Kamis, 25 Februari 2016

Perkutut Menurut Tinjauan Ilmiah

Tinjauan Umum
Burung Perkutut (Geopelia striata) atau biasa disebut dengan Merbuk adalah sejenis burung yang memiliki suara kicau yang indah dan ukuran tubuh yang kecil. Burung yang berasal dari familia Columbidae ini sering dipelihara dan merupakan salah satu jagoan burung lomba.
Burung Perkutut masih memiliki hubungan kerabat dekat dengan Puter, Tekukur, dan Merpati. Hibrida (persilangan) burung Tekukur dan Perkutut dikenal dalam dunia burung hias sebagai “sinom” (bahasa Jawa) dan memiliki pola suara yang memiliki ciri khas.
Habitat
Burung perkutut di jumpai di dataran rendah hingga ketinggian 900 m, menyukai di tepian hutan, ladang, sawah. Tersebar di pulau Sumatera dan pulau Jawa dan Bali.
Burung ini hidup secara berkelompok di daratan rendah atau tinggi dengan daerah rerumputan yang luas seperti sawah atau ladang dengan ketinggian sekitar 900 m dpl.
Ciri-ciri
Burung Perkutut Memiliki ukuran tubuh yang termasuk kecil dengan panjang tubuh sekitar 22 cm.Memiliki bentuk kepala yang kecil dan bulat yang berwarna abu-abu. Memiliki Paruh yang runcing dan panjang yang berwarna biru keabu-abuan. Memiliki bentuk mata yang bulat dengan iris berwarna abu-abu kebiru-biruan. Memiliki leher yang agak panjang dan ditumbuhi bulu yang halus. Bulu disekitar dada dan leher membentuk pola garis melintang berwarna hitam dan putih. Badan tertutupi bulu yang berwarna kecokelatan. Terdapat garis melintang pada bulu sayap yang berwarna cokelat tua. Memiliki bulu ekor yang agak panjang dengan warna cokelat. Setiap kaki burung perkutut terdiri dari 4 jari dimana 1 jari ada di belakang sedangkan 3 jari lainnya ada di depan. Jadi jumlah keseluruhan jari dari burung ini adalah 8 jari.
Sifat
Burung ini termasuk jinak sehingga manusia bisa mendekatinya dengan mudah. Namun jika burung merasa terancam maka burung ini akan terbang ke pohon yang tidak jauh dari tempat asalnya.
Burung perkutut memiliki banyak kerabat dekat seperti punai dan peragam yang bisa ditemukan di seluruh dunia. Namun untuk burung jenis perkutut penyebarannya hanya sebatas Australia hingga Semenanjung Malaya.
Karena jenis perkutut di Indonesia sangat banyak maka para para ahli burung hanya membedakan jenis perkutut menurut daerah asalanya seperti Perkutut Jawa, Perkutut Sumatera, Perkutut Nusa Tenggara, dan Perkutut Bali.
Untuk burung perkutut yang ada di pulau Jawa masih bisa dibedakan lagi menurut daerah asalnya misalnya Perkutut Mataram, Perkutut Tuban, Perkutut Madura, Perkutut Pajajaran, dan Perkutut Majapahit. Burung perkutut yang berasal dari jawa dikenal sebagai jenis burung yang memiliki suara kicau yang berkualitas.
Burung perkutut terbagi menjadi tujuh sub-jenis yang dibedakan melalui daerah asal dan memiliki ukuran tubuh yang hampir sama, namun memiliki variasi warna bulu yang tidak sama. Namun untuk orang awam biasanya hanya membedakan 2 jenis saja yaitu burung Perkutut Lokal dan perkutut Bangkok.
Sembilan sub-jenis dari burung perkutut adalah :
1. Geopelia Striata yaitu Perkutut belang asli yang terdiri dari burung perkutut lokal dan burung perkutut bangkok yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Sub-jenis burung perkutut ini berasal dari Jawa, Lombok, Bali dan Sumatera.
2. Geopelia Striata Maungeus, yaitu Perkutut belang atau biasa disebut dengan nama Perkutut Sumba. Sub-jenis burung perkutut ini berasal dari Sumba, Pulau Timor dan Sumbawa.
3. Geopelia Striata Audacis, yaitu Perkutut belang yang berasal dari Tanimbar dan Kepulauan Kei.
4. Geopelia Striata Papua, yaitu Perkutut belang yang berasal dari Papua Nugini dan Papua.
5. Geopelia Striata Placida, yaitu Perkutut belang yang berasal dari Australia Utara dan papua.
6. Geopelia Striata Tranquila, yaitu Perkutut belang yang berasal dari Australia Tengah.
7. Geopelia Striata Clelaudi, yaitu Perkutut belang yang berasal dari Australia Barat.
8. Perkutut Hawaii
Di Hawaii ternyata banyak terdapat burung perkutut yang hidup bebas berkeliaran di hutan dan bahkan di kota-kota dekat dengan penduduk, seperti burung gereja saja yang ada di kota-kota di Indonesia. Perkutut Hawaii ini disebut sebagai Zebra Dove dan aslinya berasal dari tanah Jawa juga yang dibawa oleh orang-orang Jawa yang pergi ke Hawaii.
9. Perkutut Bangkok
Dikenal di masyarakat kita kalau perkutut Bangkok bersuara besar dan ngebass. Sementara perkutut yang biasa ditangkap dari hutan disebut perkutut lokal bersuara kecil. Hal ini hanya salah kaprah saja, salah tetapi dianggap benar, karena perkutut Bangkok pun asalnya juga dari tanah Jawa yang sudah dikembangbiakkan dan diambil keturunannya yang bersuara besar dan banyak yang di ekspor ke Indonesia lagi. Dan saat ini hampir seluruh penghuni kandang ternak di Indonesia adalah keturunan dari perkutut yang didatangkan dari Bangkok. Trend terakhir 2008-2009 kembali perkutut dari Bangkok dan Thailand Selatan yang bersuara besar dan berujung panjang banyak didatangkan ke Indonesia sebagai indukan. Kerabat Dekat PerkututKerabat terdekat perkutut ada dua jenis yaitu bangsa Geopelia Humeralis atau perkutut raksasa karena memang ukuran badannya sangat besar hampir dua kali lipat dibanding ukuran badan perkutut biasa. Berasal dari Australia bagian Utara. Dikenal juga sebagai Barred Ground Dove dikalangan internasional.Kerabat berikutnya banyak dipelihara di Indonesia yaitu Geopelia Cuneata atau lebih dikenal dengan nama Diamond Dove. Ukuran tubuhnya hanya setengah dari ukuran tubuh perkutut biasa. Dan di Indonesia banyak dipakai sebagai induk asuh untuk meloloh piyik perkutut untuk mempercepat proses produksi piyik perkutut.
Semua jenis perkutut di atas umumnya disebut sebagai perkutut lokal, sedangkan yang dimaksud perkutut Bangkok (Thailand) adalah perkutut belang (G.S. Striata) yang juga berasal dari Indonesia tepatnya di Pulau Jawa. Dan sudah mulai diternakkan di Thailand sejak 50 tahun yang lalu. Secara fisik perkutut lokal dan bangkok hampir sama. Secara fisik hanya dapat dibedakan oleh orang yang sudah biasa melihatnya, yaitu dengan melihat matanya di mana mata perkutut lokal mempunyai lingkaran mata warna putih lebih besar daripada mata perkutut bangkok.
Cara yang paling mudah adalah dengan mendengarkan suaranya. Perkutut lokal mempunyai suara yang ringan dan datar serta tempo iramanya cepat, sedangkan suara perkutut bangkok lebih besar (nge-bass).
Perkutut lokal terutama yang merupakan tangkapan dari alam, makin hari makin berkurang peminatnya selain oleh karena mutu suaranya yang kurang baik juga disebabkan bakalan (anak/remaja) perkutut lokal untuk menjadi rajin manggung memerlukan waktu antara 2 hingga 4 tahun, sedangkan perkutut bangkok usia 7 bulan sudah bocor jika perawatan, makanan dan keturunannya cukup baik.
Makanan
Burung perkutut sangat membutuhkan makanan yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi, vitamin dan mineral untuk proses pertumbuhan, reproduksi dan menjaga kualitas suara kicauannya. Makanan alami burung perkutut adalah biji-bijian yang seperti jewawut, millet, gabah kecil dan lain-lain.
Burung perkutut sebaiknya mendapatkan pakan yang mengandung mineral tinggi karena biasanya burung ini dipelihara dalam sangkar yang kecil sehingga tidak akan mendapatkan tambahan mineral dari tanah.
Burung perkutut yang kekurangan mineral pertumbuhan tubuhnya tidak akan berjalan dengan lancar dan akan mengalami kesulitan dalam hal reproduksi.
Di alam bebas burung perkutut biasanya memakan kerikil atau batu kecil untuk membantu menjaga kesehatan saluran pencernaannya. Anda bisa mengakali hal ini dengan cara menaruh potongan-potongan batu bata seukuran genggaman tangan di dasar sangkarnya.
Sebelum anda menaruh potongan batu bata tersebut sebaiknya batu bata dicuci dengan air bersih terlebih dahulu lalu direbus dan disangrai untuk menghindari adanya kemungkinan bakteri yang masih menempel pada batu bata.
Burung perkutut memiliki nama latin Geopelia Striata yang secara harfiah berarti merpati lurik. Di dunia internasional lebih dikenal dengan nama Zebra Dove atau Barred Ground Dove karena warna bulunya bergaris-garis mirip kuda zebra. Sementara di Malaysia dan Singapore dikenal dengan nama burung Ketitir atau Merbok. Dan di Thailand dikenal dengan nama burung Jawa atau Nokkhao Chewa, karena memang berasal dari tanah Jawa. Dan burung perkutut ini termasuk dalam kelas burung bangsa Columbidae atau bangsa merpati-merpatian dimana di kelas ini termasuk didalamnya adalah burung merpati, puter, derkuku/tekukur dan sebangsanya.
Seperti yang kita ketahui bahwa ciri - ciri dari jenis burung merpati-merpatian adalah sbb:
- Hidup berpasangan dan bertelur dua.
- Mempunyai tembolok (pemakan biji-bijian).
- Mempunyai alat yang dapat menutup hidung, sehingga tidak perlu mengangkat kepalanya pada saat    minum.
- Burung jantan bertubuh dan bersuara lebih besar serta menyanyi / berbunyi (bukan berkicau) untuk memikat betina.
    Suara nyanyian yang dihasilkan berasal dari selaput suara (syrinx) yang terletak pada bagian belakang tenggorokan yang berhubungan dengan paru-paru, yang tampak mengembung pada saat berbunyi.

