Rabu, 25 Februari 2015
Selasa, 17 Februari 2015
Siapakah Prabu Mundisari, Rd Ranggamantri, Parunggangsa, Pucuk Umum ?
Sebelum
membahas topik di atas, ada sumber sejarah tanah pasundan yaitu
naskah Bujangga Manik yang tersimpan di Perpustakaan Bodleian,
Oxford, Inggris. Bujangga Manik adalah seorang rohaniawan yang
melakukan perjalanan rohani/spiritual/ziarah ke tempat tempat
sakral/keramat /kabuyutan di tanah jawa dan bali, beliau hidup di
penghujung masa kerajaan Pajajaran, dan Majapahit, artinya pada saat
itu kedua kerajaan ini masih berdiri, hal itu dibuktikan dengan
tempat tempat yang dikunjungi menunjukkan eksistensi kedua kerajaan
itu. Kerajaan Majapahit runtuh tahun 1400 Saka atau tahun 1478
Masehi, sedangkan Pajajaran runtuh tanggal 11 bagian terang bulan
Wesaka tahun 1501 Saka atau tanggal 8 Mei 1579 M. Artinya Bujangga
Manik melakukan perjalanan sebelum tahun 1478 M, tidak diketahui
pasti tahun berapa perjalanan itu dilakukan, perkiraan 5 atau 10
tahun sebelum majapahit runtuh sekitar 1470-an.
Naskah
Bujangga Manik berbentuk puisi-prosa yang terdiri atas 1641 baris,
diperkirakan ditulis pada abad ke-15. Naskah Bujangga Manik ditemukan
oleh Andrew James, seorang pedagang asal Newport. Naskah ini lalu
diserahkan kepada Perpustakaan Bodleian, Oxford pada 1627 oleh
saudagar tersebut. Baru tahun 1968 (341 tahun semenjak diterima oleh
perpustakaan di Oxford), naskah ini diteliti oleh seorang peminat
naskah kuno dari Belanda, yakni Jacobus Noorduyn. Noorduyn-lah yang
kemudian selama berpuluh-puluh tahun meneliti naskah ini, yang
kemudian dibuatlah artikel berjudul Bujangga Manik Journeys through
Java: Topographical Data from an Old Sundanese Source? Akan tetapi,
Noorduyn wafat sebelum sempat mengumumkan penelitiannya yang
menyeluruh atas naskah Bujangga Manik ini. pekerjaannya yang terputus
ini lalu diteruskan oleh seorang sahabatnya yang juga peminat budaya
dan sastra Indonesia yang juga berkebangsaan Belanda, bernama A.
Teeuw. Teeuw melengkapi kajian-kajian Noorduyn atas naskah Bujangga
Manik (termasuk dua naskah lainnya: Putra-purta Rama dan Rawana dan
Perjalanan Sri Ajnyana). Dari sini lahirlah buku berjudul Three Old
Sundanese Poem (2006) yang diterjemahkan oleh Hawe Setiawan dengan
judul Tiga Pesona Sunda Kuna (2008). Noorduyn dan A. Teeuw
memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung
mungkin juga disusun pada masa Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran
masih eksis dan ketika Kesultanan Malaka masih menguasai jalur
perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511, di
mana Malaka telah menguasai jalur perniagaan sejak 1440.
Naskah
Bujangga Manik menceritakan seorang petapa, rohaniawan yang memilih
hidup sebagai petualang untuk memuaskan batin spiritualnya, padahal
ia merupakan seorang tohaan (pangeran) istana Pakuan. Tokoh utamanya
bernama Bujangga Manik, dan di beberapa halaman berubah menjadi Ameng
Layaran. Ada sekitar 450 nama tempat yang ia singgahi, termasuk di
antaranya 90 nama gunung dan 50 nama sungai terbentang dari Sunda
bagian barat (Pakuan) sampai Pulau Bali dimana sebagian nama-nama
geografis tersebut masih dikenal hingga kini. Selain berfungsi
sastrawi yang indah, Bujangga Manik bisa dikatakan sebagai
ensiklopedi geografi Jawa?di mana tedapat ulasan berbagai segi
kehidupan, baik dari budaya, agama, geografi, bahasa, arsitektur.
Menurut A. Teeuw, kritikus sastra asal Belanda tersebut, naskah
Bujangga Manik, sama seperti naskah-naskah Sunda kuno lainnya,
bersifat otentik, tidak disalin, dan hanya satu-satunya di dunia
(codex uniqus). Sayang, hingga kini naskah ini masih tersimpan di
perpustakaan di Inggris.
Dalam
naskah Bujangga Manik tertulis :
Sacu(n)duk
aing ka Wakul,
sadatang
ka Pacelengan,
ngalalar
aing ka Bubat,
cu(n)duk
aing ka Mangu(n)tur,
ka
buruan Majapahit,
ngalalar
ka Dar/ma Anyar, /15r/
na
Karang Kajramanaan,
ti
kidulna Karang Jaka.
(Setiba
di Wakul,
sampai
di Pacelengan,
aku
berjalan melewati Bubat,
dan
tiba di Maguntur,
alun-alun
Majapahit,
pergi
melewati Darma Anyar,
dan
Karang Kajramanaan,
sebelah
selatan Karang Jaka.)
Bait
di atas menunjukkan beberapa nama tempat di Majapahit, diantaranya
Maguntur, Bubat, dan alun alun Majapahit, artinya pada saat itu
kerajaan Majapahit masih eksis keberadaannya. Kemudian mohon
perhatikan bait lain dari Naskah Bujangga Manik :
Ku
ngaing geus kaideran,
lurah-lirih
Majapahit,
palataran
alas Demak.
Sanepi
ka Jati Sari,
datang
aing ka Pamalang.
(Aku
berkelana
melewati
wilayah-wilayah berbeda di Majapahit,
dan
daerah dataran Demak.
Setiba
di Jati Sari,
aku
datang ke Pamalang.)
bait
di atas menunjukkan daerah Demak, sebelumnya Demak dikenal dengan
nama desa Glagahwangi, setelah Raden Fatah membangun pesantren dan
mesjid, menjadi daerah yang banyak dikunjungi dan berubah menjadi
Demak, artinya Bujangga Manik pada saat berkunjung ke jawa tengah
saat itu Majapahit masih berdiri dan kerajaan Demak sudah dikenal
tetapi masih merupakan perdikan kerajaan Majapahit.
Kemudian
mohon perhatikan bait dari naskah Bujangga Manik berikutnya :
Itu
ta bukit Caremay,
tanggeran
na Pada Beunghar,
ti
kidul alas Kuningan,
ti
barat na Walangg Suji,
inya
na lurah Talaga.
(Itu
Gunung Ceremay,
pertanda/pilarnya
Pada Beunghar,
di
selatan wilayah Kuningan,
ke
baratnya Walang Suji,
di
situlah wilayah Talaga.)
alas
di atas bermakna wilayah, sedangkan lurah berarti lembah/jurang yang
dangkal, artinya membandingkan 2 daerah antara alas dan lurah.,
berarti Walungsuji sebagai ibukota dari wilayahnya adalah Talaga. Ini
adalah sebagai bukti keberadaan kerajaan Talaga di wilayah
Majalengka.
Dalam
sejarah sumedang ditulis bahwa raja sumedang larang, Prabu Tajimalela
berputra Prabu Gajah Agung berputra Istri Rajamantri menikah dengan
Prabu Siliwangi/Pamanah Rasa/Jayadewata, sedangkan anak Prabu Gajah
Agung yang lain yaitu sunan guling dan keturunannya kelak melanjutkan
kerajaan sumedang larang, yang menikah dengan pangeran santri.
Dari
pernikahan Prabu Siliwangi dengan Istri Rajamantri melahirkan seorang
putra bernama Prabu Munding Sari Ageung/Munding Surya/ Mundilaya.
Prabu Munding Sari Ageung kelak menikah dengan Ratu Mayang Karuna
anak dari Resi Garasiang yang seharusnya menjadi raja Talaga tetapi
karena lebih tertarik dengan kerohanian/agama beliau memberikan tahta
raja kepada adiknya yaitu Prabu Darma Suci 2.
Menurut
sejarawan Tatang M. Amirin kelahiran Maja Kaler, Majalengka, sekarang
dosen tetap di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prabu Munding
Surya (Sari) Ageung, setelah menikah dengan Dewi Mayang Karuna,
diberi kekuasan wilayah Kerajaan Maja, mencakup Garasiang (ini
terletak di utara Talaga). Jadi, dapat dikatakan bahwa Prabu Munding
Surya (Sari) Ageung dapat diduga merupakan raja pertama Kerajaan Maja
(tahunnya belum bisa dipastikan). Ketika membicarakan daerah Maja
(salah satu kecamatan di Kabupaten Majalengka sekarang) yang akan,
atau pernah diketahui, dari lacakan Kerajaan Talaga, hanya ada dua.
Pertama: dulu merupakan kadaleman di bawah Kerajaan Talaga yang
dipimpin oleh Dalem Lumaju Agung dan para penerusnya. Kadaleman
adalah bagian dari erajaan Talaga(sebenarnya sudah tidak ada) yang
dipimpin oleh para putra Raja. Kedua, Maja merupakan cikal bakal
Kabupaten Majalengka (5 Januari 1819 Kabupaten Maja berdiri) dan
sekaligus otanyamenjadi ibu kota Kabupaten (suka salah dianggap
ibu kotanya di Sindangkasihihat peta Kabupaten Maja). Tidak pernah
ada yang mengiraetidaknya tidak pernah disebut dalam abad
Talaga–bahwa Maja itu dahulunya merupakan sebuah Kerajaan (di bawah
Galuh-Pajajaran) juga, seperti halnya Talaga. Hanya sedikit literatur
yang menulis tentang Prabu Munding Sari Ageung, ada juga yang
mengkaitkan dengan kisah Mundilaya Dikusumah.
