Jumat, 21 Agustus 2009

Manaqib Ama Hasan Basri

Ama Hasan Basri dilahirkan dari Ayah bernama Sanarah dan Ibu Hj Jasmin, sang Ayah merupakan keturunan langsung dari Ki Buyut Dayaroh atau Syekh Dayaroh yang merupakan patih Banten dan makamnya dijadikan penjiarahan di Pariu, Parakan, Banten, sedangkan ibunya keturunan langsung dari Syekh Maulana Mansyur, Cikadueun, Banten, seorang ulama besar di jaman Sulton Banten, dan makamnya merupakan penjiarahan orang dari mana mana.
Ama Hasan Basri memulai kariernya sebagai guru sekolah di tahun 1930-an, beliau ditugaskan di Cibaliung yang sudah berbatasan dengan Ujung Kulon, saat inipun untuk menempuh perjalanan ke sana sangat sulit, apalagi ketika jaman itu, disini kita bisa melihat betapa cerdas, ulet dan sabarnya beliau. Karena pada jaman Belanda untuk sekolah saja sangat sulit apalagi bisa menjadi guru, pasti ada sesuatu yang sangat istimewa dari beliau. Dan ketika perjalanan hidupnya menjadi seorang guru, Ama Hasan Basri bertemu dengan Ama Satrip yang telah menjadi kepala sekolah saat itu.
Ama Satrip-lah yang pertama memperkenalkan ilmu PS Partisan Siliwangi kepada Ama Hasan Basri, ibu Satrip pernah bercerita bahwa Ama Hasan Basri masuk PS tahun 1939. Ama Satrip berasal dari Cipeucang, Banten, tetapi ketika itu sedang bertugas sebagai kepala sekolah di Ujung Kulon.
Ama Hasan Basri pernah bercerita bahwa beliau ketika pertama masuk PS, diperintahkan oleh Ama Satrip, untuk membaca solawat sebanyak 100 kali. Setelah dididik oleh Ama Satrip, Ama Hasan Basri dikenalkan kepada Ama Raden Puradireja, tidak lama itu Ama Hasan Basri-pun telah ijin untuk melatih.
Ketika pecah perang kemerdekaan, Ama Hasan Basri membantu pasukan rakyat dari Banten untuk menggempur Jakarta yang dikuasai tentara NICA, dengan menggunakan kereta api dari Banten, rupanya ada mata mata yang mencium hal ini, sehingga ketika kereta api mencapai Serpong, gerbong tempat lascar Banten digembur oleh tentara pro NICA, semua laskar Banten di gerbong itu meninggal, hanya kebesaran Allah-lah yang menyelamatkan Ama Hasan Basri, dengan cara melompat dari jembatan sungai cisadane yang tingginya mencapai puluhan meter, dan ketika mencapai bawah sungai cisadane yang sedang meluap, ada sesosok benda yang membawa Ama Hasan Basri ke tepian sungai, ternyata benda itu adalah buaya. Ama Hasan Basri-pun pernah berjuang dengan Ama Raden Puradireja melawan NICA sampai ke Tasik Malaya.
Setelah selesai perang kemerdekaan, Ama Hasan Basri, tugasnya sebagai guru dipindahkan ke Jakarta, karirnya cukup cemerlang sehingga beliau diangkat kepala sekolah, dan tidak lama kemudian diangkat menjadi penilik, sebuah jabatan yang sangat tinggi dalam dunia pendidikan dan sangat sulit untuk mendapatkan jabatan ini, disini kita bisa melihat bagaimana cerdas, dan uletnya beliau dalam meniti karir, cerdas/patonah, jujur/amanah merupakan modal dasar menjadi seorang pemimpin, dan 2 modal ini sudah dimiliki oleh guru kita. Di Jakarta, Ama Hasan Basri tinggal di Cipinang, dan disinipun beliau mempunyai banyak pengikut, sehingga para murid itu sering berlatih silat di rumahnya, dank arena rumah beliau sering dipakai untuk berlatih silat, maka daerah tempat tinggal Ama Hasan Basri disebut Cipinang Latihan, dan sampai sekarangpun masih tetap diberi nama Cipinang Latihan.
Ketika pemberontakan PKI, merupakan target pertama untuk diculik dan dibunuh oleh PKI, kabarnya PKI telah menyiapkan kuburan untuk Ama Hasan Basri di Prumpung. Beliau dijadikan target pembunuhan karena dianggap sebagai musuh PKI. Karena Ama Hasan Basri sangat konsisten dengan ajaran PS yang dianutnya sehingga PKI menganggap sebagai musuh utama. Ama Hasan Basri dikategorikan sebagai golongan ulama/agama yang bisa menghambat perkembangan PKI. Hanya kebesaran dan keagungan Allah SWT-lah, beliau bisa diselamatkan. Berkali kali PKI mencoba membunuh Ama Hasan Basri, berkali kali juga Ama Hasan Basri selamat.
Begitu gigih beliau mengembangkan dan mengajarkan PS kepada murid muridnya, segala rintangan dan halangan dapat dilaluinya. Dari tangan beliau pula lahirlah pelatih – pelatih PS, seperti :
1. Ama Yusuf Nasedin, Cilendek
2. Bapak Soleh Nasedin, Cilendek
3. Bapak Suminta, Cilendek
4. Bapak H Abbas Heriz, Batutulis
5. Bapak H Yusuf Mukti, Cilendek
6. Bapak Syafei, Gunung Batu

Dan banyak lagi pelatih yang telah dilahirkan oleh beliau, Ama Hasan Basri meninggal tanggal 17 Oktober 1988 atau 6 Rabiul Awal/Maulud 1409 H, beliau dimakamkan di Parakan, Kec Banyumas, Pandeglang, Banten.

Ama Hasan Basri, Sagalaherang, 1964
 

4 komentar:

  1. Ok dech....
    but, untuk wafat ada ralatan ya a...
    tanggal 10 November 1988 hari senin, pukul 04:35
    mung sakitu ti kakang prabu...
    wassalam....

    anak dan cucu ama "Hasan Basri"...

    BalasHapus
  2. 1 Lagi lupa a..
    gimana kalo sejarah ama hasan basri ditambahkan dengan keturunannya....
    berapa anaknya..
    dan sebagainya...
    dan pada saat di jakarta perjuangannya di daerah mana saja???

    Terima kasih...

    BalasHapus
  3. Shufrite Blog, makasih koreksinya, ayo dukung kembalikan organisasi pejuang siliwangi indonesia ke tujuan semula

    BalasHapus
  4. Berarti istri dari Ama Hasan Basri ini adalah turunan Raden Muhamad Arsjad Puradireja Bin KH.Tb Abdur Rochim Bin Tb.Djalam Bin KH.Tb Saidin (Cidahu) Bin KH.Tb.Abu Bakar (Cidahu)
    saudara dari Raden Muhamad Arsjad ini Ratu,Nuraeni, Ratu sopiah, R.Moh Amin, R.Udjib, R.abd.Halim, R.Romlah, R.Muh.Yusuf, R.Muh.Musa, R.Muh,Husein... untuk turunan mereka semua lebih banyak di Cililtan, Cibarusah dan Loji Karawang.

    BalasHapus