 perkutut tangguh trah pajajaran warna bulu semu kuning, langka

Keunikan burung perkutut  adalah
1. Kotoran perkutut tidak bau, dan cepat kering
2. Ketika makan perkutut tidak rakus, sebagai gambaran makanan yang diisi dalam tempat pakan, tidak akan habis dalam waktu seminggu bahkan lebih
3. Bangkai perkutut tidak bau
4. Walaupun kepala perkutut luka parah sampai terlihat tulangnya perkutut tidak mati (patak warak)
5. Dalam satu ombyokan atau dalam jumlah banyak dalam satu kandang jarang ada yg bertengkar...esensi nya perkutut memiliki jiwa sosial yang tinggi
6. Mempunyai umur yang panjang, secara umum banyak sekali ditemukan umurnya sampai 40 tahun, bahkan ada juga sampai 100 tahun

Legenda Perkutut dan Para Raja



Berdasarkan fakta sulit dipungkiri bahwa perkutut telah  dijadikan klangenan raja raja terdahulu, bahkan pahlawan nasional Pangeran Diponegoro sangat menggemari burung ini. Banyak filosofi yang bisa kita pelajari dari perkutut, salah satunya ialah perkutut dalam satu ombyokan (sangkar yang berisi banyak perkutut) jarang sekali ada pertengkaran, artinya sebagai manusia kita juga harus saling menghargai terhadap sesama umat manusia, filosofi yang lainnya adalah perkutut makannya tidak rakus, sebagai gambaran dalam satu pakan, makanannya tidak akan habis dalam satu minggu, bahkan bisa lebih, perkutut dikenal hewan yang sangat tahan menahan haus, dan lapar, artinya manusia-pun harus bisa menjaga makannya tidak rakus, jangan karena punya uang banyak segala makanan dibeli, dan dimakan, yang berujung kepada banyaknya penyakit, sebagaian besar penyakit karena kesalahan manusia sendiri karena pola makan yang salah.

Ada cerita yang melegenda dalam masyarakat Jawa perihal burung perkutut. Burung ini menurut ceritanya, merupakan jelmaan seorang pangeran yang pada zaman Kerajaan Majapahit dikenal dengan legenda Joko Mangu. Bermula dari hal itu maka kemudian berkembang dalam tradisi masyarakat Jawa bahwa Burung Perkutut menjadi sakral keberadaannya. Bagi Priyayi Jawa, burung menjadi salah satu dari sapta brata yang harus dimiliki. Oleh karenanya masyarakat Jawa khususnya para laki-laki banyak yang memelihara burung atau kukilo khususnya burung perkutut.
Banyak pertimbangan mengapa masyarakat Jawa khususnya kaum lelakinya memelihara burung perkutut. Diantara berbagai pertimbangan tersebut yakni sekedar prestise hingga nguri-nguri ajaran adiluhung nenek moyang. Leluhur orang Jawa dulu sering memberi wejangan bahwa manuk (burung) terdiri dari unsur kata ma (manjing) dan nya (nyawa) yang artinya urip atau hidup. Wejangan itu kemudian diterjemahkan dengan “aja mung ngoceh, nanging manggungo utawa yen ngomong kudu sing mentes” artinya kalau berbicara harus yang berisi.
Selama ini terdapat dua macam kategori orang yang gemar akan burung perkutut, yakni karena anggung (suara) dan karena cirimati (ciri baku) atau katuranggan. Orang yang menyukai burung perkutut karena anggung atau suaranya kebanyakan akan diikutsertakan dalam lomba atau sekedar hanya untuk klangenan. Sementara yang suka burung perkutut karena cirimati atau katuranggan biasanya memiliki kepercayaan bahwa dengan memelihara burung perkutut akan bisa mendatangkan rezeki atau keberuntungan.
Konon kepercayaan masyarakat Jawa akan katuranggan, angsar atau tangguh burung perkutut dipengaruhi oleh legenda Joko Mangu. Diceritakan dalam legenda tersebut bahwa saat zaman Kerajaan Majapahit dulu ada burung perkutut yang merupakan jelmaan Pangeran dari Pajajaran yang bernama Joko Mangu. Burung tersebut lepas dari Pajajaran dan terbang ke arah timur hingga ke Majapahit. Selanjutnya Burung Perkutut dengan nama Joko Mangu itu lepas lagi dari Majapahit dan terbang ke arah pesisir. Artinya pulung atau keberuntungan Majapahit lepas dan akhirnya menuju ke arah pesisir hingga munculah Kerajaan Demak. Dari pesisir akhirnya Joko Mangu terbang lagi dan menuju ke selatan dan ditemukan oleh Ki Ageng Paker dari Ngayogyakarta.
Dalam memelihara burung perkutut yang perlu dipersiapkan adalah diri pribadi orang itu sendiri. Artinya, kepercayaan akan katuranggan, pulung atau angsar dan tangguh harus tetap ditempatkan pada posisi yang semestinya. Kepercayaan akan Tuhan menjadi mutlak, melebihi kepercayaan pada siapa dan apapun. Mengenai pulung atau wahyu, akan datang dengan sendirinya, jika seseorang itu telah benar-benar tertata. Dalam dunia pewayangan selalu pulung sing nggoleki uwong, dudu uwong sing nggoleki pulung atau isi sing nggolek wadhah, dudu wadhah sing nggoleki isi.
Perkutut Tangguh
1. Pajajaran meliputi Jawa Barat warna ungu dari bulu badan, kaki, sampai genta dan kelopak mata
2. Majapahit terutama Malang dan Jember warna dari bulu badan hijau bambu, sampai kaki, genta dan kelopak mata
3' Demak Jawa Tengah bagian Utara warna kaki kemerah merahan samapi genta dan kelopak mata
4. Pajang Jawa Tengah antara g Lawu sampai g Merapi warna kaki blawuk sampai genta dan kelopak mata
5. Mataram Jawa Tengah pesisir Selatan KLaten sampai Cilacap warna kakinya keputih putihansanpai ke genta, kelopak mata dan paruhnya yang pendek
6. Sedayu Jawa Timur bagian utara Tuban Bojonegoro warna kakinya putih agak kelabu sampai genta dan kelopak mata
7. Bali meliputi wilayah Bali warna biru dari bulu badan sampai genta dan kelopak mata

video perkutut putih dengan suara triple (ketk 3 kali)

Senin, 09 November 2015

Sadikin, Proklamator Tentara Nasional Indonesia


Sadikin, Proklamator Tentara Nasional Indonesia
Oleh: HENDRI F. ISNAENI

SEJARAH resmi mencatat bahwa Tentara Nasional Indonesia terbentuk pada 5 Oktober 1945 –diperingati sebagai hari ulangtahun TNI. Namun, ternyata proklamasi tentara Indonesia telah dilakukan sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Sehari sebelumnya, 16 Agustus 1945, Sadikin, seorang bintara Heiho (pembantu prajurit Jepang) bagian artileri udara, mendapat kabar bahwa Jepang telah melakukan kapitulasi atau penyerahan terhadap Sekutu. Dia bersama teman-temannya meminta tentara Jepang untuk tetap di kantor. Dia mengambil-alih pimpinan upacara pengibaran bendera merah putih.

“Pada upacara apel Sadikin berpidato bahwa Indonesia sudah merdeka dan Peta/Heiho jadi Tentara Nasional,” kata Jenderal Besar Abdul Haris Nasution dalam Bisikan Nurani Seorang Jenderal.

Di buku lain, Jenderal Tanpa Pasukan, Politisi Tanpa Partai, Nasution bahkan menyatakan “Sadikin memproklamirkan Indonesia jauh lebih pagi daripada Bung Karno yang saat itu masih ragu-ragu.”

Sadikin lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 11 April 1916. Dia menjadi sersan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) dari 1939 sampai Jepang menduduki Indonesia. Dia kemudian bergabung dengan bagian artileri udara Heiho serta bertugas di Jakarta, Surabaya, dan Semarang.

Menurut Purbo S. Suwondo dalam PETA: Tentara Sukarela Pembela Tanah Air, dalam pidato proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sukarno menghindari pembentukan tentara nasional. Salah satu alasannya karena Jepang dan Inggris (Sekutu) masih memiliki persenjataan lengkap.

Baru pada 23 Agustus 1945, Sukarno mengumumkan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dia mengundang bekas anggota Peta, Heiho, dan para pemuda untuk memasuki BKR sambil menunggu terbentuknya tentara nasional, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pada 5 Oktober 1945. TKR berubah menjadi Tentara Republik Indonesia pada Januari 1946 dan Tentara Nasional Indonesia pada 3 Juni 1947.

Proklamasi tentara oleh Sadikin dijejaki oleh Inspektur I Moehammad Jasin, komandan Polisi Istimewa, yang memproklamasikan Polisi Republik Indonesia di halaman markas Polisi Istimewa, Jalan Coen Boelevard, Surabaya –kini Jalan Polisi Istimewa– pada 21 Agustus 1945.

Karier Sadikin terbilang cemerlang. Di masa revolusi, dia berturut-turut menjadi komandan Resimen 6 Cikampek, Brigade 4 Divisi Siliwangi di Tasikmalaya, Brigade 2 Divisi Siliwangi yang hijrah dan berkedudukan di Surakarta, dan kemudian komandan daerah militer Madiun setelah memadamkan peristiwa PKI Madiun. Puncaknya, dia menjabat panglima Divisi Siliwangi (1949-1951) dan panglima Tanjungpura (1951-1956). Setelah itu, dia menjadi inspektur jenderal teritorial dan perlawanan rakyat di markas besar AD.

Di masa pensiun, Sadikin menjadi presiden direktur PT Bank Internasional Indonesia di Jakarta dan ketua BPC (Badan Pembina Citra) Siliwangi, Jakarta. Dia tutup usia di Jakarta pada 1 Maret 1986.

diambil dari
http://www.mosco.or.id/sadikin-proklamator-tentara-nasional-indonesia/

Sumber: Historia

Senin, 09 Maret 2015

Tugu Presiden Soekarno, 1951, Sumber Jaya, Lampung Barat

http://www.mahamerulambar.com/2010/12/tugu-ir-soekarno-sumber-jaya-lampung.html
Hari itu tanggal 14 Nopember 1952,Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno,melakukan peletakan batu pertama pendirian Tugu Peringatan yang sekarang terletak di Kelurahan Tugu Sari depan Koramil Kecamatan Sumberjaya, Tugu tersebut sebagai tanda diresmikannya keseluruhan wilayah Way Tenong dan Way Tebu menjadi wilayah yang Bernama SUMBERJAYA.Oleh Presiden Soekarno dinamakan Sumberjaya karena beliau menginginkan wilayah itu sebagai sumber kejayaan. 


Wilayah kecamatan Sumberjaya sebelumnya merupakan hutan belantara yang termasuk bagian dari wilayah Kerajaan/Marga Kenali (sekarang masuk wilayah kecamatan Belalau) kemudian datanglah penduduk baru yang berasal dari Marga Balik Bukit dan Sumatera Selatan,tetapi sekarang belum diketahui secara pasti kapan penduduk tersebut datang dan membuka wilayah hutan belantara tersebut.Penduduk dari Marga Balik Bukit membuka wilayah hutan Way Tebu yang sekarang menjadi Pekon Muarajaya I & Muarajaya II.Setelah wilayah-wilayah ini berkembang dengan pesat maka Pasirah Kenali dengan Upacara Adat meresmikan wilayah tersebut menjadi marga yang berdiri sendiri,yang berada di wilayah Way Tenong diberi nama Marga Way Tenong dan yang berada di Way Tebu diberi nama Way Tebu
Perkembangan berikutnya,Biro Rekontruksi Nasional BRN mengadakn penelitian di daerah tersebut apakah ada kemungkinan utk menempatkan penduduk baru yang berasal dari Jawa.Atas dasar tersebut pada tahun 1950/1951 dengan ijin Residen Lampung waktu itu Mr.Gele Harun didatangkanlah penduduk baru dari Jawa Barat ( Tasik Malaya,Garut,Ciamis,Kerawang dan sekitarnya).Rombongan transmigrasi dibagi dua : 1 Partisan Siliwangi dibawah pimpinan Raden Ama Puradireja,dengan membuka hutan di wilayah Way Tenong dan Way Tebu yang sekarang menjadi Pekon Sukajaya,Purajaya,Purawiwitan,Simpangsari dan Puralaksana.Rombongan ini berasal dari kabupaten Tasik Malaya dibawah pimpinan Bandaniji Suja'i Kanta Atmaja dan Tanu Wijaya dan membuka hutan yang sekarang menjadi pekon Tribudisyukur dan Sukapura

 Untuk menghindari persengketaan wilayah Way Tebu dan wilayah Way tenong yang semula merupakan wilayah kekuasaan Bukit Kemuning maka diresmikanlah keseluruhan wilayah Way Tebu dan wilayah Way tenong tersebut menjadi wilayah yang berdiri sendiri di beri nama Sumberjaya oleh Presiden RI Ir Soekarno pada tanggal 14 Nopember 1952 ( Sumber Info : Arsip kecamatan Sumber Jaya Lampung Barat, Foto-foto #DutaSuhanda, @MahameruFMLiwa)

https://purawiwitan.wordpress.com/2012/07/15/legenda-dan-sejarah-pekon-2/
Legenda dan Sejarah Pekon Purawiwitan

Pekon purawiwitan mulai berdiri secara administratif pada tanggal 23 september 1953 yang semula sebagai pemukiman baru yang berasal dari kabupaten karawang Jawa Barat yakni berupa transmigrasi Biro Rekonstruksi Nasional (BRN). Adapun Transmigrasi tersebut datang di daerah pemukiman baru ini yaitu pada tahun 1952, yang terdiri dari satu rombongan yang dipimpin oleh Ama Raden Puradireja Guru Organisasi PS/Partisan Siliwangi dari Sagala Herang Subang Jawa Barat yang terdiri dari 715 KK..