Dari
perkawinannya dengan Dewi Mayangkaruna itu itu Prabu Munding Surya
(Sari) Ageung memperoleh putra, Raden Rangga Mantri kemudian diberi
wilayah untuk dipimpin dengan gelar atau julukan Raden Parung Gangsa.
Parung gangsa dapat diartikan sebagai lembah perunggu bahan pembuat
gamelan. Daerah di sekitar Maja yang bernuansa arung gangsaitu
diduga Anggrawati (anggara = Selasa, sesajinyaperunggu atau kuningan,
wati atau vati = tempat). Raden Rangga Mantri kemudian menikah dengan
Dewi Wulansari atau Dewi Sunyalarang yang kemudian menjadi raja
dengan gelar atau Ratu Parung, Ratu Kerajaan Talaga yang meneruskan
tahta ayahnya Sunan Parung. Oleh karena perkawinan tersebut, maka
Kerajaan Maja digabungkan dengan Kerajaan Talaga.
Kontradiksi
Versi
Cirebon,
Sekitar
tahun 1525-1529 di Cirebon ada pesta besar, dalam pesta itu itu ada
arak arakan/karnaval yang melibatkan pasukan Cirebon dan Demak,
pawai, arak arakan itu tidak terasa sudah jauh melewati Cirebon dan
mulai memasuki wilayah Talaga, di depan arak arakan itu terdiri dari
pasukan Demak, sedangkan Cirebon di belakang, ketika memasuki wilayah
Talaga, pasukan Demak itu ditanya oleh pasukan Talaga dalam bahasa
sunda ada apa maksud kedatangannya ke Talaga dalam pasukan besar,
karena tidak mengerti terjadilah salah paham sehingga terjadi
peperangan besar, pasukan Cirebon/Demak yang dalam jumlah besar dan
persenjataan lengkap berhasil mendesak pasukan Talaga, kemudia para
prajurit Talaga itu melaporkan kejadian ini kepada senapati dan putra
mahkota Aria Kikis (Wanaperi) yang merupakan putra Raden
Ranggamantri/ParungGangsa/Pucuk Umum dengan Ratu Parung. Senapati
Aria Kikis mengamuk dan banyak mengorbankan prajurit Cirebon,
prajurit Talaga bangkit moral-nya, membantu Senapati Aria Kikis,
berhasil mendesak mundur pasukan Cirebon keluar wilayah Talaga.
Pasukan
Cirebon melaporkan kepada Sunan Gunungjati/Syekh Syarief
Hidayatullah, beliau datang menemui Senapati Aria Kikis berikut
pasukannya, seketika itu Aria Kikis takluk dengan pasukannya , serta
menyatakan masuk Islam, sedangkan ayahnya Prabu Pucuk Umum menolak,
melarikan diri ke gunung Ciremai.
Versi
Talaga,
Peperangan
itu terjadi akibat pasukan Demak dan Cirebon meminta pajak yang
sangat besar kepada rakyat Talaga, merasa ditindas rakyat melapor
kepada Senapati Aria Kikis, kemudian Senapati Aria Kikis melakukan
penelusuran ke bawah apakah benar laporan ini, setelah fakta yang
dikumpulkan lengkap Senapati Aria Kikis mengajukan protes kepada
Cirebon, pihak cirebon tidak menerima, akhirnya terjadilah perang,
Senapati Aria Kikis mengobarkan perang suci, Talaga yang jumlah
pasukan dan perlatan perangnya lebih bisa mengusir keluar pasukan
Cirebon keluar dari Talaga, tidak terhitung korban di pihak Cirebon,
Sunan Gunung Jati mendengar konflik ini dan mendatangi Senapati Aria
Kikis di Talaga. Senapati Aria Kikis meminta maaf kepada Kanjeng
Sunan Gunung Jati atas kesalahan ini, dan Sunan gunung Jati-pun saat
itu berfatwa bahwa peperangan ini sudah menjadi kehendak Allah, dan
bukan perang agama, ini akibat salah paham saja. Konsekwensinya
terjadi kesepakatan Perjanjian Keraton Ciburang, salah satunya adalah
Senapati Aria Kikis harus mundur sebagai raja Talaga, dan harus
mengasingkan diri (berkhalwat) ke hutan, kelak kemudian hari beliau
dikenal dengan nama Adipati Wanaperih (Wana=hutan, perih=sakit,
prihatin), artinya senapati yang melakoni hidup prihatin di hutan.
Deklarasi Kesepakatan Keraton Ciburang ini, terjadi sekitar tahun
1550 M, artinya saat itu Raden Rangga Mantri/Pucuk Umum sudah tidak
menjabat sebagai raja lagi (meninggal), mulai saat itu kerajaan
Talaga di bawah pengawasan Cirebon.
Pembahasan
Dalam
sejarah versi Cirebon ada beberapa hal yang tidak sesuai fakta,
diantaranya pada tahun 1525-1530 M, raja Talaga yaitu Raden
Ranggamantri/Pucuk Umum menolak masuk islam dan melarikan diri ke
gunung Ciremai, padahal faktanya beliau beserta istrinya Ratu
Parung/Sunyalarang sudah masuk Islam, hal ini dibuktikan dengan
keberadaan makam beliau di dekat situ Sangiang kecamatan Talaga,
Majalengka menjadi tempat penziarahan umat Islam, mustahil jika
beliau belum menjadi seorang muslim. Bahkan gelar Pucuk Umum itu
diberikan oleh sinuhun Kanjeng Sunan Gunung Jati, saat beliau masuk
islam tahun 1525-1530 M, Pucuk Umum (Makmun menyebut tadinya Pucuk
Umun–bahasa Sunda kuno, diganti jadi Pucuk Umum, karena umum
artinya seluruh umat Islam. Ini salah etimologi, karena ummat (bahasa
Arab, tunggal) jamaknya (plural) bukan umum tapi umam, artinya beliau
menjadi pimpinan atau imam di Talaga. Masuk islamnya Raden Rangga
Mantri, kemungkinan besar disebabkan karena mereka adalah sama sama
cucu dari Prabu Siliwangi, Sunan Gunung Jati cucu Prabu Siliwangi
dari dari Subang Larang, sedangkan Raden Rangga Mantri adalah cucu
Prabu Siliwangi dari Prabu Munding Sari Ageung/Mundinglaya
Pintu masuk ke makam Rd Parunggangsa/Rd Ranggamantri
Makam
Sunan Parung Gangsa/Rangga Mantri/Pucuk Umum
Tentang
Pucuk Umum
Banyak
cerita menyebutkan bahwa Prabu Pucuk Umum adalah raja yang menolak
masuk Islam, ada yang menyebut melarikan diri ke gunung ciremai, ada
yang menyebut raja Talaga itu melarikan diri ke Banten, karena tidak
mau masuk islam, dan ada yang menyebut juga menolak agama islam di
Banten, serta melarikan diri ke Baduy.
Pucuk
Umum merupakan gelar/pangkat yang diberikan kepada penguasa di tatar
sunda, ada beberapa daerah yang mempunyai nama ini, diantaranya :
- Pucuk Umum di Talaga, adalah anak dari Prabu Mundingsari Ageung cucu Prabu Siliwangi/Jayadewata, dikenal juga dengan Raden Ranggamantri/Parunggangsa, mendapat gelar Pucuk Umum dari Susuhunan Jati (Syekh Syarief Hidayatullah), beliau menikah dengan Ratu Sunyalarang (Ratu Parung) yang merupakan pewaris tahta kerajaan Talaga. Adalah Ratu Simbarkencana, pewaris tahta Talaga yang menikah dengan Raden Kusumalaya anak dari Prabu Ningrat Kencana/Dewa Niskala dari Galuh, Raden Kusumalaya ini adalah adik dari Prabu Siliwangi/Jayadewata. Pernikahan Ratu Simbarkencana dan Raden Kusumalaya, mempunyai anak Sunan Corendra/Sunan Parung, Sunan Corendra mempunyai istri 2, 1. Mayangsari anak Prabu Langlangbuana, Kuningan, menurunkan Ratu Sunyalarang (Ratu Parung), Talaga, 2. Ratu Sintawati/Ratu Patuakan anak Sunan Patuakan, raja Sumedang Larang, mempunyai anak bernama Satyasih atau dikenal sebagai Ratu Inten Dewata, kelak menikah dengan Pangeran Santri. Pernikahan Sunan Corendra dengan Mayangsari mempunyai anak bernama Ratu Sunyalarang (Ratu Parung), yang nikah dengan Raden Ranggamantri, sedangkan Sunan Corendra setelah menikah dengan Ratu Sintawati, kelak tinggal di Sumedang Larang meneruskan tahta mertua-nya, wafat di Sumedang Larang. Kekuasaan di Talaga diberikan kepada anaknya Ratu Sunyalarang (Ratu Parung, mengambil nama dari ayahnya). Karena menikah dengan Ratu Sunyalarang, Raden Ranggamantri mempunyai gelar Sunan Parunggangsa(Sunan Parung, sama dengan mertuanya), kelak diberi gelar Pucuk Umum oleh Susuhunan Jati (Syekh Syarief Hidayatullah), beliau dipercaya menyebarkan syiar islam di wilayah Talaga. Baik Susuhunan Jati, ataupun Raden Ranggamantri adalah sama sama cucu Prabu Siliwangi, Raden Ranggamantri adalah anak Prabu Mundingsari Ageung, cucu Prabu Siliwangi dari istrinya bernama Istri Rajamantri (Padwawati) anak dari Prabu Gajah Agung, Sumedang Larang. Sedangkan Sunan Gunungjati anak Lara Santang cucu Prabu Siliwangi dan Subang Larang.
