Makam ulama Kiai Ahmad Basari bin Kiai Maksum di Malilin, Sagalaherang, Subang, wafat sekitar abad 18, batu nisannya bertulis huruf arab, beliau berasal dari Simbang, Pekalongan, Tulisan arab di batu nisan dibuat oleh keturunannya, hanya tidak diketahui cara penulisannya dengan pahat atau bukan, ada asumsi pahatan tulisan arab ini sama seperti prasasti batutulis bogor, adapun nasab beliau adalah Kiai Ahmad Basari lahir di desa Simbang Pekalongan bin Kiai Maksum bin Raden Adilangu (Demak) bin keturunan Raden Patah Demak.
Makam Kiai Ahmad Basari, Malilin, Sagalaherang
Tulisan arab di batu nisan di makam Malilin, Sagalaherang
Tulisan arab di batu nisan Malilin, Sagalaherang
Pintu masuk ke mesjid Al Maksum, kampung sawah tengah, kelurahan Sapuro, Pekalongan
Kemudian di Jl Ky Warmidi, sebelah timur pemakaman Sapuro, Pekalongan ada juga Mesjid Aulia, yang merupakan mesjid paling tua di Pekalongan, didirikan tahun 1601 M, oleh 4 orang utusan dari kesultanan Demak, yaitu Kiai Maksum, Kiai Sulaeman, Kiai Lukman, Nyai Kudung. Kiai Maksum adalah ayah dari Kiai Ahmad Basari yang dimakamkan di Malilin, Sagalaherang.
Di dalam mesjid ada 4 tiang yang memakai nama pendirinya, kayunya diambil dari pembangunan mesjid Demak oleh walisongo, dan sampai sekarang tiang ini masih utuh, kemudian mihrabnya pemberian Sunan Kalijaga juga masih utuh. Keterangan ini dari KH Ahmad Dananir, Ketua Umum Yayasan Masjid Jami Aulia Sapuro, pada tanggal 13 Juni 2026 kira kira jam 10 WIB di kediaman beliau di Jl Jawa, kelurahan Sepuro, Pekalongan.
Tiang pertama depan mimbar Kiai Maksum
Tiang kedua Kiai Luqman
Tiang ketiga Kiai Sulaeman
Tiang keempat Nyai Kudung
Pintu depan Mesjid Aulia
Mihrab pemberian Sunan Kalijaga





