Dimana diantara jumlah tersebut diatas 340 KK adalah yang menjadi penghuni Pekon Pura Jaya sekarang ini, sedangkan 375 KK adalah yang menjadi penghuni Pekon Purawiwitan yang waktu itu terdiri dari 1500 jiwa. Saat berdirinya Pekon Purawiwitan pada tahun 1953 yang mempunyai Pemerintahan Pekon tersendiri pada waktu itu yang menjadi Kepala Desa adalah Sdr. AHIM. Nama Purawiwitan diberikan oleh Raden Ama Puradireja yang berasal dari kata PURA artinya Gerbang , WIWITAN artinya Memulai /Pertama. Saat awal berdiri Purawiwitan memiliki 3 Kapunduhan yang saat ini artinya Kepemangkuan dan beberapa orang RT yaitu Kapunduhan Tanjung Reja, Cipta Daya dan Cipta Negara .

 

Rabu, 25 Februari 2015

Manakib Ama Muhammad Satrip, Cipeucang, Banten

The Great of Grand Master, gelar itulah yang paling cocok diberikan kepada Ama Muhammad Satrip, Cipeucang, Banten. Karena dari tangan beliau telah banyak lahir bukan hanya pelatih, tetapi para ketua pelatih, PS menyebar dari bumi banten, jakarta, bekasi, bogor, sukabumi, cianjur, bandung, lampung, dan beberapa daerah lainnya. Anggota-nya pun mencapai ribuan, sebut saja di daerah bogor saja, anggota PS dari cilendek sampai parung, gunung batu, ciampea, leuwi liang, jumlahnya mencapai ribuan pada tahun 1960-an.
 Ama Satrip, begitulah nama panggilannya yang terkenal, beliau dilahirkan dari ibu Hj Rasmi dan ayahnya Haji Saram, mengenal PS sekitar tahun 1930-an dari pendiri PS 1922, tidak lama setelah mempelajari ajaran PS, beliau sudah dipercaya menjadi seorang pelatih, tidak lama berselang beliau-pun dipercaya menjadi ketua pelatih, murid muridnya bukan hanya sekitar cipeucang, banten, tetapi mencapai ujung kulon, dan daerah banten lainnya. Ada kemungkinan Ama Satrip berkenalan dengan pendiri PS, saat beliau berttugas sebagai guru sekolah di ujung kulon, seperti diketahui pendiri PS pernah melakukan perjalanan dan tinggal lama di ujung kulon, sampai saat ini-pun peninggalan perjalanan pendiri PS masih ada. Salah satu kenangan yang tersimpan di dalam hati ibu Satrip (almahurmah) adalah ketika  pemerintahan jepang (tahun 1942-1945), ibu Satrip, Ama Satrip, Pendiri PS dan beberapa rombongan lainnya melakukan perjalanan ke ujung kulon, diantaranya ada seorang jepang  yang telah mengikuti ajaran PS bernama Kurokawa. Tidak diketahui dari kapan warga negara jepang ini mengikuti Pendiri PS, tapi yang pasti Kurokawa ini seorang yang patuh kepada Pendiri PS. Perjalanan bukan hanya via darat tetapi melalui laut yang ombaknya terkenal, begitu yang diucapkan Ibu Satrip (almarhumah).
 Perjalanan berikutnya yang diikuti oleh Ibu Satrip ke ujung kulon, ketika tahun 1960-an, saat itu Ama Satrip, Pendiri PS,  Brigjen R Darsono, dan rombongan lainnya, naik kapal motor dari Labuan, setelah sampai di ujung kulon, Pendiri PS diberikan tunggangan kuda oleh warga PS, tetapi beliau menolak, dan mempersilahkan Brigjen Darsono, untuk menaiki kuda itu, akhirnya Pendiri PS berjalan kaki mendampingi Brigjen Darsono ke lokasi tinggal warga PS di sekitar Taman Jaya, Ujung Kulon.
 Ama Satrip, mengawali kariernya sebagai seorang guru sekolah, berbagai tempat telah dilakoninya saat sebelum kemerdekaan, diantaranya ujung kulon, dan daerah banten lainnya. Beliau juga  pernah tinggal di Paseban, Jakarta Pusat, pernah juga aktif di  PNI bersama Ir Soekarno, saat merintis kemerdekaan. Setelah merdeka, beliau kembali ke banten, menjalankan profesinya sebagai guru. Jabatan terakhir yang disandangnya adalah “Penilik Sekolah”, suatu jabatan yang sangat tinggi, apalagi pada saat itu, beliau wafat sekitar tahun 1966 di Cipeucang, Banten, dan sampai saat ini pun nama beliau sangat dikenal oleh masyarakat sebagai “Bapak Penilik”, Ama Satrip dimakamkan di  atas bukit di desa Kadu Ketug, Cipeucang, Banten. Adapun jarak makam dengan rumah Ama Satrip sekitar 3 KM, dengan kondisi menanjak, saat itu kondisi jalan tidak terlalu bagus,  masih beralas tanah, bisa dibayangkan bagaimana beratnya medan ke lokasi pemakaman, tetapi Tuhan YME berkehendak lain, pada saat Ama Satrip wafat, banyak sekali yang datang, saksi mata menyebutkan seperti lautan manusia yang tidak terhingga, untuk menghantarkan ke pemakaman, sampai akhirnya keranda Ama Satrip tidak digotong ke atas bukit, tetapi hanya digeser secara estafet dari tangan ke tangan, hingga keranda itu sampai di lokasi pemakaman kadu ketug yang jaraknya kurang lebih 3 KM dari rumah, SUBHANNALAH......
 Adalah adik Ama Satrip yang juga berperan dalam menyebarkan PS di tanah banten, yaitu Ama Haji  Muhammad Sapik, beliau dikenal juga sebagai jaro, lurah. Karena profesi beliau sebagai lurah saat itu, tidak diketahui banyak cerita tentang Ama Muhammad Sapik, karena beliau wafat lebih dahulu, Ama Haji Muhammmad Sapik, dimakamkan bersebelahan dengan Ama Muhammad Satrip, di Kadu Ketug, Cipeucang, Banten.
 Pengalaman Bapak H Abbas Heriz (alm), ketika beliau masih muda sekitar tahun 1960-an, saat itu terjadi banyak pemberontakan seperti DI/TII, PRRI, PERMESTA, dll. Aparat pemerintah melakukan penjagaan ketat di setiap di tempat tempat fasilitas umum, seperti terminal, pelabuhan, dan lain lain, dengan memeriksa/merazia berbagai senjata tajam/api. Bapak Abbas Heriz yang saat itu menginap di rumah Ama Satrip, di Cipeucang, Banten, hendak melakukan perjalanan ke Lampung menemui Pendiri PS, bersama Ama Satrip, Ama Hasan. Bapak Abbas Heriz yang waktu itu masih muda diserahi tugas membawa tas/ransel yang berisi keris, golok, tombak, dan berbagai benda pusaka lainnya. Ketika sampai di pelabuhan merak beliau sempat ragu karena adanya penjagaan ketat dari aparat, semua tas yang melewati diperiksa yang kedapatan membawa senjata tajam, api dikenakan langsung ditangkap. Ketika itu Pa Abbas yang berdiri di belakang Ama Satrip, sementara Ama Hasan Basri di belakang Pa Abbas (Pa Abbas diapit oleh Ama Satrip dan Ama Hasan), sempat diam (ngarandeg, bahasa sunda), karena ragu, akhirnya di belakang Ama Hasan Basri menepuk pundak Pa Abbas Heriz, dengan berkata “lajengken juragan” (teruskan juragan), kejadian aneh-pun muncul saat itu tas yang berisi keris, golok, tombak, yang terlihat menonjol keluar sama sekali tidak diperiksa, kaget bercampur haru Pa Abbas saat itu, akhirnya tas/ransel yang berisi golok, tombak, keris sama sekali tidak diperiksa aparat, hal yang samapun terjadi ketika tiba di pelabuhan lampung. Salah satu ucapan yang terkenal dari Ama Satrip adalah "Hirup Katungkul Ku Upah, Paeh Teu Nyaho Diwayah", artinya manusia dalam setiap langkahnya selalu mengharapkan imbalan/upah, untuk pekerjaan yang berbau ekonomi/usaha memang wajar, seperti dagang, bekerja, dll, tetapi untuk ibadah harus dilakukan secara iklas, sodaqoh jika dilakukan mengharap upah/imbalan pujian tidak baik, solat berharap mendapat upah agar disebut soleh tidak baik, dst, padahal manusia setiap saat diintai oleh maut, artinya kematian akan datang kapan saja tanpa mengenal waktu. Bayangkan jika pada saat ajal menjelang, amal yang dilakukan penuh harapan ingin diberi upah pujian apa jadinya ?
Ama Muhammad Satrip, Tjipeucang, Banten, 1962

Salah satu cucunya adalah Laksmana TNI Ir. Eden Gunawan, yang menjabat kepala BIN di Maluku, Laskmana TNI Ir Eden Gunawan adalah anak dari Drs Husein Sastra (alm dosen IKIP Bandung, Unpak Bogor) , salah satu tokoh yang ikut mendirikan organisasi PS di Bandung, berdasarkan akta notaris Koswara.

Silsilah Raja Raja Tatar Sunda

Silsilah Leluhur Prabu Siliwangi

Silsilah Raja Raja Pajajaran

Silsilah Raja Sumedang Larang

Silsilah Pangeran Santri

Hubungan Pangeran Santri & Ratu Pucuk Umum

Silsilah Raja Raja Talaga

Silsilah Raja Raja Banten

Selasa, 17 Februari 2015

Siapakah Prabu Mundisari, Rd Ranggamantri, Parunggangsa, Pucuk Umum ?


Sebelum membahas topik di atas, ada sumber sejarah tanah pasundan yaitu naskah Bujangga Manik yang tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris. Bujangga Manik adalah seorang rohaniawan yang melakukan perjalanan rohani/spiritual/ziarah ke tempat tempat sakral/keramat /kabuyutan di tanah jawa dan bali, beliau hidup di penghujung masa kerajaan Pajajaran, dan Majapahit, artinya pada saat itu kedua kerajaan ini masih berdiri, hal itu dibuktikan dengan tempat tempat yang dikunjungi menunjukkan eksistensi kedua kerajaan itu. Kerajaan Majapahit runtuh tahun 1400 Saka atau tahun 1478 Masehi, sedangkan Pajajaran runtuh tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka atau tanggal 8 Mei 1579 M. Artinya Bujangga Manik melakukan perjalanan sebelum tahun 1478 M, tidak diketahui pasti tahun berapa perjalanan itu dilakukan, perkiraan 5 atau 10 tahun sebelum majapahit runtuh sekitar 1470-an.

Naskah Bujangga Manik berbentuk puisi-prosa yang terdiri atas 1641 baris, diperkirakan ditulis pada abad ke-15. Naskah Bujangga Manik ditemukan oleh Andrew James, seorang pedagang asal Newport. Naskah ini lalu diserahkan kepada Perpustakaan Bodleian, Oxford pada 1627 oleh saudagar tersebut. Baru tahun 1968 (341 tahun semenjak diterima oleh perpustakaan di Oxford), naskah ini diteliti oleh seorang peminat naskah kuno dari Belanda, yakni Jacobus Noorduyn. Noorduyn-lah yang kemudian selama berpuluh-puluh tahun meneliti naskah ini, yang kemudian dibuatlah artikel berjudul Bujangga Manik Journeys through Java: Topographical Data from an Old Sundanese Source? Akan tetapi, Noorduyn wafat sebelum sempat mengumumkan penelitiannya yang menyeluruh atas naskah Bujangga Manik ini. pekerjaannya yang terputus ini lalu diteruskan oleh seorang sahabatnya yang juga peminat budaya dan sastra Indonesia yang juga berkebangsaan Belanda, bernama A. Teeuw. Teeuw melengkapi kajian-kajian Noorduyn atas naskah Bujangga Manik (termasuk dua naskah lainnya: Putra-purta Rama dan Rawana dan Perjalanan Sri Ajnyana). Dari sini lahirlah buku berjudul Three Old Sundanese Poem (2006) yang diterjemahkan oleh Hawe Setiawan dengan judul Tiga Pesona Sunda Kuna (2008). Noorduyn dan A. Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung mungkin juga disusun pada masa Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran masih eksis dan ketika Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511, di mana Malaka telah menguasai jalur perniagaan sejak 1440.

Naskah Bujangga Manik menceritakan seorang petapa, rohaniawan yang memilih hidup sebagai petualang untuk memuaskan batin spiritualnya, padahal ia merupakan seorang tohaan (pangeran) istana Pakuan. Tokoh utamanya bernama Bujangga Manik, dan di beberapa halaman berubah menjadi Ameng Layaran. Ada sekitar 450 nama tempat yang ia singgahi, termasuk di antaranya 90 nama gunung dan 50 nama sungai terbentang dari Sunda bagian barat (Pakuan) sampai Pulau Bali dimana sebagian nama-nama geografis tersebut masih dikenal hingga kini. Selain berfungsi sastrawi yang indah, Bujangga Manik bisa dikatakan sebagai ensiklopedi geografi Jawa?di mana tedapat ulasan berbagai segi kehidupan, baik dari budaya, agama, geografi, bahasa, arsitektur. Menurut A. Teeuw, kritikus sastra asal Belanda tersebut, naskah Bujangga Manik, sama seperti naskah-naskah Sunda kuno lainnya, bersifat otentik, tidak disalin, dan hanya satu-satunya di dunia (codex uniqus). Sayang, hingga kini naskah ini masih tersimpan di perpustakaan di Inggris.

Dalam naskah Bujangga Manik tertulis :

Sacu(n)duk aing ka Wakul,

sadatang ka Pacelengan,

ngalalar aing ka Bubat,

cu(n)duk aing ka Mangu(n)tur,

ka buruan Majapahit,

ngalalar ka Dar/ma Anyar, /15r/

na Karang Kajramanaan,

ti kidulna Karang Jaka.

(Setiba di Wakul,

sampai di Pacelengan,

aku berjalan melewati Bubat,

dan tiba di Maguntur,

alun-alun Majapahit,

pergi melewati Darma Anyar,

dan Karang Kajramanaan,

sebelah selatan Karang Jaka.)



Bait di atas menunjukkan beberapa nama tempat di Majapahit, diantaranya Maguntur, Bubat, dan alun alun Majapahit, artinya pada saat itu kerajaan Majapahit masih eksis keberadaannya. Kemudian mohon perhatikan bait lain dari Naskah Bujangga Manik :

Ku ngaing geus kaideran,

lurah-lirih Majapahit,

palataran alas Demak.

Sanepi ka Jati Sari,

datang aing ka Pamalang.

(Aku berkelana

melewati wilayah-wilayah berbeda di Majapahit,

dan daerah dataran Demak.

Setiba di Jati Sari,

aku datang ke Pamalang.)

bait di atas menunjukkan daerah Demak, sebelumnya Demak dikenal dengan nama desa Glagahwangi, setelah Raden Fatah membangun pesantren dan mesjid, menjadi daerah yang banyak dikunjungi dan berubah menjadi Demak, artinya Bujangga Manik pada saat berkunjung ke jawa tengah saat itu Majapahit masih berdiri dan kerajaan Demak sudah dikenal tetapi masih merupakan perdikan kerajaan Majapahit.

Kemudian mohon perhatikan bait dari naskah Bujangga Manik berikutnya :

Itu ta bukit Caremay,

tanggeran na Pada Beunghar,

ti kidul alas Kuningan,

ti barat na Walangg Suji,

inya na lurah Talaga.

(Itu Gunung Ceremay,

pertanda/pilarnya Pada Beunghar,

di selatan wilayah Kuningan,

ke baratnya Walang Suji,

di situlah wilayah Talaga.)

alas di atas bermakna wilayah, sedangkan lurah berarti lembah/jurang yang dangkal, artinya membandingkan 2 daerah antara alas dan lurah., berarti Walungsuji sebagai ibukota dari wilayahnya adalah Talaga. Ini adalah sebagai bukti keberadaan kerajaan Talaga di wilayah Majalengka.

Dalam sejarah sumedang ditulis bahwa raja sumedang larang, Prabu Tajimalela berputra Prabu Gajah Agung berputra Istri Rajamantri menikah dengan Prabu Siliwangi/Pamanah Rasa/Jayadewata, sedangkan anak Prabu Gajah Agung yang lain yaitu sunan guling dan keturunannya kelak melanjutkan kerajaan sumedang larang, yang menikah dengan pangeran santri.

Dari pernikahan Prabu Siliwangi dengan Istri Rajamantri melahirkan seorang putra bernama Prabu Munding Sari Ageung/Munding Surya/ Mundilaya. Prabu Munding Sari Ageung kelak menikah dengan Ratu Mayang Karuna anak dari Resi Garasiang yang seharusnya menjadi raja Talaga tetapi karena lebih tertarik dengan kerohanian/agama beliau memberikan tahta raja kepada adiknya yaitu Prabu Darma Suci 2.

Menurut sejarawan Tatang M. Amirin kelahiran Maja Kaler, Majalengka, sekarang dosen tetap di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prabu Munding Surya (Sari) Ageung, setelah menikah dengan Dewi Mayang Karuna, diberi kekuasan wilayah Kerajaan Maja, mencakup Garasiang (ini terletak di utara Talaga). Jadi, dapat dikatakan bahwa Prabu Munding Surya (Sari) Ageung dapat diduga merupakan raja pertama Kerajaan Maja (tahunnya belum bisa dipastikan). Ketika membicarakan daerah Maja (salah satu kecamatan di Kabupaten Majalengka sekarang) yang akan, atau pernah diketahui, dari lacakan Kerajaan Talaga, hanya ada dua. Pertama: dulu merupakan kadaleman di bawah Kerajaan Talaga yang dipimpin oleh Dalem Lumaju Agung dan para penerusnya. Kadaleman adalah bagian dari erajaan Talaga(sebenarnya sudah tidak ada) yang dipimpin oleh para putra Raja. Kedua, Maja merupakan cikal bakal Kabupaten Majalengka (5 Januari 1819 Kabupaten Maja berdiri) dan sekaligus otanyamenjadi ibu kota Kabupaten (suka salah dianggap ibu kotanya di Sindangkasihihat peta Kabupaten Maja). Tidak pernah ada yang mengiraetidaknya tidak pernah disebut dalam abad Talaga–bahwa Maja itu dahulunya merupakan sebuah Kerajaan (di bawah Galuh-Pajajaran) juga, seperti halnya Talaga. Hanya sedikit literatur yang menulis tentang Prabu Munding Sari Ageung, ada juga yang mengkaitkan dengan kisah Mundilaya Dikusumah.

Dari perkawinannya dengan Dewi Mayangkaruna itu itu Prabu Munding Surya (Sari) Ageung memperoleh putra, Raden Rangga Mantri kemudian diberi wilayah untuk dipimpin dengan gelar atau julukan Raden Parung Gangsa. Parung gangsa dapat diartikan sebagai lembah perunggu bahan pembuat gamelan. Daerah di sekitar Maja yang bernuansa arung gangsaitu diduga Anggrawati (anggara = Selasa, sesajinyaperunggu atau kuningan, wati atau vati = tempat). Raden Rangga Mantri kemudian menikah dengan Dewi Wulansari atau Dewi Sunyalarang yang kemudian menjadi raja dengan gelar atau Ratu Parung, Ratu Kerajaan Talaga yang meneruskan tahta ayahnya Sunan Parung. Oleh karena perkawinan tersebut, maka Kerajaan Maja digabungkan dengan Kerajaan Talaga.

Kontradiksi

Versi Cirebon,

Sekitar tahun 1525-1529 di Cirebon ada pesta besar, dalam pesta itu itu ada arak arakan/karnaval yang melibatkan pasukan Cirebon dan Demak, pawai, arak arakan itu tidak terasa sudah jauh melewati Cirebon dan mulai memasuki wilayah Talaga, di depan arak arakan itu terdiri dari pasukan Demak, sedangkan Cirebon di belakang, ketika memasuki wilayah Talaga, pasukan Demak itu ditanya oleh pasukan Talaga dalam bahasa sunda ada apa maksud kedatangannya ke Talaga dalam pasukan besar, karena tidak mengerti terjadilah salah paham sehingga terjadi peperangan besar, pasukan Cirebon/Demak yang dalam jumlah besar dan persenjataan lengkap berhasil mendesak pasukan Talaga, kemudia para prajurit Talaga itu melaporkan kejadian ini kepada senapati dan putra mahkota Aria Kikis (Wanaperi) yang merupakan putra Raden Ranggamantri/ParungGangsa/Pucuk Umum dengan Ratu Parung. Senapati Aria Kikis mengamuk dan banyak mengorbankan prajurit Cirebon, prajurit Talaga bangkit moral-nya, membantu Senapati Aria Kikis, berhasil mendesak mundur pasukan Cirebon keluar wilayah Talaga.

Pasukan Cirebon melaporkan kepada Sunan Gunungjati/Syekh Syarief Hidayatullah, beliau datang menemui Senapati Aria Kikis berikut pasukannya, seketika itu Aria Kikis takluk dengan pasukannya , serta menyatakan masuk Islam, sedangkan ayahnya Prabu Pucuk Umum menolak, melarikan diri ke gunung Ciremai.

Versi Talaga,

Peperangan itu terjadi akibat pasukan Demak dan Cirebon meminta pajak yang sangat besar kepada rakyat Talaga, merasa ditindas rakyat melapor kepada Senapati Aria Kikis, kemudian Senapati Aria Kikis melakukan penelusuran ke bawah apakah benar laporan ini, setelah fakta yang dikumpulkan lengkap Senapati Aria Kikis mengajukan protes kepada Cirebon, pihak cirebon tidak menerima, akhirnya terjadilah perang, Senapati Aria Kikis mengobarkan perang suci, Talaga yang jumlah pasukan dan perlatan perangnya lebih bisa mengusir keluar pasukan Cirebon keluar dari Talaga, tidak terhitung korban di pihak Cirebon, Sunan Gunung Jati mendengar konflik ini dan mendatangi Senapati Aria Kikis di Talaga. Senapati Aria Kikis meminta maaf kepada Kanjeng Sunan Gunung Jati atas kesalahan ini, dan Sunan gunung Jati-pun saat itu berfatwa bahwa peperangan ini sudah menjadi kehendak Allah, dan bukan perang agama, ini akibat salah paham saja. Konsekwensinya terjadi kesepakatan Perjanjian Keraton Ciburang, salah satunya adalah Senapati Aria Kikis harus mundur sebagai raja Talaga, dan harus mengasingkan diri (berkhalwat) ke hutan, kelak kemudian hari beliau dikenal dengan nama Adipati Wanaperih (Wana=hutan, perih=sakit, prihatin), artinya senapati yang melakoni hidup prihatin di hutan. Deklarasi Kesepakatan Keraton Ciburang ini, terjadi sekitar tahun 1550 M, artinya saat itu Raden Rangga Mantri/Pucuk Umum sudah tidak menjabat sebagai raja lagi (meninggal), mulai saat itu kerajaan Talaga di bawah pengawasan Cirebon.

Pembahasan

Dalam sejarah versi Cirebon ada beberapa hal yang tidak sesuai fakta, diantaranya pada tahun 1525-1530 M, raja Talaga yaitu Raden Ranggamantri/Pucuk Umum menolak masuk islam dan melarikan diri ke gunung Ciremai, padahal faktanya beliau beserta istrinya Ratu Parung/Sunyalarang sudah masuk Islam, hal ini dibuktikan dengan keberadaan makam beliau di dekat situ Sangiang kecamatan Talaga, Majalengka menjadi tempat penziarahan umat Islam, mustahil jika beliau belum menjadi seorang muslim. Bahkan gelar Pucuk Umum itu diberikan oleh sinuhun Kanjeng Sunan Gunung Jati, saat beliau masuk islam tahun 1525-1530 M, Pucuk Umum (Makmun menyebut tadinya Pucuk Umun–bahasa Sunda kuno, diganti jadi Pucuk Umum, karena umum artinya seluruh umat Islam. Ini salah etimologi, karena ummat (bahasa Arab, tunggal) jamaknya (plural) bukan umum tapi umam, artinya beliau menjadi pimpinan atau imam di Talaga. Masuk islamnya Raden Rangga Mantri, kemungkinan besar disebabkan karena mereka adalah sama sama cucu dari Prabu Siliwangi, Sunan Gunung Jati cucu Prabu Siliwangi dari dari Subang Larang, sedangkan Raden Rangga Mantri adalah cucu Prabu Siliwangi dari Prabu Munding Sari Ageung/Mundinglaya

         Pintu Gerbang Makam Sunan Parunggangsa/Ranggamantri/Pucuk Umum


                                     Pintu masuk ke makam Rd Parunggangsa/Rd Ranggamantri


Makam Sunan Parung Gangsa/Rangga Mantri/Pucuk Umum



Tentang Pucuk Umum

Banyak cerita menyebutkan bahwa Prabu Pucuk Umum adalah raja yang menolak masuk Islam, ada yang menyebut melarikan diri ke gunung ciremai, ada yang menyebut raja Talaga itu melarikan diri ke Banten, karena tidak mau masuk islam, dan ada yang menyebut juga menolak agama islam di Banten, serta melarikan diri ke Baduy.

Pucuk Umum merupakan gelar/pangkat yang diberikan kepada penguasa di tatar sunda, ada beberapa daerah yang mempunyai nama ini, diantaranya :

  1. Pucuk Umum di Talaga, adalah anak dari Prabu Mundingsari Ageung cucu Prabu Siliwangi/Jayadewata, dikenal juga dengan Raden Ranggamantri/Parunggangsa, mendapat gelar Pucuk Umum dari Susuhunan Jati (Syekh Syarief Hidayatullah), beliau menikah dengan Ratu Sunyalarang (Ratu Parung) yang merupakan pewaris tahta kerajaan Talaga. Adalah Ratu Simbarkencana, pewaris tahta Talaga yang menikah dengan Raden Kusumalaya anak dari Prabu Ningrat Kencana/Dewa Niskala dari Galuh, Raden Kusumalaya ini adalah adik dari Prabu Siliwangi/Jayadewata. Pernikahan Ratu Simbarkencana dan Raden Kusumalaya, mempunyai anak Sunan Corendra/Sunan Parung, Sunan Corendra mempunyai istri 2, 1. Mayangsari anak Prabu Langlangbuana, Kuningan, menurunkan Ratu Sunyalarang (Ratu Parung), Talaga, 2. Ratu Sintawati/Ratu Patuakan anak Sunan Patuakan, raja Sumedang Larang, mempunyai anak bernama Satyasih atau dikenal sebagai Ratu Inten Dewata, kelak menikah dengan Pangeran Santri. Pernikahan Sunan Corendra dengan Mayangsari mempunyai anak bernama Ratu Sunyalarang (Ratu Parung), yang nikah dengan Raden Ranggamantri, sedangkan Sunan Corendra setelah menikah dengan Ratu Sintawati, kelak tinggal di Sumedang Larang meneruskan tahta mertua-nya, wafat di Sumedang Larang. Kekuasaan di Talaga diberikan kepada anaknya Ratu Sunyalarang (Ratu Parung, mengambil nama dari ayahnya). Karena menikah dengan Ratu Sunyalarang, Raden Ranggamantri mempunyai gelar Sunan Parunggangsa(Sunan Parung, sama dengan mertuanya), kelak diberi gelar Pucuk Umum oleh Susuhunan Jati (Syekh Syarief Hidayatullah), beliau dipercaya menyebarkan syiar islam di wilayah Talaga. Baik Susuhunan Jati, ataupun Raden Ranggamantri adalah sama sama cucu Prabu Siliwangi, Raden Ranggamantri adalah anak Prabu Mundingsari Ageung, cucu Prabu Siliwangi dari istrinya bernama Istri Rajamantri (Padwawati) anak dari Prabu Gajah Agung, Sumedang Larang. Sedangkan Sunan Gunungjati anak Lara Santang cucu Prabu Siliwangi dan Subang Larang.
  2. Pucuk Umum di Sumedang Larang, adalah anak Sunan Corendra, Talaga dan Ratu Sintawati, Sumedang Larang, bernama Setyasih yang kelak menikah dengan Pangeran Santri, Ratu Setyasih ini mempunyai gelar Ratu Pucuk Umum juga, berarti antara Ratu Talaga dan Ratu Sumedang Larang adalah saudara seayah, berdasarkan fakta ini Raden Ranggamantri/Parunggangsa yang juga mempunyai gelar Pucuk Umum juga tidak diragukan lagi adalah islam.
  3. Pucuk Umum, Banten, Prabu Siliwangi dari istri Kentring Manik, mempunyai anak Prabu Surawisesa penerus raja Pajajaran, Adipati Suranggana, penguasa Banten Girang, dan Adipati Surosowan, penguasa Banten pesisir. Baik adipati Suranggana ataupun sang Surosowan, sama sama mempunyai gelar Pucuk Umum. Dalam sejarah yang ditulis sejarawan Prof Yoseph Iskandar bersumber naskah Wangsakerta, disebutkan bahwa Adipati Suranggana/Pucuk Umum, Banten Girang adalah murid Syekh Ali Rahmatullah (Sunan Ampel), ketika itu Sunan Ampel dalam perjalanan dari Campa ke Jawa Timur, singgah di Banten, kedatangan beliau diterima dengan hormat oleh penguasa Banten, pesisir Sang Surosowan dan Banten Girang, sang Suranggana. Dari fakta ini sang Suranggana/Pucuk Umum Banten, Girang, adalah orang banten pertama yang memeluk agama islam, dari adipati Suranggana ini mempunyai anak dikenal dengan nama Ki Mas Jong dan Agus Ju, merupakan makam yang sering diziarahi umat islam di Banten, Girang, makam di Banten Girang, tokoh yang membantu Sultan Maulana Hasanudin menyebarkan agama islam di tatat Banten, dan makam kedua tokoh ini adalah salah satu makam yang sering diziarahi umat islam. Artinya Sang Suranggana adalah masih terhitung kakek dari Sultan Maulana Hasanudin juga sudah memeluk agama islam jauh sebelum kedatangan Sunan Gunung Jati, sebab Sang Suranggana adalah saudara seayah dengan Pangeran Cakrabuana dan Subang Larang, yang merupakan Ua dan Ibu dari Susuhunan Jati. Kemudian dari Sang Surosowan mempunyai anak beranama Aria Surajaya, dan Nyai Kawung Anten, kelak Nyai Kawung Anten menikah dengan Sunan Gunung Jati dan melahirkan putra Maulana Hasanuddin, Sultan Banten I, berarti pernikahan antara Sunan Gunung Jati dan Nyai Kawung Anten adalah pernikahan sama sama cucu Prabu Siliwangi/Sri Baduga Maharaja/Jayadewata yang bukan hanya menyatukan keturunan Subang Larang dan Nyai Kentring Manik, tetapi juga menyatukan keturunan Prabu Wastukencana, lewat anaknya Prabu Niskala Dewa, Galuh (ayah Prabu Siliwangi), dan Prabu Susuk Tunggal, Sunda (ayah Kentring Manik), secara gen/darah Sultan Maulana Hasanudin adalah pewaris Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, dan Prabu Wastu Kencana.
Keturunan Raden Ranggamantri dan Ratu Sunyalarang