- Pucuk Umum di Sumedang Larang, adalah anak Sunan Corendra, Talaga dan Ratu Sintawati, Sumedang Larang, bernama Setyasih yang kelak menikah dengan Pangeran Santri, Ratu Setyasih ini mempunyai gelar Ratu Pucuk Umum juga, berarti antara Ratu Talaga dan Ratu Sumedang Larang adalah saudara seayah, berdasarkan fakta ini Raden Ranggamantri/Parunggangsa yang juga mempunyai gelar Pucuk Umum juga tidak diragukan lagi adalah islam.
- Pucuk Umum, Banten, Prabu Siliwangi dari istri Kentring Manik, mempunyai anak Prabu Surawisesa penerus raja Pajajaran, Adipati Suranggana, penguasa Banten Girang, dan Adipati Surosowan, penguasa Banten pesisir. Baik adipati Suranggana ataupun sang Surosowan, sama sama mempunyai gelar Pucuk Umum. Dalam sejarah yang ditulis sejarawan Prof Yoseph Iskandar bersumber naskah Wangsakerta, disebutkan bahwa Adipati Suranggana/Pucuk Umum, Banten Girang adalah murid Syekh Ali Rahmatullah (Sunan Ampel), ketika itu Sunan Ampel dalam perjalanan dari Campa ke Jawa Timur, singgah di Banten, kedatangan beliau diterima dengan hormat oleh penguasa Banten, pesisir Sang Surosowan dan Banten Girang, sang Suranggana. Dari fakta ini sang Suranggana/Pucuk Umum Banten, Girang, adalah orang banten pertama yang memeluk agama islam, dari adipati Suranggana ini mempunyai anak dikenal dengan nama Ki Mas Jong dan Agus Ju, merupakan makam yang sering diziarahi umat islam di Banten, Girang, makam di Banten Girang, tokoh yang membantu Sultan Maulana Hasanudin menyebarkan agama islam di tatat Banten, dan makam kedua tokoh ini adalah salah satu makam yang sering diziarahi umat islam. Artinya Sang Suranggana adalah masih terhitung kakek dari Sultan Maulana Hasanudin juga sudah memeluk agama islam jauh sebelum kedatangan Sunan Gunung Jati, sebab Sang Suranggana adalah saudara seayah dengan Pangeran Cakrabuana dan Subang Larang, yang merupakan Ua dan Ibu dari Susuhunan Jati. Kemudian dari Sang Surosowan mempunyai anak beranama Aria Surajaya, dan Nyai Kawung Anten, kelak Nyai Kawung Anten menikah dengan Sunan Gunung Jati dan melahirkan putra Maulana Hasanuddin, Sultan Banten I, berarti pernikahan antara Sunan Gunung Jati dan Nyai Kawung Anten adalah pernikahan sama sama cucu Prabu Siliwangi/Sri Baduga Maharaja/Jayadewata yang bukan hanya menyatukan keturunan Subang Larang dan Nyai Kentring Manik, tetapi juga menyatukan keturunan Prabu Wastukencana, lewat anaknya Prabu Niskala Dewa, Galuh (ayah Prabu Siliwangi), dan Prabu Susuk Tunggal, Sunda (ayah Kentring Manik), secara gen/darah Sultan Maulana Hasanudin adalah pewaris Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, dan Prabu Wastu Kencana.
Keturunan
Raden Ranggamantri dan Ratu Sunyalarang
Pernikahan Raden Ranggamantri dan Ratu Sunyalarang (Ratu Parung), mempunyai 5 orang anak, mereka itu adalah :
- Prabu Haurkuning, mempunyai kekuasaan di Talaga yang selang kemudian di pindah ke Ciamis, kelak keturunan dia banyak yang menjabat sebagai Bupati di Ciamis.
- Sunan Wanaperih/Aria Kikis, memegang tampuk kekuasaan di walangsuji, disebut Wanaperih karena sesuai kesepakatan keraton Ciburang, beliau harus mengasingkan diri/khalwat di hutan, Wana = hutan, Perih = prihatin, kelak keturunan bukan hanya menjadi Pemimpin/Bupati di Subang, Purwakarta, Karawang, Cianjur, Sukabumi, Bogor, tetapi sebagai pendakwah/penyebar islam yang handal di wilayah wilayah itu, bahkan sampai batavia/jakarta.
- Dalem Lumaju Agung di kawasan Maja.
- Dalem Panuntun di Majalengka
- Dalem Panaekan dulunya dari Walangsuji kemudian berpindah-pindah menuju Riung Gunung, sukamenak, nunuk Cibodas dan Kulu
Sunan
Wanaperih/Pangeran Salingsingan/Raden Aria Kikis
Adalah
anak kedua dari Raden Ranggamantri/Parunggangsa/Pucuk Umum dengan
Ratu Sunyalarang, beliau memegang tampuk kekuasaan di walangsuji,
selain seorang pendakwah yang handal, beliau terkenal ketika konflik
Talaga dengan Cirebon/Demak, ketika itu beliau dengan pasukan kecil
dan persenjataan minim banyak menghancurkan pasukan Cirebon/Demak dan
berhasil memukul mundur pasukan Cirebon/Demak. Berikut kutipan
Senapati Aria Salingsingan/Aria Kikis dari wipedia :
Hubungan
Demak dan Cirebon[sunting sumber]
Diawali
dangan ikut campurnya Demak untuk menarik upeti dari Talaga melalui
Cirebon, sedangkan kondisi rakyat Kerajaan Talaga yang sangat
memerlukan perhatian pemerintah (lagi susah), akhirnya permintaan
Cirebon dan Demak untuk menarik upeti dari Talaga "ditolak".
Selanjutnya, dengan tiba-tiba saja pasukan Cirebon yang dibantu Demak
menyerang Talaga. Dengan demikian terjadilah peperangan hebat antara
Pasukan Talaga yang dipimpin langsung oleh Senopati Aria Kikis
melawan pasukan penyerobot dari Cirebon dan Demak. Di medan laga
sekalipun prajurit-prajurit Kerajaan Talaga yang dibantu ketat oleh
puragabaya serta pendekar-pendekar dari padepokan-padepokan dan
pesantren-pesantren Islam itu jumlah pasukan dan senjatanya lebih
kecil dibanding jumlah serta kekuatan para aggresor, akan tetapi
pasukan Talaga dengan penuh semangat dan patriotisme tetap mengadakan
perlawanan. Dengan teriakan dan gaung Allahu Akbar, serentak pasukan
Talaga dengan kecepatan dan kesigapan yang luar biasa menerjang
lawannya dan terus menerus mengkikis habis para aggressor yang datang
menyerang tanpa kesopanan dan tatakrama itu. Syukurlah bahwa akhirnya
kekuatan para penyerobot itu dapat dilumpuhkan dan semua pasukan
Cirebon dan Demak dapat diusir keluar dari wilayah Kerajaan Talaga.
Kesepakatan
Keraton Ciburang
Karena
peristiwa itu Kanjeng Sinuhun Susuhunan Cirebon, Syarif Hidayatullah
serta merta datang ke Talaga dan disambut secara khidmat dan hormat
oleh Pangeran Satyapati Arya Kikis, Senapati Kerajaan Talaga, Sang
Sunan Wanaperih; tidak urung dengan mendapatkan penghormatan besar
dari para prajurit, puragabaya, para pendekar dan rakyat kerajaan
Talaga serta Galuh Singacala. Sesuai dengan kesepakatan pada
musyawarah di Keraton Ciburang yang diselenggarakan oleh para Raja
dari Galuh beberapa waktu yang silam, yang menyatakan bila Kanjeng
Waliyullah sendiri mengucapkan titahnya, mereka semua akan tumut
kepada Kanjeng Sinuhun Cirebon, Syarif Hidayatullah. Ternyata
kesepakatan di Keraton Ciburang itu dengan takdir Allah terkabul
juga. Pada saat itulah Kanjeng Sinuwun Sunan Gunung Jati Cirebon
bersabda; Bahwa peperangan itu sungguh ditakdirkan Allah; tetapi
bukan merupakan perang agama, Terjadinya perang Talaga hanya karena
tindakan keliru pasukan Cirebon dan Demak. Dalam riwayat lain berkata
: “Perang dengan telaga berawal dari masalah sepele, yaitu
perselisihan antara Demang Talaga dan Tumenggung ( Caruban )
Kertanegara akibat salah paham. Mereka berkelahi dan Demang Talaga
terbunuh dalam perkelahian itu. Kematian Demang Talaga ternyata telah
membuat marah Yang Dipertuan Talaga, Prabu Pucuk Umun, dan putera
mahkota, Sunan Wanaperih (Pangeran Salingsingan / Raden Aria kikis) .
Kabarnya, mereka dihasut oleh Rsi Bungsu, yang menuduh peristiwa
tewasnya Demang talaga itu didalangi oleh yang Dipertuan Caruban.
Lalu, pasukan Talaga disiapkan untuk menyerbu wilayah Caruban.”.
Kemudian Sinuwun Cirebon mendamaikannya dan Sinuwun Syarif
Hidayatullah mengijinkan kepada Pangeran Aria Kikis untuk beruzlah
dan berkholwat (riyadhah dan mujahadah) di kampungnya yaitu di
Leuweung Wana yang selanjutnya disebut Wanaperih, dengan hasrat untuk
mendalami hakekat ajaran Agama Islam sedangkan kerajaan Talaga tetap
berdiri secara mandiri, adapun kepemimpinannya diayomi oleh Kanjeng
Waliyullah, Sunan Gunung Djati.
Kejadian
di atas terjadi sekitar tahun 1550 M, ketika semua rakyat Kerajaan
Talaga sudah memeluk agama islam.
Sampai
saat ini penulis belum mengetahui siapa nama istri Sunan Wanaperih,
tetapi dari berbagai sumber beliau mempunyai anak sbb :
- Dalem Cageur
- Dalem Kulanata
- Apun Surawijaya atau Sunan Kidul
- Ratu Radeya menikah dengan Arya Sarngsingan
- Ratu Putri menikah dengan Sayid Faqih Ibrahim lebih dikenenal Sunan Cipager
- Dalem Wangsa Goparana, berpindah ke Sagalaherang, beliau dan keturunannya penyebarankan agama islam di wilayah Sumedang, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Cianjur, Bogor, sampai Batavia/Jakarta. Salah seorang anaknya bernama Rd Dalem Aria Wiratanudatar (Dalem Cikundul) adalah disamping seorang juru dakwah/penyebar agama islam, beliau juga adalah pendiri Cianjur yang terbebas dari dari kekuasaan Mataram, Sumedang Larang, dan VOC/Belanda. Dalem Cikundul, diangkat oleh para pemimpin Cianjur, Sukabumi, Bogor, sebagai Raja Gagang, artinya beliau penerus kerajaan Pajajaran di wilayah tengah. Keturunannya banyak menjadi ulama besar diantaranya adalah Syekh Yusuf, (Baing Yusuf) di Kaum, Purwakarta, yang merupakan guru ulama penulis kitab terkenal di mancanegara/mendunia yaitu Syekh Nawawi, Albantani, makam Baqi, Mekkah. Ulama lain yang masih keturunannya adalah KH Abdullah Bin Nuh, ulama Cianjur ini juga selain tokoh kemerdekaan, juga terkenal di mancanegara, raja Yordania, pernah bertandang ke rumahnya di Bogor, untuk meminta do'a khusus. Ketika wafat beberapa dubes negara Islam banyak datang untuk bertaziah.
Sunan
Waparerih wafat sekitar tahun 1590 M, dan dimakamkan di desa Kagok,
Kecamatan Banjaran, Majalengka
pintu masuk ke makam Sunan Wanaperih
ribuan peziarah pada saat haul Sunan Wanaperih
haul Sunan Wanaperih bukan hanya dihadiri dari pulau jawa tapi dari luar juwa
ribuan peziarah pada saat haul Sunan Wanaperih
haul Sunan Wanaperih bukan hanya dihadiri dari pulau jawa tapi dari luar juwa
bersambung......
Senin, 22 September 2014
Situs Megalitik di Lampung Barat
http://lampung.tribunnews.com/2012/09/30/wisata-sejarah-gratis-di-situs-megalitik-kebun-tebu
batu sebesar ini asli bendiri tanpa ada sentuhan teknologi
Wisata Sejarah Gratis di Situs Megalitik Kebun Tebu
Lampung Barat tak hanya punya panorama alam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang menyimpan dua air terjun ternama di dalamnya. Atau Pantai Tanjung Setia yang eksotik untuk bermain surfing. Di perbatasan Lambar dengan Bukit Kemuning (Lampung Utara), ada wisata situs megalitik Batu Brak, Kebun Tebu.
Butuh waktu sekitar 15 menit dari Simpang Gadis, Kecamatan Sumber Jaya menuju lokasi situs di Jalan Lebuay, Pekon Purajaya, Kecamatan Kebun Tebu. Dari Liwa, Tribun menempuh perjalanan sekitar dua jam menggunakan kendaraan roda dua. Yang menarik di sini, tidak ada pungutan sama sekali saat memasuki dan menjelajahi lokasi yang banyak menyimpan aneka batuan jaman Megalitik itu.
Sapran, pria paruh baya yang menjaga rumah informasi lokasi situs menuturkan, wisata ini sengaja digratiskan oleh pemerintah sebagai ruang belajar sejarah. Syaratnya hanya menjaga dan tidak merusak bebatuan yang ada di dalamnya.
"Ada batu menhir (tegak), dolmen (meja), datar dan jenis lainnya di dalam situs megalitikum Batu Brak yang memiliki luas lahan 3,5 hektar ini," ceritanya kepada Tribun Lampung, Minggu (30/9).
Berdasarkan catatan sejarah, ungkap dia, situs ini pertama kali ditemukan oleh BRN tahun 1951. Penelitian awal dilakukan Profesor Ares Sukendar pada 1980 lalu. Di lokasi situs yang awalnya merupakan perkebunan kopi penduduk lokal, sambung dia, terdapat 40 buah batu menhir, 38 batu dolmen, dua batu datar, dan beberapa batu kelompok.
Dituturkannya, proses pemugaran sudah dilakukan dua kali. Tahun 1984 dan 1989 lalu. Dalam pemugaran dilakukan reposisi dan rekonstruksi batuan ke posisi semula. Karena saat ditemukan, posisi bebatuan tidak beraturan lantaran gejala alam seperti gempa bumi, tanah longsor, dan faktor usia.
"Selain pelajar maupun umum, mahasiswa maupun peneliti asing juga banyak yang melakukan riset ke sini," terangnya
Menurut dinas kepurbakalaan, situs Batu prasejarah itu diketemukan pada tahun 1951, oleh BRN (Biro Rekonstruksi Nasional), sebuah badan yg mengatur transmigrasi dari Jawa barat ke Lampung, dipimpin oleh Letjen (purn) Didi Kartasasmita, beliau adalah anggota PS 1922, sedangkan penemuan batu prasejarah itu diketemukan oleh pendiri PS 1922
Rabu, 10 September 2014
KISAH MAHABARATA DAN ISLAM
KISAH MAHABARATA DAN ISLAM
Kisah Mahabarata sangat populer di
Indonesia, jauh sebelum Islam masuk hal ini dibuktikan dengan beberapa
peninggalan berupa arca, candi, dan beberapa naskah kuno yang menunjukkan adanya
kisah itu. Pada zaman penyebaran agama Islam-pun kisah mahabarata ini menjadi
alat penyebar agama Islam/dakwah dengan mengambil lakon dalam wayang, baik
wayang kulit ataupun wayang golek.
Tidak disangsikan lagi kisah
mahabarata ini berasal dari negeri India ditulis oleh Begawan Byasa diperkirakan
tahun 5000 SM-3500 SM, kisah mahabarata ini menyebar seiring dengan berdirinya
kerajaan kerajaan di Indonesia.
Kerajaan pertama yang berdiri di
Indonesia adalah Salakanegara di ujung barat pulau jawa tepatnya di Pulosari
sekitar kab Pandeglang, Banten. Sisa sisa peninggalan sampai sekarang masih ada
berbentuk arca, pundek berundak, dll. Kerajaan ini diperkirakan berdiri 0-120 M
yang dipimpin oleh Aki Tirem, saat itu wilayah ini sering diganggu sekelompok
bajak laut,. Sekitar tahun 125 M datang sekelompok orang dari Palawa, India
Selatan, mereka bertujuan melakukan kerjasama perdagangan. Adapun pemimpinnya
kelak dikenal dengan nama Dewawarman. Mereka inilah yang berjasa memadamkan
gangguan para bajak laut, kemudian putri Aki Tirem yang bernama Nyai Pohaci
dinikahkan dengan Dewawarman, dan juga Dewawarman dinobatkan jadi raja penerus
Salakanegara sekitar tahun 130 M. Dari tangan Dewawarman-lah kerajaan
Salakanegara menjadi besar, dan kelak keturunannya menjadi pendiri kerajaan
kerajaan di Indonesia seperti Tarumanegara, Galuh, Mataram Hindu, dsb.
Pada saat Dewawarman berkuasa dapat
dipastikan terjadi percampuran budaya, kesenian lokal dengan pendatang, salah
satunya adalah kisah mahabarata, bukan mustahil Dewawarman ini pula yang pertama
mengenalkan kisah mahabarata kepada penduduk lokal, dan karena keturunannya
menjadi pendiri kerajaan kerajaan di Indonesia, kisah mahabarata ini pula dibawa
ke wilayah kerajaannya seperti Tarumanegara, Galuh, Mataram Kuno, Kalingga,
Majapahit, Pajajaran.
Kisah mahabarata mengisahkan pandawa
lima yang menjadi yatim dari kecil karena sang ayah bernama Pandu meninggal.
Pandu adalah pewaris tahta kerajaan Hastina oleh karena itu putra-nya lah yang
berhak meneruskan kerajaannya. Pandu mempunyai kakak bernama Destarata yang
seharusnya menjadi raja, hanya karena buta semenjak lahir, tahta kerajaan
diberikan kepada Pandu. Destarata mempunyai anak 100 orang kelak dipanggil
Kurawa, sedangkan para putra Pandu dipanggil Pandawa. Berbagai penderitaan yang
dialami pandawa sejak kecil, yang pada dasarnya pihak pandawa masih banyak
mengalah, sampai akhirnya pecah perang Baratayuda di kurusetra.
Yang menarik dalam kisah mahabarata
adalah banyaknya tokoh, dan kisah yang hampir sama dengan Islam, padahal kisah
mahabarata ini sudah lahir jauh sebelum Islam lahir di Mekah al Mukarammah,
artinya ada 2 kemungkinan, 1. jika kisah mahabarata ini merupakan kisah fiktif
yang ditulis resi Byasa, berarti kisah mahabarata ini merupakan ramalan yang
akan terjadi di masa datang, 2. jika kisah mahabarata yang ditulis resi Byasa
ini betul betul terjadi/real, berarti pengulangan peristiwa masa sebelumnya yang
membedakan adalah waktu, tokoh, dan tempat kejadian saja.
