Selasa, 15 Oktober 2013

Apakah betul pendiri Majapahit dari sunda ?

Berita atau artikel yang ditulis dalam http://bataviase.co.id/node/150855, tertanggal 30 Maret 2010 menuturkan bahwa Keturunan Sunda juga menjadi raja di Majapahit.

Berikut adalah petikan artikel tersebut  :
" ........ Sebagian mereka tinggal bersama keluarga raja Majapahit dan keluarga-keluarga keturunan Sunda yang tinggal di Majapahit semenjak masa Sri Kertarajasa -Raden Wijaya atau Jaka Sesuruh yang berasal dari Kerajaan Sunda- merintis berdirinya Kerajaan Majapahit ........"

Point inti dari petikan artikel tersebut adalah Raden Wijaya atau Jaka Sesuruh yang berasal dari Kerajaan Sunda, hal ini jelas-jelas SALAH BESAR dan dibuat-buat. Penulis artikel tersebut sepertinya menggunakan referensi Kidung Sundayana, tetapi tidak memperhatikan prasasti-prasasti jaman Majapahit maupun apa yang tertulis di dalam kakawin Negarakertagama.

Kakawin Negarakertagama pupuh XLVI/2 dijelaskan : " ... . Narasingha(murti) menurunkan Dyah Lembu Tal, sang perwira yuda, dicandikan di Mireng dengan arca Budha". Selanjutnya dalam Pupuh XLVII/1 dijelaskan : " Dyah Lembu Tal itulah bapa Baginda Nata (Wijaya), dalam hidup atut runtut sepakat sehati .....". Dari uraian kedua pupuh tersebut dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa Sanggramawijaya atau yang akrab disebut Raden Wijaya adalah putera Dyah Lembu Tal, sedangkan Dyah Lembu Tal adalah putera Narasinghamurti dari Singosari (Tumapel), yang saat ini berada di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Fakta lain adalah apa yang tertulis dalam Prasasti Kudadu bertarikh 1294 M yang menyebutkan bahwa Negara baru Majapahit dianggap sebagai lanjutan kerajaan Singasari yang telah runtuh pada tahun 1292, sebagai bukti kesetiaan pendirinya kepada para raja leluhur di Singasari. Selanjutnya, Sanggramawijaya sendiri mengakui bahwa ia adalah keturunan Singasari, putera Dyah Lembu Tal, cucu Narasinghamurti dan menantu raja Kertanegara.

Dengan demikian apa yang tertulis dalam artikel bataviase.co.id tersebut di atas adalah salah besar dan sama sekali tidak berdasar fakta-fakta sejarah yang ada.