Pernikahan Raden Ranggamantri dan Ratu Sunyalarang (Ratu Parung), mempunyai 5 orang anak, mereka itu adalah :
  1. Prabu Haurkuning, mempunyai kekuasaan di Talaga yang selang kemudian di pindah ke Ciamis, kelak keturunan dia banyak yang menjabat sebagai Bupati di Ciamis.
  2. Sunan Wanaperih/Aria Kikis, memegang tampuk kekuasaan di walangsuji, disebut Wanaperih karena sesuai kesepakatan keraton Ciburang, beliau harus mengasingkan diri/khalwat di hutan, Wana = hutan, Perih = prihatin, kelak keturunan bukan hanya menjadi Pemimpin/Bupati di Subang, Purwakarta, Karawang, Cianjur, Sukabumi, Bogor, tetapi sebagai pendakwah/penyebar islam yang handal di wilayah wilayah itu, bahkan sampai batavia/jakarta.
  3. Dalem Lumaju Agung di kawasan Maja.
  4. Dalem Panuntun di Majalengka
  5. Dalem Panaekan dulunya dari Walangsuji kemudian berpindah-pindah menuju Riung Gunung, sukamenak, nunuk Cibodas dan Kulu






Sunan Wanaperih/Pangeran Salingsingan/Raden Aria Kikis

Adalah anak kedua dari Raden Ranggamantri/Parunggangsa/Pucuk Umum dengan Ratu Sunyalarang, beliau memegang tampuk kekuasaan di walangsuji, selain seorang pendakwah yang handal, beliau terkenal ketika konflik Talaga dengan Cirebon/Demak, ketika itu beliau dengan pasukan kecil dan persenjataan minim banyak menghancurkan pasukan Cirebon/Demak dan berhasil memukul mundur pasukan Cirebon/Demak. Berikut kutipan Senapati Aria Salingsingan/Aria Kikis dari wipedia :



Hubungan Demak dan Cirebon[sunting sumber]

Diawali dangan ikut campurnya Demak untuk menarik upeti dari Talaga melalui Cirebon, sedangkan kondisi rakyat Kerajaan Talaga yang sangat memerlukan perhatian pemerintah (lagi susah), akhirnya permintaan Cirebon dan Demak untuk menarik upeti dari Talaga "ditolak". Selanjutnya, dengan tiba-tiba saja pasukan Cirebon yang dibantu Demak menyerang Talaga. Dengan demikian terjadilah peperangan hebat antara Pasukan Talaga yang dipimpin langsung oleh Senopati Aria Kikis melawan pasukan penyerobot dari Cirebon dan Demak. Di medan laga sekalipun prajurit-prajurit Kerajaan Talaga yang dibantu ketat oleh puragabaya serta pendekar-pendekar dari padepokan-padepokan dan pesantren-pesantren Islam itu jumlah pasukan dan senjatanya lebih kecil dibanding jumlah serta kekuatan para aggresor, akan tetapi pasukan Talaga dengan penuh semangat dan patriotisme tetap mengadakan perlawanan. Dengan teriakan dan gaung Allahu Akbar, serentak pasukan Talaga dengan kecepatan dan kesigapan yang luar biasa menerjang lawannya dan terus menerus mengkikis habis para aggressor yang datang menyerang tanpa kesopanan dan tatakrama itu. Syukurlah bahwa akhirnya kekuatan para penyerobot itu dapat dilumpuhkan dan semua pasukan Cirebon dan Demak dapat diusir keluar dari wilayah Kerajaan Talaga.



Kesepakatan Keraton Ciburang

Karena peristiwa itu Kanjeng Sinuhun Susuhunan Cirebon, Syarif Hidayatullah serta merta datang ke Talaga dan disambut secara khidmat dan hormat oleh Pangeran Satyapati Arya Kikis, Senapati Kerajaan Talaga, Sang Sunan Wanaperih; tidak urung dengan mendapatkan penghormatan besar dari para prajurit, puragabaya, para pendekar dan rakyat kerajaan Talaga serta Galuh Singacala. Sesuai dengan kesepakatan pada musyawarah di Keraton Ciburang yang diselenggarakan oleh para Raja dari Galuh beberapa waktu yang silam, yang menyatakan bila Kanjeng Waliyullah sendiri mengucapkan titahnya, mereka semua akan tumut kepada Kanjeng Sinuhun Cirebon, Syarif Hidayatullah. Ternyata kesepakatan di Keraton Ciburang itu dengan takdir Allah terkabul juga. Pada saat itulah Kanjeng Sinuwun Sunan Gunung Jati Cirebon bersabda; Bahwa peperangan itu sungguh ditakdirkan Allah; tetapi bukan merupakan perang agama, Terjadinya perang Talaga hanya karena tindakan keliru pasukan Cirebon dan Demak. Dalam riwayat lain berkata : “Perang dengan telaga berawal dari masalah sepele, yaitu perselisihan antara Demang Talaga dan Tumenggung ( Caruban ) Kertanegara akibat salah paham. Mereka berkelahi dan Demang Talaga terbunuh dalam perkelahian itu. Kematian Demang Talaga ternyata telah membuat marah Yang Dipertuan Talaga, Prabu Pucuk Umun, dan putera mahkota, Sunan Wanaperih (Pangeran Salingsingan / Raden Aria kikis) . Kabarnya, mereka dihasut oleh Rsi Bungsu, yang menuduh peristiwa tewasnya Demang talaga itu didalangi oleh yang Dipertuan Caruban. Lalu, pasukan Talaga disiapkan untuk menyerbu wilayah Caruban.”. Kemudian Sinuwun Cirebon mendamaikannya dan Sinuwun Syarif Hidayatullah mengijinkan kepada Pangeran Aria Kikis untuk beruzlah dan berkholwat (riyadhah dan mujahadah) di kampungnya yaitu di Leuweung Wana yang selanjutnya disebut Wanaperih, dengan hasrat untuk mendalami hakekat ajaran Agama Islam sedangkan kerajaan Talaga tetap berdiri secara mandiri, adapun kepemimpinannya diayomi oleh Kanjeng Waliyullah, Sunan Gunung Djati.

Kejadian di atas terjadi sekitar tahun 1550 M, ketika semua rakyat Kerajaan Talaga sudah memeluk agama islam.

Sampai saat ini penulis belum mengetahui siapa nama istri Sunan Wanaperih, tetapi dari berbagai sumber beliau mempunyai anak sbb :

  1. Dalem Cageur
  2. Dalem Kulanata
  3. Apun Surawijaya atau Sunan Kidul
  4. Ratu Radeya menikah dengan Arya Sarngsingan
  5. Ratu Putri menikah dengan Sayid Faqih Ibrahim lebih dikenenal Sunan Cipager
  6. Dalem Wangsa Goparana, berpindah ke Sagalaherang, beliau dan keturunannya penyebarankan agama islam di wilayah Sumedang, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Cianjur, Bogor, sampai Batavia/Jakarta. Salah seorang anaknya bernama Rd Dalem Aria Wiratanudatar (Dalem Cikundul) adalah disamping seorang juru dakwah/penyebar agama islam, beliau juga adalah pendiri Cianjur yang terbebas dari dari kekuasaan Mataram, Sumedang Larang, dan VOC/Belanda. Dalem Cikundul, diangkat oleh para pemimpin Cianjur, Sukabumi, Bogor, sebagai Raja Gagang, artinya beliau penerus kerajaan Pajajaran di wilayah tengah. Keturunannya banyak menjadi ulama besar diantaranya adalah Syekh Yusuf, (Baing Yusuf) di Kaum, Purwakarta, yang merupakan guru ulama penulis kitab terkenal di mancanegara/mendunia yaitu Syekh Nawawi, Albantani, makam Baqi, Mekkah. Ulama lain yang masih keturunannya adalah KH Abdullah Bin Nuh, ulama Cianjur ini juga selain tokoh kemerdekaan, juga terkenal di mancanegara, raja Yordania, pernah bertandang ke rumahnya di Bogor, untuk meminta do'a khusus. Ketika wafat beberapa dubes negara Islam banyak datang untuk bertaziah.

Sunan Waparerih wafat sekitar tahun 1590 M, dan dimakamkan di desa Kagok, Kecamatan Banjaran, Majalengka

makam Sunan Wanaperi/Aria Salingsingam/Aria Kikis, Desa Kagok, Kec Banjaran, Majalengka


pintu masuk ke makam Sunan Wanaperih

ribuan peziarah pada saat haul Sunan Wanaperih

haul  Sunan Wanaperih bukan hanya dihadiri dari pulau jawa tapi dari luar juwa









bersambung......