Kesamaan Tokoh
A. Pandawa terdiri dari 5 orang
tokoh :
-
Yudistira, merupakan anak sulung dari Pandu, mempunyai watak lemah lembut, jujur, tidak pernah bohong walaupun kejujurannya itu sering dipakai musuh untuk mencelakai dirinya.
-
Bima, anak Pandu no 2, mempunyai perawakan tinggi besar, kuat, jago bermain gulat, disamping senjata utamanya adalah gada, berani dan tegas.
-
Arjuna, anak Pandu no 3, mempunyai wajah tampan, mahir dalam memainkan panah, dan tidak disangsikan seorang yang panglima perang tangguh, bahkan dalam beberapa peperangan arjuna-lah sang penentu kemenangan dalam peperangan termasuk perang baratayuda, maka tepatlah jika disebut sang satria penentu kemenangan.
-
Nakula dan Sadewa adalah anak Pandu yang no 4+5, merupakan kembar jarang terdengar dalam peperangan, walaupun sering juga terlibat dalam peperangan, keahlian utamanya adalah mengerti bahasa binatang, dapat berkomunikasi dengan binatang, sehingga dapat mengurus hewan ternak dengan baik, dan akan menghasilkan keuntungan yang sangat baik sehingga menjadikan devisa banyak, disamping pandai dalam dunia pengobatan.
Dalam Islam ada 4 tokoh sahabat Nabi
yang paling utama :
-
Khalifah Abu Bakar Sidiq, beliau diberikan gelar “SIDIQ” oleh Rasullah SAW karena jujur, tidak pernah bohong, dan membenarkan semua tindakan Nabi ketika orang orang ragu dengan Nabi, contohnya ketika peristiwa Isra Miraj, beliau-lah yang pertama mempercayai perkataan Nabi, sehingga Nabi memberi gelar “SIDIQ” (terpercaya/membenarkan), disamping beliau juga mempunyai sifat lemah lembut, jika dibandingkan dengan Pandawa, Khalifah Abu Bakar Siddiq hampir sama dengan Yudistira.
-
Khalifah Umar Ibnu Khatab, Al Faruk, beliau khalifah kedua yang memimpin Islam setelah Nabi Muhammad saw wafat, nabi memberi gelar Al Faruk, artinya sebagai pembeda, pembatas, antara kebenaran dan kesalahan, perawakannya tinggi besar, sehingga dalam riwayat dikisahkan jika sedang berjalan dengan sahabat yang lain terlihat badannya yang paling berbeda, yaitu tinggi besar, wataknya tegas, berani, badannya kuat, bahkan dalam beberapa riwayat beliau adalah juara gulat dalam beberapa festival gulat sebelum masuk Islam, salah satu peristiwa yang menarik dalam diri Khalifah Umar bin Khatab adalah ketika pertama kali masuk Islam adalah, beliau tidak merahasiakan keislamannya, seperti sahabat lain untuk menghindari tindakan amoral para penentang Nabi, tapi Umar bin Khatab justru mengumumkan di khalayak ramai, dengan berteriak, tidak ada satupun yang berani dengan beliau, jika dibandingkan dengan Pandawa Umar bin Khatab hampir sama dengan Bima, dalam perawakan, dan sifat sifatnya.
-
Khalifah Usman Bin Affan, beliau khalifah ketiga yang memimpin Islam setelah Nabi Muhammad saw wafat, mempunyai keahlian dalam berdagang, sehingga karena ahlinya dalam berdagang itu beliau mempunyai harta paling banyak diantara sahabat nabi yang lain, dan tentu saja beliau juga seorang yang paling dermawan, walaupun beliau jarang terlibat dalam peperangan tetapi beliau banyak menyumbang dengan harta yang tidak terhingga, dalam pandawa nakula-sadewa jarang diceritakan dalam peperangan tetapi dengan keahlian mengerti bahasa hewan, sehingga ternak dapat dapat menjadikan komoditi atau harta kekayaan.
-
Khalifah Ali Bin Abi Thalib, tidak salah lagi beliaulah panglima perang terkenal, keahliannya dalam berperang sangat disegani musuh, dan dalam beberapa peperangan beliau-lah kunci kemenangan umat Islam, salah satu contoh ketika pada peristiwa perang Khaibar, dimana ketika semua panglima perang tidak ada yang sanggup menembus benteng Khaibar, Khalifah Ali Bin Abi Thalib-lah yang bukan hanya bisa menghancurkan benteng khaibar, tetapi dapat memberikan kemenagan umtuk Islam, padahal saat itu beliau sedang sakit mata . Dalam Pandawa, Arjuna-lah sang panglima perang yang tangguh, dan arjuna juga sang penentu kemenangan Pandawa.
B. Abimanyu, adalah putra Arjuna
dari istrinya yang bernama Subadra, yang masih saudara sepupu dari ibunya Arjuna
yang bernama Dewi Kunti, disamping Subadra juga adalah adik dari Sri Kresna.
Abimanyu hampir sama dengan ayahnya Arjuna yang ahli dalam peperangan, bahkan
dalam perang Baratayuda memberikan andil yang sangat besar, ketika itu setelah
menghancurkan kekuatan kurawa, Abimanyu terjebak dalam kepungan musuh, Abimanyu
dibunuh dengan keji oleh Pandawa dengan dikeroyok beramai ramai, padahal saat
itu tidak bersenjata, padahal dalam peraturan perang baratayuda tidak
dibernarkan membunuh musuh yang tidak sedang bersenjata. Dalam tarikh Islam,
pernah terjadi peristiwa Padang Karbala, ketika itu anak Khalifah Ali Bin
Thalib, bernama Syaidina Husein yang juga cucu Nabi Muhammad saw, meninggal
dengan cara keji dalam peperangan di Karbala, beliau dibunuh dengan cara
dikeroyok, dan mendapat siksaan yang tidak pantas dari musuhnya, peristiwa ini
hampir mirip dengan Abimanyu di perang baratayuda.
C. Perang Baratayuda, adalah perang
saudara antara pihak kurawa dan pandawa di lapangan kurusetra, saudara disini
termasuk sangat dekat karena mereka adalah saudara sepupu, setelah sebelumnya
Pandawa mendapat penderitaan yang sangat banyak dari kurawa. Pada perang
Baratayuda ini pihak kurawa mempunyai kekuatan perang yang jauh lebih besar dan
banyak dibanding pandawa, kekuatan laskar perang dan persenjataan kurawa kurang
lebih 2-3 kali lebih banyak dibanding pandawa. Tetapi Pandawa yang jumlahnya
lebih sedikit dapat memenangkan peperangan. Peristiwa ini mengingatkan kita
kepada perang Badar, dimana pada saat itu terjadi perang saudara yang hampir
sama dengan baratayuda, ayah dengan anak, kakak dengan adik, disamping itu
kekuatan Islam yang jauh lebih sedikit dibanding musuh, dimana pasukan islam
hanya berjumlah kurang lebih 300 orang, sedangkan musuh sekitar 900-1000 orang,
kekuatan musuh 3 kali lebih banyak dengan peralatan perang yang lebih canggih
tentunya, tetapi pasukan Islam dapat memenangkan peperangan ini, hampir sama
seperti peristiwa perang Baratayuda.
Dalam perjalanan PS, ada kejadian yang hampir sama dengan kisah pandawa, tatkala pandawa ditawari untuk memilih daerah daerah di kerajaan Hastina yang sudah makmur dan pihak pandawa akan menjadi penguasa di daerah tersebut, asal jangan jadi raja di Hastina, pandawa menolak diberikan wilayah wilayah yang sudah makmur tapi pandawa lebih memilih hutan belantara yang terkenal dengan keangkeran dan dipenuhi binatang buas, pandawa bukan hanya bisa menaklukan siluman beserta binatang buasnya tapi pandawa berhasil membangun hutan itu menjadi istana, dan daerah yang makmur melebihi wilayah di hastina dan wilyah itu kelak bernama Amarta/Indraprasta. Dalam perjalanan waktu, PS setelah ikut mempertahankan wilayah NKRI dengan berperang dengan pihak NICA/Belanda, sekitar tahun 1950-an, pendiri PS mendapat anugrah bintang gerilya yang diberikan langsung oleh presiden RI saat itu Ir Soekarno, dan Ir Soekarno menawarkan jabatan sebagai bupati Cianjur kepada pendiri PS. Pendiri PS menolak jabatan bupati Cianjur, beliau lebih suka memilih transmigrasi dengan sekitar 20 ribu warga PS ke hutan belantara lampung barat, subhannalah.... mulia sekali hati beliau ini, padahal saat itu lampung barat masih dipenuhi binatang buas dan angker, menurut warga lampung asli, wilayah yang ditempati warga PS sekarang, sebelumnya tidak pernah ada orang yang berani melewati apalagi ditempati. Sekarang harga tanah di lampung barat sudah mahal hampir sama dengan di pulau jawa diakibatkan, tanahnya terkenal dengan produksi kopi yang diekspor ke luar negeri, disamping lada, dan sebagian besar pemilik tanah kopi itu adalah warga PS, mungkinkah PS sedang menjalai salah satu lakon pandawa ?, wallahu alam
Dalam perjalanan PS, ada kejadian yang hampir sama dengan kisah pandawa, tatkala pandawa ditawari untuk memilih daerah daerah di kerajaan Hastina yang sudah makmur dan pihak pandawa akan menjadi penguasa di daerah tersebut, asal jangan jadi raja di Hastina, pandawa menolak diberikan wilayah wilayah yang sudah makmur tapi pandawa lebih memilih hutan belantara yang terkenal dengan keangkeran dan dipenuhi binatang buas, pandawa bukan hanya bisa menaklukan siluman beserta binatang buasnya tapi pandawa berhasil membangun hutan itu menjadi istana, dan daerah yang makmur melebihi wilayah di hastina dan wilyah itu kelak bernama Amarta/Indraprasta. Dalam perjalanan waktu, PS setelah ikut mempertahankan wilayah NKRI dengan berperang dengan pihak NICA/Belanda, sekitar tahun 1950-an, pendiri PS mendapat anugrah bintang gerilya yang diberikan langsung oleh presiden RI saat itu Ir Soekarno, dan Ir Soekarno menawarkan jabatan sebagai bupati Cianjur kepada pendiri PS. Pendiri PS menolak jabatan bupati Cianjur, beliau lebih suka memilih transmigrasi dengan sekitar 20 ribu warga PS ke hutan belantara lampung barat, subhannalah.... mulia sekali hati beliau ini, padahal saat itu lampung barat masih dipenuhi binatang buas dan angker, menurut warga lampung asli, wilayah yang ditempati warga PS sekarang, sebelumnya tidak pernah ada orang yang berani melewati apalagi ditempati. Sekarang harga tanah di lampung barat sudah mahal hampir sama dengan di pulau jawa diakibatkan, tanahnya terkenal dengan produksi kopi yang diekspor ke luar negeri, disamping lada, dan sebagian besar pemilik tanah kopi itu adalah warga PS, mungkinkah PS sedang menjalai salah satu lakon pandawa ?, wallahu alam
Senin, 04 Agustus 2014
Mengapa Daendles tidak membuat jalan Anyer-Panarukan lewat Pantura
Dalam
menghadapi invasi inggris ke pulau jawa, gubernur jenderal Daendles
mempersiapkan dengan membuat jalan dari Anyer sampai Panarukan dengan maksud
agar akomodasi darat lebih mudah. Pembuatan jalan itu di mulai dari Barat pulau
jawa yaitu Anyer, sebuah kecamatan di wilayah Serang, Banten, sampai dengan
Panarukan di Banyuwangi /Jawa Timur dibuat tahun 1809 sampai tahun 1810
sepanjang 1000 km.