bahasan di atas :
Sayang sekali tulisan negarakertagama di atas tidak menulis bahasa aslinya (jawa kuno), artinya dengan hanya menulis terjemah bisa merubah arti. Berita tentang R Wijaya dari sunda pertama kali diketemukan dalam naskah carita parahiyangan yang dibuat kira kira tahun 1580-an setelah pajajaran runtuh, naskah ini diketemukan di daerah galuh, orang yang pertama kali meneliti adalah K.F. Hole (1881), CM. Pleyte, R.M.Ng. Purbacaraka (1921), H. ten Dam (1957), J. Noorduyn (1962, 1965), W.J. van der Meulen (1966). Raden Wijaya adalah anak dari Prabu Jayadarma dari kerajaan sunda, sedangkan ibunya adalah Dyah Lembu Tal anak dari Mahisa Campaka/Narasinghamurti anak dari Mahisa Wongateleng anak dari Ken Arok. Berarti dari garis ibu R Wijaya adalah keturunan ke 4 dari Ken Arok. Sedangkan ayahnya adalah Rakryan Jayadarma, putra Prabu Guru Darmasiksa raja Kerajaan Sunda-Galuh yang memerintah tahun 1175-1297, Rakryan Jayadarma menjadi putra mahkota yang berkedudukan di Pakuan. Akan tetapi ia meninggal dunia karena diracun oleh musuh. Sepeninggal suaminya, Dyah Lembu Tal membawa Raden Wijaya pergi dari Pakuan. Keduanya kemudian menetap di Singhasari, negeri kelahiran Dyah Lembu Tal. Dalam Naskah Carita Parahiyangan ada 2 keturunan raja sunda yang menjadi raja di jateng/jatim, yaitu Sanjaya di Mataram Hindu, dan R Wijaya di Majapahit. Kembali ke naskah dalam Nagarakrtagama (atau lebih tepatnya disebut kakawin Desa Warnnana) wirama (pupuh) 46 bait kedua, tertulis"...lawan sri nara singha murttyaweka ri dyah lebu tal susrama, sang wireng laga sang dhinarmma ri mireng boddha pratista pageh" (...dengan sri Nara Singamurti ayah Dyah Lembu Tal yang terpuji, pemberani dalam pertempuran diabadikan di mireng dalam wujud arca Budha). dalam wirama (pupuh) 47 bait pertama, termaktub "dyah lembu tal sira maputra ri sang narendra" (Dyah Lembu Tal berputra baginda raja/Kertarajasa)
dalam wirama (pupuh) 46 itu tidak disebutkan apakah Dyah Lembu Tal seorang laki-laki atau perempuan. kata-kata "sang wireng laga..." (sang pemberani dalam pertempuran...) jika dicermati bukanlah merujuk pada sosok Dyah Lembu Tal tetapi pada sosok Sri Nara Singamurti, ayah dari Lembu Tal. sedangkan dalam wirama (pupuh) 47 hanya disebutkan bahwa Dyah Lembu Tal berputra Kertarajasa. jadi Nagarakrtagama tidak menjelaskan Dyah Lembu Tal itu seorang laki-laki atau seorang perempuan.
mengapa Prapanca tidak memberi uraian yang lugas soal Dyah Lembu Tal? Dalam (wirama) pupuh 46 dan 47, Prapanca memang ingin bercerita soal garis darah prabu kertarajasa (raden Wijaya). garis darah raja-raja. prabu pertama Wilwatikta itu/Kertarajasa (raja) merupakan keturunan nara Singamurti (raja/bersama dengan Wisnuwardana). jadi seolah Dyah lembu tal dilewati saja karena ia bukan raja penguasa.
jika semisal memang Dyah Lembu Tal adalah perempuan, mengapa Prapanca tidak menyebutkan siapa ayah Raden Wijaya? analisisnya jika mengacu pada Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara bahwa ayahnya adalah Rakeyan Jayadarma dari Sunda, maka tidak mungkin Prapanca akan menyebut sesuatu tentangnya. mungkin sekali "Sunda" adalah sesuatu yang sensitif mengingat Prapanca juga tidak menyebut peristiwa Pasunda Bubat sama sekali. jadi nama Rakeyan Jayadarma (sebagai orang Sunda) tak mungkin dimasukkan Prapanca dalam kakawin puja-pujinya itu.
Secara umum memang tafsiran atas "sang wireng laga" itu selalu mengacu pada Lembu Tal, tetapi hal ini bukan tafsir final. bukan sebuah fakta yang validitasnya telah teruji benar. banyak tafsir soal isi dalam kakawin desa warnnana yang masih perlu diberdebatkan lagi. permasalahannya kita sering membaca kakawin desa warnnana dalam bentuk sudah terjemahan, semestinya kita membaca masih dalam bentuk bahasa aslinya atau setidaknya telah diubah dalam bahasa Jawa kawi. kembali ke permasalahan awal, memang betul bahwa raden Wijaya itu keturunan Arok-dedes. ia memang justru darah murni Arok Dedes, bukan seperti penguasa-penguasa Singosari terdahulu yang didominasi konflik keturunan Tunggul Ametung-dedes dengan Arok-Umang tetapi bahwa Wijaya keturunan Arok hal itu tidak bisa menjadi bukti untuk mengambil kesimpulan bahwa Dyah Lembu Tal adalah Laki-laki karena dihubungkan dengan garis darah laki-laki yang dianut di Jawa. prasasti Balawi bukanlah rujukan valid untuk membuktikan bahwa Lembu Tal adalah laki-laki. prasasti itu keluar demi legitimasi kekuasaan dan tentunya telah disesuaikan kepentingan, sama halnya misalnya Balitung membuat prasasti Mantyasih yang menyebut pangkal penguasaan tanah Jawa (tengah) pada sosok Sanjaya. itu juga demi legitimasi. kenapa Wijaya (jika menganut tafsir bahwa ia keturunan Sunda )tidak menyebut sama sekali bahwa ia keturunan Sunda, hal ini juga bisa dianalisa bahwa jelas ia tak mungkin menyebut ia putra rakryan jayadara dari Sunda padahal ia mendirikan kerajaan di Jawa Timur. Wijaya jelas ingin menunjukkan bahwa ia pewaris sah negeri Singosari yang telah runtuh. untuk itulah ia menyebut Arok sebagai pangkal garis darahnya. sangat riskan ia menyebutkan sesuatu yang "berbau" Sunda kala itu karena mungkin sekali beberapa bawahannya akan "mempertanyakan" kekuasaannya atas tanah jawa (bagian timur). hal ini bisa dicontohkan (jika menarik waktu jauh ke belakang lagi)pada kasus Airlangga, menantu Darmawangsa, yang ikut terkena dampak "pralaya". kala Airlangga selamat dan mendirikan kerajaan Kahuripan, ia juga menarik garis pangkal pada "trah" Darmawangsa yang masih keturunan Mpu Sendok itu (lihat pada nama abiseka Airlangga saat diangkat jadi raja "Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa"). Airlangga tidak mungkin akan menyebutkan bahwa ia putra dari wangsa Marwadewa dari Bali. Hal itu juga demi legitimasi kekuasaan. jadi penyebutan nama raja (pendahulu)sebagai pangkal dari kekuasaan seorang raja itu selalu disesuaikan dengan kepentingan, dimana sang raja itu mendirikan kerajaannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar