiun dini tahun 1950-an beliau yang menumpas pemberontakan PKI Madiun, bahkan dalam buku biografi Presiden Soeharto, Brigjen Sadikin-lah yang menyelamatkan Soeharto ketika ditangkap oleh pasukan TNI karena disangka terlibat pemberontakan Madiun. Tokoh lain dari Divisi Siliwangi adalah Jendral Mursid yang merupakan Wakasad dan diplomat Philipina ketika jaman Soekarno, Jendral Darsono mantan Pamgdam Wirabuana, dan banyak lagi yang tidak bisa ditulis satu persatu. Dan perlu diketahui semua tokoh Siliwangi yang kami sebut tadi adalah warga tulen paguron PS/Partisan Siliwangi. Diluar dari TNI banyak juga laskar rakyat seperti hisbullah, PS/Partisan Siliwangi yang pada saat itu masih bernama PS/Penjtak Silat yang pada akhirnya laskar PS ini direkrut oleh Divisi Siliwangi bukan hanya dalam medan pertempuran tetapi juga diikutsertakan long march ke Jogyakarta.

Dalam menghadang pasukan GURKA yang merupakan tulang punggung kekuatan NICA/ Belanda, di wilayah Pantura ada sekelompok orang membuat moral pasukan NICA jatuh, mereka bukan hanya berani di medan tempur tetapi juga memiliki keterampilan perang melebihi militer, padahal mereka tidak pernah mendapat didikan militer, uniknya dari kelompok ini adalah banyak diantara mereka yang merupakan kelompok Golek Merah yang sering membuat keonaran di masyarakat, sebelumnya berbagai macam kejahatan telah mereka lakukan dari perjudian, pelacuran, pembunuhan, perampokan, dsb. Ada kejadian yang menunjukkan bahwa mereka itu sebelumnya jauh dari pendidikan agama yaitu, suatu saat mereka itu diperintah membaca solawat, kemudian apa yang terjadi ?, mereka bukannya membaca solawat seperti diperintah agama dengan membaca “Allahumma shalii ala..........” tetapi mereka membaca solawat, solawat.......dst, sudah dapat dipastikan banyak juga diantara mereka yang tidak bisa melakukan shalat, bahkan ketika bulan suci ramadan banyak diantara mereka yang tidak melakukan puasa.

Tetapi fakta di lapangan menyebutkan bahwa para bajingan yang sering membuat onar di masyarakat dan jauh dari pendidikan agama itulah yang banyak berperan menghadang tentara Sekutu, NICA yang diboncengi Belanda, mereka berjuang tanpa pamrih, keterampilan berperang mereka melebihi pasukan militer khusus, padahal mereka tidak pernah mendapat pendidikan militer. Disamping itu background moral mereka sebelumnya dikenal kurang baik, dikhawatirkan akan membuat keonaran tidak berbekas sama sekali. Hal ini dibuktikan dengan direkrutnya kelompok ini oleh petinggi Divisi Siliwangi dalam beberapa medan pertempuran dan bahkan ikut long march ke Jogyakarta. Pertanyaannya kenapa bisa moral mereka yang dikenal sebelumnya tidak baik bisa berubah 180 derajat ?, jawabannya tidak ada yang tidak mungkin terjadi bagi Tuhan, jika Tuhan telah berkehendak semua bisa terjadi termasuk melunakan hati manusia yang lebih keras daripada cadas ataupun baja, membuat dingin hati yang lebih panas daripada api.

Itulah hijrah sebenarnya yang diajarkan oleh Nabi bukan hanya pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik tetapi hijrah daripada perbuatan yang tidak baik ke perbuatan yang lebih baik, itulah mereka anggota PS/Partisan Siliwangi telah melakukan hijrah secara fisik dan spiritual, hijrah fisik mereka telah melakukan dari jawa barat ke jogyakarta dengan melakukan long march karena ketaatan mereka kepada pemimpin negara, agama, hijrah spiritual dengan merubah perilaku tidak baik ke perilaku yang lebih baik.

Sejarah menulis hijrah yang dilakukan warga PS/Partisan Siliwangi ada beberapa kali, diantaranya setelah perang kemerdekaan selesai, mereka yang berjumlah kurang lebih 20 ribu orang, bertrasmigrasi ke lampung dengan membuka hutan belantara atas restu Presiden Soekarno dibantu BRN (Badan Rekonstruksi Nasional) pimpinan Jendral Didi Kartasasmita tahun 1950, mereka menjadi petani kopi, lada, karet, nelayan dll di lampung. Seperti diketahui Lampung adalah salah satu sentral kopi/lada/karet di Indonesia, sebagian besar dari mereka itu dimiliki warga paguron PS/Partisan Siliwangi, artinya secara ekonomi penghasilan mereka melebihi dari kecukupan, hal ini dibuktikan dengan mahalnya harga tanah di Lampung Barat yang merupakan basis warga PS/Partisan Siliwangi (80% warga lampung barat adalah warga paguron PS/Partisan Siliwangi), selain itu data statistik menyebut bahwa peredaran uang paling besar dan cepat di propinsii lampung ada di kab Lampung Barat yang merupakan basis warga paguron PS/ Partisan Siliwangi.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah warga paguron PS/Partisan Siliwangi telah melakukan hijrah 3 jenis :

  1. Hijrah dari tempat asal mereka di Jawa Barat ke Jogyakarta ketika pecah perang kemerdekaan, long march, kemudian hijrah ke lampung setelah perang kemerdekaan sampat saat ini.
  2. Hijrah dari ekonomi/penghasilan yang biasa/kurang baik ke ekonomi/penghasilan yang lebih baik karena kopi dari warga paguron PS/Partisan Siliwangi banyak diekspor ke luar negeri, disamping harga lada yang tinggi, juga karet.
  3. Hijrah dari perilaku yang kurang baik ke perilaku yang lebih baik hal ini dibuktikan dengan berubahnya perilaku warga paguron PS/Partisan Siliwangi dari yang tidak mengenal agama menjadi lebih religius dalam beragama.
  4. Tiga Point di atas tidak mungkin terlaksana tanpa adanya kepatuhan, ketaatan kepada pemimpin mereka, artinya setiap warga PS Paguron bermaksud tawakal kepada Allah dan patuh kepada Guru/Pemimpin yang tidak keluar dari martabat keguruannya.