Adapun rute
pembuatan jalan itu adalah anyer, cilegon, serang, tangerang, jakarta, bogor,
puncak, cianjur, bandung, sumedang, kadipaten, cirebon, dst. Dalam sejarah
sumedang ditulis bahwa Pangeran Kornel sempat menolak pembuatan jalan, hal itu
diabadikan dengan tugu di cadas pangeran. Yang menjadi pertanyaan kenapa
Daendles tidak membuat jalan lewat pantura yaitu dari jakarta, ke bekasi,
karawang, subang, indramayu, cirebon ?, padahal secara geografis keadaan alamnya
lebih mudah dibuat jalan karena tanahnya datar, tidak banyak belokan, dll.
Daendles lebih memilih jalur selatan yang keadaan geografisnya lebih sulit,
dimana banyak sekali tanjakan, dan belokan karena daerah pegunungan.
Daerah pantura
terkenal dengan rawan kejahatannya dari bajing luncat sampai perampokan, hal ini
yang dikhawatirkan Daendles, karena pembuatan jalan ini harus diselesaikan dalam
waktu yang singkat, sementara gangguan keamanan wilayah pantura tidak akan
dipadamkan dalam waktu yang singkat. Salah satu kelompok rampok yang terkenal
adalah Golek Merah kelompok ini beraksi antara wilayah bekasi sampai cirebon,
basisnya adalah karawang sampai subang, kelompok ini bukan hanya lihai dan sadis
dalam melakukan aksinya, tetapi juga terkenal dengan kedigjayaan dan
kesaktiannya, pernah salah satu orang dari kelompok ini tertangkap lalu dibunuh
dengan cara kejam dengan cara dicincang, baik oleh aparat keamanan setempat
ataupun masyarakat, kemudian apa yang terjadi ?, ternyata orang yang telah mati
dengan cara dicincang itu dapat hidup kembali, aneh bin ajaib.
Berbagai jenis
kejahatan yang tidak ada di wilayah lain tetapi wilayah ini ada, seperti istilah
kesenian yang populer di willayah ini semacam tarian/jaipongan bernama BAJIDOR,
yang dalam sebagian orang diartikan Barisan Jalma Doraka (Barisan Jalma
Durhaka), sudah puluhan tahun atau mungkin ratusan tahun pihak belanda yang
angkatan perangnya terkenal bisa memadamkan pemberontakan kaum Padri di Sumatra
Barat, Aceh, ataupun Sultan Hasanudin di Makasar, tidak bisa menumpas kejahatan
di wilayah ini. Hal ini yang membuat Daendles tidak membuat jalan melewati
Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu daripada mendapat gangguan para bajingan
ini, Daendels lebih suka memilih jalan yang tingkat kesulitannya lebih tinggi di
daerah pegununungan yang bukan hanya banyak belokan, tanjakan, ataupun batu
karang tetapi juga dengan biaya yang lebih besar.
Diawali dengan
penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengas Dengklok, yang merupakan basis warga
PS/Partisan Siliwangi, ketika negeri ini akan dilahirkan di bulan suci Ramadan
hari jum'at tanggal 17 Agustus 1945, timbul pertanyaan kenapa harus diasingkan
ke Rengas Denglok, sebuah daerah terpencil saat itu yang dikenal daerah gersang
?. Lebih jelas lagi ketika pecah perang kemerdekaan wilayah Bekasi Karawang
Subang/Purwakarta merupakan medan pertempuran heroik yang terkenal. Bahkan
banyak pejuang RI yang terdesak dari Jakarta seperti Lukas Kustaryo dari TNI,
Haji Darip Klender, KH Nur Ali Kalimalang, dll bersembumyi di Purwakarta. Tidak
salah lagi wiliyah ini merupakan basis perjuangan TNI, yang dibantu oleh
masyarakat setempat. Walaupun Belanda dengan membonceng NICA yang terkenal
dengan pasukan GURKA berhasil menghancurkan wilayah Bekasi sampai Karawang,
tetapi mereka tidak berhasil menangkap para pejuang baik dari TNI ataupun
sipil.
Berbicara
tentang TNI yang berjuang di wilayah Pasundan ketika kancah perang revolusi
sudah bisa dipastikan Divisi Siliwangi-lah nama pasukan itu, sebutlah seperti
para tokoh seperti Jendral Didi Kartasasmita yang pada saat long march
pangkatnya lebih tinggi daripada Jendral Nasution ataupun Jendral Sudirman,
Brigjen Sadikin yang pensiun dini tahun 1950-an beliau yang menumpas
pemberontakan PKI Madiun, bahkan dalam buku biografi Presiden Soeharto, Brigjen
Sadikin-lah yang menyelamatkan Soeharto ketika ditangkap oleh pasukan TNI karena
disangka terlibat pemberontakan Madiun. Tokoh lain dari Divisi Siliwangi adalah
Jendral Mursid yang merupakan Wakasad dan diplomat Philipina ketika jaman
Soekarno, Jendral Darsono mantan Pamgdam Wirabuana, dan banyak lagi yang tidak
bisa ditulis satu persatu. Dan perlu diketahui semua tokoh Siliwangi yang kami
sebut tadi adalah warga tulen paguron PS/Partisan Siliwangi. Diluar dari TNI
banyak juga laskar rakyat seperti hisbullah, PS/Partisan Siliwangi yang pada
saat itu masih bernama PS/Penjtak Silat yang pada akhirnya laskar PS ini
direkrut oleh Divisi Siliwangi bukan hanya dalam medan pertempuran tetapi juga
diikutsertakan long march ke Jogyakarta.
Dalam
menghadang pasukan GURKA yang merupakan tulang punggung kekuatan NICA/ Belanda,
di wilayah Pantura ada sekelompok orang membuat moral pasukan NICA jatuh, mereka
bukan hanya berani di medan tempur tetapi juga memiliki keterampilan perang
melebihi militer, padahal mereka tidak pernah mendapat didikan militer, uniknya
dari kelompok ini adalah banyak diantara mereka yang merupakan kelompok Golek
Merah yang sering membuat keonaran di masyarakat, sebelumnya berbagai macam
kejahatan telah mereka lakukan dari perjudian, pelacuran, pembunuhan,
perampokan, dsb. Ada kejadian yang menunjukkan bahwa mereka itu sebelumnya jauh
dari pendidikan agama yaitu, suatu saat mereka itu diperintah membaca solawat,
kemudian apa yang terjadi ?, mereka bukannya membaca solawat seperti diperintah
agama dengan membaca “Allahumma shalii ala..........” tetapi mereka membaca
solawat, solawat.......dst, sudah dapat dipastikan banyak juga diantara mereka
yang tidak bisa melakukan shalat, bahkan ketika bulan suci ramadan banyak
diantara mereka yang tidak melakukan puasa.
Tetapi fakta
di lapangan menyebutkan bahwa para bajingan yang sering membuat onar di
masyarakat dan jauh dari pendidikan agama itulah yang banyak berperan menghadang
tentara Sekutu, NICA yang diboncengi Belanda, mereka berjuang tanpa pamrih,
keterampilan berperang mereka melebihi pasukan militer khusus, padahal mereka
tidak pernah mendapat pendidikan militer. Disamping itu background moral mereka
sebelumnya dikenal kurang baik, dikhawatirkan akan membuat keonaran tidak
berbekas sama sekali. Hal ini dibuktikan dengan direkrutnya kelompok ini oleh
petinggi Divisi Siliwangi dalam beberapa medan pertempuran dan bahkan ikut long
march ke Jogyakarta. Pertanyaannya kenapa bisa moral mereka yang dikenal
sebelumnya tidak baik bisa berubah 180 derajat ?, jawabannya tidak ada yang
tidak mungkin terjadi bagi Tuhan, jika Tuhan telah berkehendak semua bisa
terjadi termasuk melunakan hati manusia yang lebih keras daripada cadas ataupun
baja, membuat dingin hati yang lebih panas daripada api.
Itulah hijrah
sebenarnya yang diajarkan oleh Nabi bukan hanya pindah dari satu tempat ke
tempat lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik tetapi hijrah daripada
perbuatan yang tidak baik ke perbuatan yang lebih baik, itulah mereka anggota
PS/Partisan Siliwangi telah melakukan hijrah secara fisik dan spiritual, hijrah
fisik mereka telah melakukan dari jawa barat ke jogyakarta dengan melakukan long
march karena ketaatan mereka kepada pemimpin negara, agama, hijrah spiritual
dengan merubah perilaku tidak baik ke perilaku yang lebih baik.
Sejarah
menulis hijrah yang dilakukan warga PS/Partisan Siliwangi ada beberapa kali,
diantaranya setelah perang kemerdekaan selesai, mereka yang berjumlah kurang
lebih 20 ribu orang, bertrasmigrasi ke lampung dengan membuka hutan belantara
atas restu Presiden Soekarno dibantu BRN (Badan Rekonstruksi Nasional) pimpinan
Jendral Didi Kartasasmita tahun 1950, mereka menjadi petani kopi, lada, karet,
nelayan dll di lampung. Seperti diketahui Lampung adalah salah satu sentral
kopi/lada/karet di Indonesia, sebagian besar dari mereka itu dimiliki warga
paguron PS/Partisan Siliwangi, artinya secara ekonomi penghasilan mereka
melebihi dari kecukupan, hal ini dibuktikan dengan mahalnya harga tanah di
Lampung Barat yang merupakan basis warga PS/Partisan Siliwangi (80% warga
lampung barat adalah warga paguron PS/Partisan Siliwangi), selain itu data
statistik menyebut bahwa peredaran uang paling besar dan cepat di propinsii
lampung ada di kab Lampung Barat yang merupakan basis warga paguron PS/ Partisan
Siliwangi.
Kesimpulan
dari tulisan ini adalah warga paguron PS/Partisan Siliwangi telah melakukan
hijrah 3 jenis :
-
Hijrah dari tempat asal mereka di Jawa Barat ke Jogyakarta ketika pecah perang kemerdekaan, long march, kemudian hijrah ke lampung setelah perang kemerdekaan sampat saat ini.
-
Hijrah dari ekonomi/penghasilan yang biasa/kurang baik ke ekonomi/penghasilan yang lebih baik karena kopi dari warga paguron PS/Partisan Siliwangi banyak diekspor ke luar negeri, disamping harga lada yang tinggi, juga karet.
-
Hijrah dari perilaku yang kurang baik ke perilaku yang lebih baik hal ini dibuktikan dengan berubahnya perilaku warga paguron PS/Partisan Siliwangi dari yang tidak mengenal agama menjadi lebih religius dalam beragama.
-
Tiga Point di atas tidak mungkin terlaksana tanpa adanya kepatuhan, ketaatan kepada pemimpin mereka, artinya setiap warga PS Paguron bermaksud tawakal kepada Allah dan patuh kepada Guru/Pemimpin yang tidak keluar dari martabat keguruannya.
Kamis, 13 Maret 2014
Guru Besar Partisan Siliwangi Dukung Zainal Abidin
Rabu, 23 Januari 2013 23:00 WIB
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Dewan Pimpinan Pusat Pejuang Siliwangi Indonesia (DPP PSI) melalui Guru Besar Edeh Puradireja menyatakan mendukung bulat Zainal Abidin, maju dalam pemilihan bupati Lampung Utara mendatang.
"PSI mendukung dan siap memenangkan pak Zainal sebagai Bupati Lampung Utara pada pilbup September mendatang. Pak Zainal sebagai Ketua Dewan Penasehat DPC PSI Lampung Utara telah banyak berbuat bagi PSI di Lampung Utara," ujar Ketua DPC PSI Kabupaten Lampung Utara Joni kepada tribun Rabu (23/1/2014) .
Menurut Joni dukungan guru besar PSI disampaikan langsung saat jajaran pengurus dan penasehat DPC dan PAC PSI se-Lampung Utara menyambangi kediaman anak Pendiri Perguruan PSI Raden Ama Puradiredja, di Subang, Jawa Barat, Rabu (23/1/2014).
Dalam Silaturahmi tersebut kata dia, Ketua Dewan Penasehat PSI yang juga Bupati Lampung utara didampingi Sekdakab Rifki Wirawan, Kadis PU Hamartoni, Kepala Bappeda Efendi dan Kadis Kelautan Perikanan Kadarsyah.
Rombongan diterima langsung Ibu Edeh Alit Poeradiredja Guru Besar Perguruan PSI dan saudara tua nya Ibu Edeh Ageng Poeradiredja. (romi-rinando)
Kesbangpol Lampura: ZA Ungguli Abdi
Laporan Reporter Tribun Lampung Anung Bayuardi
Jumat, 20 September 2013 17:33 WIB
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID-Berdasarkan data yang masuk di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Lampung Utara, Jumat (20/9/2013) pukul 16.45 WIB.
Pasangan Zainal Abidin-Ansyori Djausal (ZA) memperolehan suara sebanyak 60.972 suara atau 45,02 persen. Sedangkan pasangan Agung bersama Paryadi (Abdi) memperoleh 58.468 suara atau 43,17 persen.
Posisi ketiga tetap ditempati Yusrizal dan Yoyot Sukarno dengan perolehan suara sebanyak 13.162 suara atau 9,72 persen.
Pasangan Kesuma Dewangsa dan Supeno masih bertahan di posisi buncit dengan perolehan suara sebanyak 2.820 atau 2,08 persen.
Jumlah tersebut berdasarkan suara yang masuk, yakni 441.981 suara. (anung bayuardi)
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Dewan Pimpinan Pusat Pejuang Siliwangi Indonesia (DPP PSI) melalui Guru Besar Edeh Puradireja menyatakan mendukung bulat Zainal Abidin, maju dalam pemilihan bupati Lampung Utara mendatang.
"PSI mendukung dan siap memenangkan pak Zainal sebagai Bupati Lampung Utara pada pilbup September mendatang. Pak Zainal sebagai Ketua Dewan Penasehat DPC PSI Lampung Utara telah banyak berbuat bagi PSI di Lampung Utara," ujar Ketua DPC PSI Kabupaten Lampung Utara Joni kepada tribun Rabu (23/1/2014) .
Menurut Joni dukungan guru besar PSI disampaikan langsung saat jajaran pengurus dan penasehat DPC dan PAC PSI se-Lampung Utara menyambangi kediaman anak Pendiri Perguruan PSI Raden Ama Puradiredja, di Subang, Jawa Barat, Rabu (23/1/2014).
Dalam Silaturahmi tersebut kata dia, Ketua Dewan Penasehat PSI yang juga Bupati Lampung utara didampingi Sekdakab Rifki Wirawan, Kadis PU Hamartoni, Kepala Bappeda Efendi dan Kadis Kelautan Perikanan Kadarsyah.
Rombongan diterima langsung Ibu Edeh Alit Poeradiredja Guru Besar Perguruan PSI dan saudara tua nya Ibu Edeh Ageng Poeradiredja. (romi-rinando)
Kesbangpol Lampura: ZA Ungguli Abdi
Laporan Reporter Tribun Lampung Anung Bayuardi
Jumat, 20 September 2013 17:33 WIB
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID-Berdasarkan data yang masuk di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Lampung Utara, Jumat (20/9/2013) pukul 16.45 WIB.
Pasangan Zainal Abidin-Ansyori Djausal (ZA) memperolehan suara sebanyak 60.972 suara atau 45,02 persen. Sedangkan pasangan Agung bersama Paryadi (Abdi) memperoleh 58.468 suara atau 43,17 persen.
Posisi ketiga tetap ditempati Yusrizal dan Yoyot Sukarno dengan perolehan suara sebanyak 13.162 suara atau 9,72 persen.
Pasangan Kesuma Dewangsa dan Supeno masih bertahan di posisi buncit dengan perolehan suara sebanyak 2.820 atau 2,08 persen.
Jumlah tersebut berdasarkan suara yang masuk, yakni 441.981 suara. (anung bayuardi)
Mukhlis Basri Unggul Pilkada Lampung Barat
Lampung Barat (ANTARA LAMPUNG) - Pasangan nomor urut 1, Mukhlis Basri-Makmur Azhari, dari hasil hitung cepat lembaga survei, Rakata Institute, dan Kesbangpolinmas Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, meraih sekitar 89,22 persen suara pada pemungutan suara pilkada setempat, Kamis.
Pasangan nomor urut 2, Khotop Jallaludin-Erwin Suhendra hanya meraih 10,78 persen suara, jauh di bawah perolehan suara Mukhlis yang juga Bupati "incumbent" saat ini.
Sebelumnya, calon "incumbent" Bupati Lambar, Mukhlis Basri, memberikan hak suara pada pemilu kepala daerah (pilkada) setempat, di Pekon (Desa) Purawiwitan, Kecamatan Kebuntebu, Lampung Barat, Kamis pagi.
"Calon Bupati Mukhlis Basri memilih di TPS 5 Purawiwitan, dan calon Wakil Bupati Makmur Azhari memberikan hak suara di TPS 6 Kelurahan Waymengaku, Kecamatan Balikbukit," kata Kasubbag Teknis dan Humas Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lambar, Arfiatin.
Mukhlis Basri-Makmur Azhari ialah pasangan calon bupati dan wakil bupati Lambar nomor urut 1, sedangkan pasangan nomor urut 2 ialah Khotop Jalaludin-Erwin Suhendra.
"Calon Wakil Bupati nomor urut 2, Erwin Suhendra, memberikan hak suara di TPS 3, Pekon Kenali, Kecamatan Belalau," ujar Arfiatin pula.
Sedangkan calon Bupati nomor urut 2, Khotop Jalaludin, tidak memberikan hak suara, sehubungan alamat atau tempat tinggalnya di Kota Bandarlampung.
Pilkada di Lampung Barat yang akan memilih pemimpin daerah itu periode 2012-2017 diikuti dua pasangan calon, yakni Mukhlis Basri-Makmur Azhari, dan Khotop Jalaludin-Erwin Suhendra.
KPU setempat menyebutkan jumlah pemilih dalam pilkada daerah ini mencapai 296.367 orang tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT).
Kedua pasangan bersaing untuk memimpin daerah yang memiliki motto "Beguai Jejama Sai Betik" tersebut.
Pasangan nomor urut 1, Mukhlis Basri-Makmur Azhari mempunyai visi terwujudnya Lampung Barat yang sejahtera dan berdaya saing, berlandaskan iman dan taqwa.
Mereka diusung sejumlah partai besar, seperti PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Gerindra.
Sementara pasangan nomur urut 2, Khotop Jalaludin-Erwin Suhendra memiliki visi terwujudnya masyarakat Lampung Barat yang sejahtera dan bermartabat, berbasis pada kearifan lokal.
Mereka diusung lima partai yang memiliki enam kursi di DPRD Lampung Barat, yakni PKNU, Partai Pelopor, Partai Indonesia Sejahtera (PIS), Partai Perhimpunan Indonesia Baru, dan Partai Bintang Reformasi.
Pada Kamis ini, secara serentak dilaksanakan pemungutan suara pilkada pada tiga kabupaten di Provinsi Lampung, yaitu Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Tulangbawang.
http://lampungreview.com/mukhlis-basri-kukuhkan-kepengurusan-dpd-siliwangi-pesisir-barat/
Mukhlis Basri Kukuhkan Kepengurusan DPD Siliwangi Pesisir Barat
Pelaksana tugas Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pejuang Siliwangi Indonesia (PSI) Provinsi Lampung, Mukhlis Basri, mengukuhkan kepengurusan DPC PSI Kabupaten Pesisir Barat masa bakti 2013-2018, Kamis (28/11).
Pengukuhan dilakukan di halaman Rumah Makan Prambanan, Kecamatan Ngambur, Pesisir Barat, tersebut selain di hadiri oleh seratusan pengurus DPC Siliwangi dan sekitar seribu undangan juga di hadiri langsung oleh Pj Bupati Pesisir Barat Kherlani, ketua DPRD Lambar Dadang Sumpena, Kajari Rachmad Triono, Kapolres AKBP Eko Widianto, dan Dandim letkol Inf Sugiyono serta sesepuh pejuang siliwangi.
Dalam sambutannya, ketua DPD Siliwangi Mukhlis Basri meminta kepengurusan yang telah di kukuhkan untuk bisa memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah, melalui ide dan gagasan yang bisa di sumbangkan kepada pemerintah daerah.
“Jika pendahulu kita itu berjuang mengorbankan nyawa, sekarang kita tinggal meneruskan perjuangan itu dengan ide cemerlang untuk ambil bagian dalam membangun daerah, ” ujar Mukhlis.
Mukhlis juga mengajak para simpatisan dan pejuang siliwangi untuk menumbuh kembangkan semangat gotong royong di tengah-tengah masyarakat.
“Warga PS berasal dari semua golongan, suku dan bermacam-macam sudut pandang politik, itu harus di jadikan sebagai kekuatan untuk membangun semangat kebersamaan,” ujar dia.
Sementara, Ketua DPC Pejuang Siliwangi Pesisir Barat Oking Ganda Miharja Kartadilaga mengatakan dengan dikukuhkannya kepengurusan di kabupaten itu, pihaknya berharap adanya dukungan dari semua komponen masyarakat sehingga keberadaan organisasi tersebut juga memiliki kontribusi dalam membangun kabupaten yang baru di bentuk sekitar satu tahun itu.
Pasangan nomor urut 2, Khotop Jallaludin-Erwin Suhendra hanya meraih 10,78 persen suara, jauh di bawah perolehan suara Mukhlis yang juga Bupati "incumbent" saat ini.
Sebelumnya, calon "incumbent" Bupati Lambar, Mukhlis Basri, memberikan hak suara pada pemilu kepala daerah (pilkada) setempat, di Pekon (Desa) Purawiwitan, Kecamatan Kebuntebu, Lampung Barat, Kamis pagi.
"Calon Bupati Mukhlis Basri memilih di TPS 5 Purawiwitan, dan calon Wakil Bupati Makmur Azhari memberikan hak suara di TPS 6 Kelurahan Waymengaku, Kecamatan Balikbukit," kata Kasubbag Teknis dan Humas Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lambar, Arfiatin.
Mukhlis Basri-Makmur Azhari ialah pasangan calon bupati dan wakil bupati Lambar nomor urut 1, sedangkan pasangan nomor urut 2 ialah Khotop Jalaludin-Erwin Suhendra.
"Calon Wakil Bupati nomor urut 2, Erwin Suhendra, memberikan hak suara di TPS 3, Pekon Kenali, Kecamatan Belalau," ujar Arfiatin pula.
Sedangkan calon Bupati nomor urut 2, Khotop Jalaludin, tidak memberikan hak suara, sehubungan alamat atau tempat tinggalnya di Kota Bandarlampung.
Pilkada di Lampung Barat yang akan memilih pemimpin daerah itu periode 2012-2017 diikuti dua pasangan calon, yakni Mukhlis Basri-Makmur Azhari, dan Khotop Jalaludin-Erwin Suhendra.
KPU setempat menyebutkan jumlah pemilih dalam pilkada daerah ini mencapai 296.367 orang tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT).
Kedua pasangan bersaing untuk memimpin daerah yang memiliki motto "Beguai Jejama Sai Betik" tersebut.
Pasangan nomor urut 1, Mukhlis Basri-Makmur Azhari mempunyai visi terwujudnya Lampung Barat yang sejahtera dan berdaya saing, berlandaskan iman dan taqwa.
Mereka diusung sejumlah partai besar, seperti PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Gerindra.
Sementara pasangan nomur urut 2, Khotop Jalaludin-Erwin Suhendra memiliki visi terwujudnya masyarakat Lampung Barat yang sejahtera dan bermartabat, berbasis pada kearifan lokal.
Mereka diusung lima partai yang memiliki enam kursi di DPRD Lampung Barat, yakni PKNU, Partai Pelopor, Partai Indonesia Sejahtera (PIS), Partai Perhimpunan Indonesia Baru, dan Partai Bintang Reformasi.
Pada Kamis ini, secara serentak dilaksanakan pemungutan suara pilkada pada tiga kabupaten di Provinsi Lampung, yaitu Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Tulangbawang.
http://lampungreview.com/mukhlis-basri-kukuhkan-kepengurusan-dpd-siliwangi-pesisir-barat/
Mukhlis Basri Kukuhkan Kepengurusan DPD Siliwangi Pesisir Barat
Pelaksana tugas Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pejuang Siliwangi Indonesia (PSI) Provinsi Lampung, Mukhlis Basri, mengukuhkan kepengurusan DPC PSI Kabupaten Pesisir Barat masa bakti 2013-2018, Kamis (28/11).
Pengukuhan dilakukan di halaman Rumah Makan Prambanan, Kecamatan Ngambur, Pesisir Barat, tersebut selain di hadiri oleh seratusan pengurus DPC Siliwangi dan sekitar seribu undangan juga di hadiri langsung oleh Pj Bupati Pesisir Barat Kherlani, ketua DPRD Lambar Dadang Sumpena, Kajari Rachmad Triono, Kapolres AKBP Eko Widianto, dan Dandim letkol Inf Sugiyono serta sesepuh pejuang siliwangi.
Dalam sambutannya, ketua DPD Siliwangi Mukhlis Basri meminta kepengurusan yang telah di kukuhkan untuk bisa memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah, melalui ide dan gagasan yang bisa di sumbangkan kepada pemerintah daerah.
“Jika pendahulu kita itu berjuang mengorbankan nyawa, sekarang kita tinggal meneruskan perjuangan itu dengan ide cemerlang untuk ambil bagian dalam membangun daerah, ” ujar Mukhlis.
Mukhlis juga mengajak para simpatisan dan pejuang siliwangi untuk menumbuh kembangkan semangat gotong royong di tengah-tengah masyarakat.
“Warga PS berasal dari semua golongan, suku dan bermacam-macam sudut pandang politik, itu harus di jadikan sebagai kekuatan untuk membangun semangat kebersamaan,” ujar dia.
Sementara, Ketua DPC Pejuang Siliwangi Pesisir Barat Oking Ganda Miharja Kartadilaga mengatakan dengan dikukuhkannya kepengurusan di kabupaten itu, pihaknya berharap adanya dukungan dari semua komponen masyarakat sehingga keberadaan organisasi tersebut juga memiliki kontribusi dalam membangun kabupaten yang baru di bentuk sekitar satu tahun itu.
Langganan:
Postingan (Atom)















